Regu Ponorogo Gunakan Rajutan dan Kresek Pada Koper Haji
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Ponorogo, calon jamaah haji (CJH) telah menciptakan berbagai cara untuk memudahkan identifikasi koper mereka di Tanah Suci. Salah satu metode yang paling menarik adalah pemberian penanda unik, mulai dari rajutan sampai kresek.
Menurut Eko Budi Suparno, warga Desa Kertosari, Kecamatan Babatan, penanda tersebut dibuat agar koper mudah dikenali, terutama saat tiba di Arab Saudi. “Kebetulan kita di regu 19. Ini untuk mempermudah verifikasi koper. Soalnya kalau penanda sama semua, satu kloter, nanti susah dicari. Jadi biar mudah, kita kasih tanda khusus,” ujar Eko, Sabtu (25 April 2026). Ia menjelaskan bahwa penanda yang digunakan oleh regunya berupa rajutan buatan salah satu anggota kelompok. “Ini kreasi dari ibu-ibu di regu saya. Jadi khusus, tidak ada yang sama dengan regu lain. Satu regu sepuluh orang, penandanya sama semua supaya gampang dicari,” jelasnya. Menurut Eko, langkah tersebut cukup efektif karena koper jamaah haji umumnya memiliki bentuk serupa. “Kalau dari jauh kan kelihatan sama semua. Jadi ini sangat membantu untuk membedakan,” imbuhnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh CJH lainnya, Susilah. Ia memilih menggunakan kresek sebagai penanda koper karena dinilai praktis dan murah. “Murah, bisa buat sendiri di rumah. Nggak perlu keluar uang lagi,” kata Susilah. Ia mengaku telah menunggu selama 14 tahun untuk bisa berangkat haji sejak mendaftar pada 2012. “Sudah 14 tahun menunggu. Semoga di sana bisa menjalankan wajib, sunah, dan rukun dengan lancar, diampuni dosa, dan keluarga yang ditinggalkan juga mendapat hidayah,” harapnya. Terkait kondisi cuaca panas di Arab Saudi, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. “Semua kita serahkan kepada Allah. Mudah-mudahan diberi kelancaran,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Ponorogo, Marjuni, mengatakan pihaknya tidak memberikan imbauan khusus terkait penanda koper. Namun, inisiatif jamaah tersebut dinilai positif. “Tidak ada imbauan khusus dari kami. Tapi penanda unik itu memang untuk memudahkan jamaah saat mengambil koper di Arab Saudi,” ujar Marjuni. Ia menjelaskan, biasanya koper jamaah akan dikumpulkan di lobi hotel sehingga rawan tertukar jika tidak diberi tanda. “Kalau sudah diberi tanda sejak dari tanah air, akan memudahkan saat pengambilan koper untuk dibawa ke kamar masing-masing,” jelasnya. Menurutnya, penanda yang digunakan jamaah pun beragam. “Ada yang pakai boneka, slayer, dasi, rajutan, dan lain-lain. Yang penting tidak mengganggu identitas resmi koper,” tegasnya.
Marjuni juga mengingatkan batas maksimal berat koper bagasi sebesar 32 kilogram. “Kami pastikan koper tidak melebihi 32 kilogram. Kalau lebih, kami minta jamaah mengurangi isi koper,” katanya. Ia menambahkan, pengiriman koper ke asrama haji tahun ini dilakukan lebih awal dibanding tahun sebelumnya. “Kalau tahun lalu lima jam sebelum kedatangan jamaah, tahun ini koper harus sudah di asrama sehari sebelumnya karena kapasitas lebih padat,” pungkasnya.
Inisiatif penanda unik ini tidak hanya memudahkan proses verifikasi di Tanah Suci, tetapi juga menambah rasa kebersamaan di antara anggota regu. Dengan cara sederhana, para CJH dari Ponorogo dapat memastikan koper mereka tetap aman dan mudah ditemukan di tengah keramaian. Kegiatan ini menunjukkan bahwa solusi praktis dan kolaboratif dapat membantu meminimalkan kebingungan tanpa memerlukan dukungan resmi dari pihak berwenang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
