Puasa Arafah 9 Zulhijah: Cara Praktis dan Manfaatnya

Iwan D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Puasa Arafah 9 Zulhijah: Cara Praktis dan Manfaatnya

Gambar atau konten salah?

Puasa Arafah adalah ibadah sunah yang diperingati setiap tanggal 9 Zulhijah. Pada hari itu, para jamaah haji berada di Padang Arafah untuk menunaikan wukuf, sementara umat Islam yang tidak haji dapat mengamalkan puasa ini sebagai bentuk ketaatan dan harapan akan ampunan.

Puasa ini tidak terpisah dari rangkaian ibadah 10 hari pertama bulan Zulhijah, yang dikenal sebagai hari-hari mulia dalam Islam. Sebelum memulai puasa Arafah, banyak yang menunaikan puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Zulhijah. Kedua puasa sering dijalankan secara berurutan, namun keduanya memiliki status terpisah dan tidak saling menjadi syarat.

Keutamaan puasa Arafah telah disebutkan dalam hadis riwayat Muslim. Rasulullah SAW menyatakan bahwa puasa ini dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. “Dan beliau (Rasulullah) ditanya mengenai puasa pada hari Arafah, maka beliau menjawab, 'Dia menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.' (HR Muslim)

Selain itu, hadis lain menegaskan harapan Nabi tentang puasa hari Arafah: “Aku berharap kepada Allah agar puasa hari Arafah dapat menghapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.' (HR Muslim)

Dalam konteks puasa, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan kehausan. “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan kehausan.” (HR An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah RA)

Untuk memulai puasa Arafah, umat Islam dianjurkan membaca niat sebelum fajar. Bacaan niatnya adalah: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلهِ تَعَالَى yang diartikan: “Aku berniat puasa sunnah Arafah esok hari karena Allah SWT.”

Berikut langkah-langkah praktis dalam melaksanakan puasa Arafah:

1. Melafalkan Niat Sebelum Fajar
Niat dapat diucapkan secara lisan atau hanya di dalam hati. Meskipun puasa Arafah bersifat sunah, niat tetap menjadi syarat sahnya ibadah. Niat dapat dilafalkan kapan saja selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

2. Sahur Sebelum Imsak
Sahur tetap dianjurkan meskipun puasa bersifat sunah. Mengonsumsi makanan sebelum imsak membantu tubuh tetap kuat selama menahan lapar dan haus. Selain itu, sahur memberi waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan pola makan yang lebih ringan.

3. Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa
Sejak fajar hingga matahari terbenam, umat Islam harus menghindari makan, minum, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa. Namun, esensi puasa tidak hanya menahan lapar dan haus; menjaga ucapan, pandangan, dan perilaku juga penting agar pahala tidak sia-sia.

4. Menyegerakan Berbuka Puasa
Setelah azan maghrib, umat Islam dianjurkan segera berbuka. Membuka dengan kurma atau makanan manis membantu memulihkan energi dan menandai akhir puasa dengan cepat.

Beberapa orang bertanya apakah puasa Arafah dapat dilakukan tanpa puasa Tarwiyah. Menurut buku Pintar Agama Islam karya Abu Aunillah Al-Baijury, puasa pada 8 Zulhijah disebut puasa Tarwiyah, sedangkan puasa pada 9 Zulhijah adalah puasa Arafah. Karena keduanya merupakan ibadah sunah yang berdiri sendiri, tidak ada keharusan menunaikan Tarwiyah sebelum Arafah. Hal ini juga dijelaskan dalam buku Ibadah-ibadah Paling Terhormat Bagi Pelaku Maksiat Agar Taubat Nasuha karya Muhammad Nasrullah.

Namun, bagi para jamaah haji yang berada di Arafah pada siang hari, ada ketentuan khusus. Kitab Mughnii al-Muhtaaj Juz 2 menyebutkan bahwa jamaah haji di Arafah disunahkan untuk tidak berpuasa. Beberapa pendapat menilai bahwa puasa pada saat itu dapat membuat kondisi fisik jamaah melemah, mengingat mereka harus menahan diri selama prosesi wukuf di tengah cuaca yang tidak selalu bersahabat.

Oleh karena itu, bagi yang tidak sedang menunaikan haji, puasa Arafah tetap dianjurkan dan dapat dinikmati tanpa memerlukan puasa Tarwiyah sebelumnya. Bagi jamaah haji, sebaiknya mengikuti petunjuk yang ada dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan fisik selama ibadah haji.

Kesimpulannya, puasa Arafah memiliki keutamaan besar yang dapat menghapuskan dosa setahun lalu dan setahun yang akan datang. Melaksanakan niat, sahur, menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dan berbuka dengan cepat merupakan langkah-langkah penting. Meskipun puasa Tarwiyah tidak wajib sebelum Arafah, bagi jamaah haji disarankan untuk tidak berpuasa di Padang Arafah. Dengan memahami dan mengikuti tata cara ini, umat Islam dapat meraih pahala yang dijanjikan dan memperkuat hubungan spiritual mereka dengan Allah SWT.

Puasa ArafahZulhijahTarwiyahWukufDosaNiatSahurHaji

Komentar

Memuat komentar...