Puasa Syawal: 6 Hari Bisa Berpisah, bukan Harus Berturut

Arif S. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 44 dibaca
Bisik.id
Puasa Syawal: 6 Hari Bisa Berpisah, bukan Harus Berturut

Gambar atau konten salah?

Puasa Syawal adalah amalan sunnah yang dilakukan setelah merayakan Idul Fitri. Banyak orang bertanya seberapa lama puasa ini dan apakah harus dilakukan berturut‑turut.

Durasi puasa Syawal menurut buku Kalender Ibadah Sepanjang Tahun oleh Ust Abdul Faqih Ahmad Abdul Wahid adalah 6 hari. Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menjelaskan: “Barang siapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seolah ia telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pelaksanaan puasa Syawal dimulai tepat setelah perayaan Idul Fitri, yaitu pada hari ke‑2 hingga ke‑7 Syawal. Idul Fitri tahun 2026 atau 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Umat Islam dapat memulai puasa sunnah ini pada 22 Maret 2026 dan berakhir pada 27 Maret 2026.

Apakah puasa Syawal harus 6 hari berturut‑turut? Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), puasa Syawal tidak wajib dilakukan secara berurutan. Imam al‑Nawawi menulis dalam karyanya al‑Majmu’ Syarh al‑Muhadzab:

قَالَ أَصْحَابُنَا يُسْتَحَبُّ صَوْمُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ لِهَذَا الْحَدِيثِ قَالُوا وَيُسْتَحَبّبُّ ان يصومها متتابعة فِي أَوَّلِ شَوَّالٍ فَإِنْ فَرَّقَهَا أَوْ أَخَّرَهَا عن أول شَوَّالٍ جَازَ وَكَانَ فَاعِلًا لِأَصْلِ هَذِهِ السُّنَّةِ لِعُمُومِ الْحَدِيثِ وَإِطْلَاقِهِ وَهَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ وداود

“Pengikut madzhab al‑Syafi'i (yang merupakan sahabatku dalam permasalahan fikih) memandang sunnah hukumnya berpuasa enam hari di bulan Syawal karena hadits di atas. Mereka juga berpendapat kesunnahan tersebut baiknya dilaksanakan secara berurutan di awal Syawal. Bila ada orang yang memilih melaksanakannya secara acak atau memilih berpuasa di akhir bulan Syawal, maka itu boleh‑boleh saja, dan orang tersebut dianggap mengamalkan inti sunnah Nabi karena mengacu pada hadits yang umum, tidak spesifik.”

Menurut laman NU Online, pelaksanaan puasa Syawal tanpa dipisah‑pisah atau bersambung lebih utama. Imam Abu Al‑Husain Yahya bin Abil Khair bin Salim Al‑Umrani Al‑Yamani menulis:

يُسْتَحَبُّ لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ أَنْ يَتَّبِعَهُ بِست مِنْ سَوَّالٍ وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يَصُوْمَهَا مُتَتَابِعَةً، فَإِنْ صَامَهَا مُتَفَرِّقَةً جاز

“Disunnahkan bagi orang yang puasa di bulan Ramadhan untuk meneruskan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal. Dan (praktik) yang dianjurkan, yaitu dengan berpuasa Syawal secara terus‑menerus, dan jika puasa dengan cara terpisah, maka diperbolehkan.”

Dengan demikian, umat Islam diperbolehkan melaksanakan puasa Syawal secara terpisah atau tidak berurutan selama masih dalam bulan Syawal. Menunaikan ibadah puasa enam hari secara berturut‑turut tetap dianggap lebih utama.

Niat puasa Syawal berbeda tergantung cara pelaksanaan. Berikut bacaan niatnya:

  • Niat puasa 6 hari berurutan
    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى
    Nawaitu shauma ghadin 'an adai sittatin min syawwal lillahi ta'ala.
    “Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta'ala.”
  • Niat puasa tidak berurutan
    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للهِ تعالى
    Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillahi ta'ala.
    “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
  • Niat puasa dibaca pagi hari
    نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لللهِ تعالى
    Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an adaa'i sunnatis Syawwaal lillaahi ta'ala.
    “Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.”

Puasa Syawal menjadi amalan sunnah yang dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing‑masing. Memilih cara yang paling mudah dan tetap menjaga niat akan memudahkan pelaksanaan ibadah ini.

Puasa SyawalIdul Fitri6 hariMUINUniatberurutan

Komentar

Memuat komentar...