Psikolog Sairah Ungkap Dampak Fatherless pada Anak Keluarga

Lina F. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 44 dibaca
Bisik.id
Psikolog Sairah Ungkap Dampak Fatherless pada Anak Keluarga

Gambar atau konten salah?

Fenomena fatherless sering disebut karena peran penting figur ayah dalam membentuk karakter anak. Seorang psikolog klinis, Sairah, menjelaskan apa arti sebenarnya istilah ini dan bagaimana cara mengatasinya.

“Secara psikologis, Fatherless itu tidak adanya figur ayah, bukan berarti secara fisik ayahnya tidak ada, kadang-kadang walaupun ada secara fisik tapi tidak hadir secara emosional, maka itu juga dikatakan fatherless,” jelasnya ketika diwawancarai pada 22 April 2026.

Sairah menambahkan bahwa kondisi ini muncul bila ayah tidak terlibat dalam pengasuhan. Kurangnya komunikasi dan kedekatan juga dapat membuat anak merasa tidak memiliki figur ayah. Ia menegaskan, “Juga bisa berarti ayah ada secara fisik tapi tidak terlibat di dalam pengasuhan. Kemudian minim komunikasi atau kedekatan dengan anak-anak atau tidak menjalankan fungsinya sebagai figur ayah. Jadi anak yang punya ayah tapi kehilangan peran ayah secara emosional itu juga termasuk dalam kategori fatherless.”

Menurut Sairah, peran ayah dan ibu sangat memengaruhi pencegahan penyimpangan dan kenakalan remaja. Fatherless berdampak pada perkembangan emosional anak. Ia menyebut, “Biasanya fenomena-fenomena terjadinya penyimpangan pada anak maupun pada kenakalan remaja, itu biasanya peran keduanya, baik mother maupun father itu yang kadang-kadang kurang berperan. Sehingga fenomena motherless ataupun fatherless itu terjadi dan membuat dampak kepada perkembangan anak secara emosional. Adanya perasaan tidak aman atau insecure attachment.”

Selain itu, anak yang kekurangan figur ayah rentan kesulitan dalam mengatur emosi. Sairah menekankan, “Meskipun kepribadian juga ditentukan oleh genetik, pola asuh dan faktor lingkungan juga berperan penting dalam pembentukan karakter anak.” Ia melanjutkan, “Kemudian mudah merasa ditolak atau tidak cukup berharga, lalu kesulitan dalam meregulasi emosi. Kemudian secara karakter, nah itu juga. Nah, karakter kalau dibilang kepribadian itu ditentukan tidak hanya genetik tapi juga faktor lingkungan, pola asuh.”

Ketika figur ayah hilang, anak cenderung mencari pengganti di orang lain. Sairah menjelaskan, “Akhirnya ketika dia tidak mendapatkan figur ayah atau figur mama tadi, cenderung mencari figur pengganti. Kalau figur penggantinya tidak pas, malah menjadikan role model yang tidak baik. Kesulitan dalam mempercayai pada orang lain, kemudian terjadinya relasi-relasi yang tidak sehat.”

Kurangnya peran ayah juga membuat anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sairah menegaskan, “Anak yang kekurangan peran ayah ini akan rentan mengalami kesulitan dalam penyelesaian diri terhadap lingkungan. Hal ini dapat berakibat meningkatkan risiko kenakalan pada remaja.” Ia menambahkan, “Kemudian secara perilaku rentan pada risiko maladjustment atau penyesuaian dirinya terhadap lingkungan, pasangan, tempat kerja maupun teman-teman, itu juga akan menimbulkan dampak-dampak gitu. Karena itu tadi, pentingnya figur bapak maupun figur ibu berperan aktif di dalam rumah sedini mungkin itu bisa meminimalkan risiko-risiko terjadinya kenakalan pada remaja.”

Namun, Sairah mengingatkan bahwa dampak kurangnya figur ayah tidak sama bagi semua orang. Ia berkata, “Nggak, meskipun memang berpengaruh itu tergantung individunya bagaimana dia bisa merespons kondisi.”

Untuk yang mengalami fenomena fatherless, Sairah menyarankan mencari figur pengganti yang tepat, misalnya anggota keluarga. Ia mencontohkan, “Kita sendiri yang berusaha untuk mencari figur pengganti bisa didapatkan dari pamannya, kakeknya yang setidaknya bisa, walaupun nggak bisa menggantikan seratus persen tapi paling nggak figur-figurnya itu bisa dirasakan.” Ia juga menyebutkan pasangan menikah sebagai opsi, “Kemudian bisa juga dari kalau yang ini dengan pasangan kalau sudah menikah ya, itu akan lebih oke sehingga traumatic-traumatic masa lalunya itu tidak diturunkan pada anak-anak, tapi bisa diperbaiki.”

Selain keluarga, figur pengganti dapat ditemukan di guru atau tokoh inspiratif. Sairah menekankan pentingnya belajar pola relasi sehat, serta melatih regulasi emosi dan komunikasi asertif. Ia menutup, “Nah, itu pentingnya mencari figur-figur pengganti yang sehat, bisa juga dari guru atau mentor, anggota keluarga, atau tokoh-tokoh inspiratif. Belajar dari pola relasi yang sehat, melatih bagaimana caranya meregulasi emosi, melatih komunikasi asertif.”

Dengan memahami apa yang dimaksud fatherless dan dampaknya, orang tua serta pendidik dapat lebih proaktif menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan emosional dan karakter anak. Menyediakan figur pengganti yang positif, serta mengajarkan keterampilan regulasi emosi, dapat membantu anak mengatasi kekurangan figur ayah dan mencegah risiko kenakalan remaja.

fatherlessfigur ayahkepribadian anakkenakalan remajaregulasi emosifigur penggantipola asuh

Komentar

Memuat komentar...