Puasa Qadha Ramadan vs Syawal: Bisa Gabung menurut Ulama

Mira T. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Puasa Qadha Ramadan vs Syawal: Bisa Gabung menurut Ulama

Gambar atau konten salah?

Kalender hijriah saat ini menunjukkan bahwa umat Islam berada di bulan Syawal, bulan yang langsung mengikuti bulan Ramadhan. Bulan ini dikenal dengan anjuran puasa sunnah enam hari, yang menjadi tradisi bagi banyak Muslim.

Bagi yang belum menuntaskan puasa Ramadhan, biasanya dianjurkan segera mengqadha. Namun, ketika bulan Syawal tiba, muncul pertanyaan: bagaimana bila seseorang ingin mengqadha puasa Ramadhan di bulan Syawal? Apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Syawal? Dan apakah ada bacaan niat khusus untuk qadha puasa Ramadhan di bulan Syawal?

Terdapat dua pandangan ulama yang berbeda mengenai hal ini. Ustaz Syam, yang sering membahas masalah ini di kanal YouTube Trans TV Official, menjelaskan dua aliran utama: pandangan mazhab Syafi'i dan pandangan mazhab Hambali.

Menurut mazhab Syafi'i, bila puasa qadha dilakukan pada waktu puasa sunnah, niat yang dilafazkan tetap puasa qadha. Ustaz Syam mengutip: “Kalau puasa Qadha harus jelas niatnya. Maka para ulama mengatakan, tentunya dalam i'anatut tholibin lebih dari satu ulama mengatakan, jikalau seseorang sudah berniat taiyin, sudah berniat jelas puasa, saya berniat mengganti puasa Ramadhan saya besok, nah itu sudah masuk puasa sunnahnya. Kalau dia lakukan misalnya di bulan Rajab, ayyamul bidh, atau di hari Kamis, dia cukup mengatakan saya niat puasa qadha Ramadhan besok, itu sudah masuk juga puasa Ayyamul Bidh, puasa Senin-Kamisnya,”

Sementara itu, mazhab Hambali menolak penggabungan. Ustaz Syam menyampaikan: “Tidak boleh menggabungkan dua niat dalam satu ibadah. Tidak diterima puasa sunnahnya seseorang jikalau mereka belum membayar qadha puasanya, ini dari kalangan Hanabilah,”

Meskipun perbedaan pendapat, bagi yang ingin mengqadha puasa Ramadhan di bulan Syawal, yang perlu dilafalkan hanyalah niat puasa qadha itu sendiri. Tidak ada bacaan niat khusus yang berbeda dari niat puasa qadha di waktu lain.

Berikut adalah bacaan niat puasa qadha Ramadhan, yang diambil dari laman Kementerian Agama Republik Indonesia: وَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ. Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Sementara itu, niat puasa Syawal, yang diambil dari buku “Yang Perlu Dilakukan Muslimah Sepanjang Tahun” karya Khayeera Indana Hulwah dan Aliyah Tsurayya, adalah: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى Nawaitu shauma ghadin 'an adai sittatin min syawwal lillahi ta'ala. Artinya: “Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta'ala.”

Dengan demikian, baik niat puasa qadha maupun niat puasa Syawal memiliki bentuk yang jelas dan terpisah. Jika seseorang memilih untuk mengqadha puasa Ramadhan di bulan Syawal, ia tetap harus melafalkan niat puasa qadha, sementara puasa Syawal dapat dilakukan secara terpisah jika diinginkan.

Kesimpulannya, hukum menggabungkan puasa qadha dengan puasa Syawal tergantung pada mazhab yang diikuti. Namun, secara umum, niat puasa qadha tetap dilafalkan, dan tidak ada bacaan niat khusus tambahan di bulan Syawal. Untuk memastikan ketaatan, sebaiknya konsultasikan dengan ustad atau ulama setempat.

puasa qadhapuasa syawalmazhab syafi'imazhab hambaliniat puasapenggabungan puasaKementerian AgamaUstaz Syam

Komentar

Memuat komentar...