Puasa Syawal 6 Hari: Niat, Waktu, dan Keutamaan Penting

Hendra M. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 46 dibaca
Bisik.id
Puasa Syawal 6 Hari: Niat, Waktu, dan Keutamaan Penting

Gambar atau konten salah?

Setelah berakhirnya bulan suci Ramadhan, umat Islam memasuki bulan Syawal. Pada bulan ini, dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah selama enam hari. Menurut buku Panduan Praktis Ibadah Puasa karya Drs. E Syamsuddin Ahmad Syahirul Alim Lc, puasa Syawal berfungsi sebagai penyempurna amalan puasa Ramadhan. Seperti yang disebutkan dalam hadits:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِرًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal maka ia seakan puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, Abu Daud, dan At‑Tirmidzi)

Puasa Syawal, seperti ibadah lainnya, harus diawali dengan niat. Berikut bacaan niat puasa Syawal selama enam hari, lengkap dengan waktu membaca dan keutamaan puasa Syawal.

Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), waktu pelaksanaan puasa sunnah Syawal sebaiknya dimulai setelah Hari Raya Idul Fitri, yakni pada tanggal 2 hingga 7 Syawal. Jika dikonversi ke kalender Masehi, mengikuti penetapan pemerintah, puasa ini dapat dilaksanakan mulai Minggu, 22 Maret 2026 hingga Jumat, 27 Maret 2026. Namun, puasa Syawal tetap boleh dilakukan di luar tanggal tersebut.

Berikut bacaan niat puasa Syawal 6 hari berurutan, yang dibaca pada malam hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adai sittatin min syawwal lillahi ta'ala.

Artinya, “Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta'ala.”

Puasa Syawal tidak selalu harus dilakukan secara berurutan. Jika belum sempat menjalankannya di awal bulan, puasa tetap boleh dilakukan secara tidak berurutan hingga akhir bulan Syawal. Pada setiap hari, niat puasa dibaca baik pada malam maupun siang. Waktu membaca niat pada siang hari diperbolehkan, asalkan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan dan minum, sejak subuh hari itu.

Bacaan niat puasa Syawal (dibaca pada malam hari):

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillaahi ta'ala.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Bacaan niat puasa Syawal (dibaca pada siang hari):

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma hadzal yaumi 'an adaa'i sunnatis Syawwal lillaahi ta'ala.

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah SWT.”

Keutamaan puasa Syawal

Menurut Nahdlatul Ulama, puasa Syawal adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Puasa sunnah ini memiliki sejumlah keutamaan yang luar biasa. Berikut keutamaan dari puasa Syawal:

  1. Puasa Sunnah Syawal Sebagai Penyempurna Puasa Ramadhan
  2. Menyempurnakan Pahala Puasa Menjadi Pahala Puasa Setahun
  3. Mendapat Pahala Setara Puasa Setahun
  4. Bentuk Rasa Syukur kepada Allah SWT
  5. Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah Ramadhan

1. Puasa Sunnah Syawal Sebagai Penyempurna Puasa Ramadhan

Untuk menyempurnakan shalat fardhu, kita dianjurkan melaksanakan shalat sunnah rawatib, yaitu qabliyah dan ba'diyah. Dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib, maka shalat sunnah fardhu akan menjadi sempurna. Begitu pun puasa sunnah Syawal yang dapat menyempurnakan puasa Ramadhan. Rasulullah shallalLahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ

“Amalan seorang hamba yang dihisab pertama kali di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta'ala berfirman, 'Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan ibadah wajibnya?' Kemudian yang demikian berlaku pada seluruh amal wajibnya” (HR at‑Tirmidzi)

2. Menyempurnakan Pahala Puasa Menjadi Pahala Puasa Setahun

Hal ini sebagaimana yang dijanjikan dalam hadits Rasulullah dalam kitab Shahih Muslim:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ لَزَتْهُ سِتَّةٌ مِنْ شَوَّالٍ فَصَامَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti pahala berpuasa setahun.”

3. Mendapat Pahala Setara Puasa Setahun

Melanjutkan ibadah setelah Ramadhan, seperti berpuasa di bulan Syawal, menjadi salah satu indikasi diterimanya amal di bulan Ramadhan. Sebagian ulama mengatakan:

ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة وعدم قبولها

“Ganjaran perbuatan baik adalah perbuatan baik setelahnya, maka siapa saja yang berbuat kebaikan kemudian mengikutkannya dengan perbuatan baik lainnya maka hal yang demikian adalah tanda diterimanya kebaikan yang pertama, pun halnya orang yang berbuat baik kemudian mengikutkannya dengan perbuatan buruk maka yang demikian adalah tanda ditolaknya kebaikan yang ia kerjakan.”

4. Bentuk Rasa Syukur kepada Allah SWT

Melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal merupakan tanda syukur kita kepada Allah SWT atas anugerah yang melimpah di bulan Ramadhan berupa puasa, qiyamul lail (shalat malam), zakat dan lain-lain. Puasa di bulan Ramadhan sesungguhnya meniscayakan ampunan bagi orang yang menjalankannya. Hal ini didasari dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” (Hr. Bukhari dan Muslim)

5. Menjaga Konsistensi Ibadah Setelah Ramadhan

Berakhirnya bulan Ramadhan bukan berarti berakhir pula ibadah yang telah dijalankan. Puasa Syawal menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan ibadah agar tetap konsisten di bulan-bulan berikutnya, sebagaimana semangat yang telah dibangun selama Ramadhan.

Dengan memahami niat dan keutamaan puasa Syawal, umat dapat melaksanakan ibadah ini dengan penuh kesadaran. Melakukan puasa sunnah setelah Ramadhan menunjukkan rasa syukur dan ketekunan dalam meneladani ajaran Nabi. Puasa Syawal, meski sederhana, membawa dampak spiritual yang besar bagi yang melakukannya.

Puasa SyawalRamadhanNiatKeutamaanMUISunnah MuakkadPahala SetahunKonsistensi Ibadah

Komentar

Memuat komentar...