Puan Maharani: Dampak Perang AS-Israel Terasa di Indonesia

Sinta R. · 1 min baca · 1 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
Puan Maharani: Dampak Perang AS-Israel Terasa di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Puan Maharani menjabat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada 21 April 2026, menyoroti dampak perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang berlangsung lama. Ia menegaskan bahwa konflik ini menekan perekonomian global, menaikkan harga energi, dan memicu inflasi di banyak negara.

Menurut Puan, efek perang tidak hanya dirasakan di luar negeri. Di Indonesia, kenaikan harga minyak menurunkan nilai tukar rupiah, memicu lonjakan harga plastik, dan mengganggu alur investasi.

“Dampak tersebut telah mulai dirasakan dalam perekonomian nasional, antara lain terkait dengan harga bakar minyak, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US dollar, kenaikan harga kemasan berbahan plastik, terganggunya rantai pasok komoditi, ketidakpastian investasi global,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa meski perang terjadi jauh dari Indonesia, dampaknya langsung terasa di dalam negeri melalui harga, daya beli, dan stabilitas ekonomi.

“Dampaknya langsung terasa di dalam negeri melalui harga, daya beli, dan stabilitas ekonomi,” jelas Puan.

Dalam pidatonya, Puan menekankan perlunya otoritas moneter dan fiskal mengambil kebijakan yang dapat menjaga perekonomian nasional tetap stabil. Ia berharap kebijakan tersebut juga dapat menguatkan perekonomian rakyat.

“Kondisi ini menuntut otoritas fiskal dan moneter mengambil kebijakan yang dapat menjaga perekonomian nasional berjalan dan masyarakat tetap memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan hidupnya,” pungkasnya.

Dengan menyoroti hubungan antara konflik global dan ekonomi domestik, Puan menegaskan pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang responsif. Dampak perang terlihat jelas pada harga energi, nilai tukar, dan daya beli masyarakat, menuntut tindakan cepat dari otoritas keuangan untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia.

Puan MaharaniPerang AS-IsraelHarga EnergiNilai Tukar RupiahInflasiKebijakan FiskalStabilitas EkonomiRantai Pasok Komoditi

Komentar

Memuat komentar...