Remaja Hilang di Gunung Guntur, Ditemukan Bimbang Terkait

Ika P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 117 dibaca
Bisik.id
Remaja Hilang di Gunung Guntur, Ditemukan Bimbang Terkait

Gambar atau konten salah?

Gunung Guntur di Garut menjadi sorotan setelah seorang remaja bernama MR hilang dan kemudian ditemukan dalam keadaan bingung di permukiman warga. Kejadian ini terjadi pada Sunday, 29 March 2023 malam di Kampung Cipepe, Desa Mekargalih, Kecamatan Tarogong Kidul.

MR, seorang warga Garut, dilaporkan hilang saat sedang mencari serangga tonggeret di kaki Gunung Guntur bersama dua saudaranya. Saksi mata melaporkan bahwa MR terdengar berbicara tentang hantu selama perjalanan ke gunung. Keponakannya, anak kakak MR, bernama Ai, merasa takut dengan cerita tersebut dan meminta pulang.

Karena bicara yang tidak teratur, MR dibawa ke pusat kesehatan untuk diperiksa secara fisik dan psikis. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk memastikan kondisi kesehatannya setelah kejadian yang menegangkan. Mungkinkah hantu yang dibicarakan MR adalah sosok Guriang?

Guriang adalah makhluk halus yang sering muncul dalam sastra lama Sunda. Dalam kamus Sundadigi, guriang didefinisikan sebagai makhluk halus yang sering digambarkan “guntayang”, yaitu yang bergelantungan dari pohon ke pohon. Istilah ini juga berkaitan dengan kata Kuriang, tokoh utama dalam legenda Tangkuban Parahu. Bahkan, nama Sang Kuriang diyakini merupakan perubahan dari Sang Guriang.

Selain sastra, Guriang juga dikenal lewat lagu Sunda. Maestro karawitan Koko Koswara atau Mang Koko mengubah lagu berjudul Malati di Gunung Guntur. Lagu ini menceritakan tentang bunga melati yang tumbuh di lereng Gunung Guntur. Dalam liriknya, disebutkan “Para Guriang” yang menanam melati secara sengaja. Liriknya berbunyi:

“Malati di Gunung Guntur, hanjakal tidak dipetik, béja geus aya nu boga, ngahaja melak di dinya para guriang.”

Melalui lagu tersebut, Guriang digambarkan sebagai makhluk yang menjaga keindahan alam. Namun, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan keberadaan makhluk tersebut.

Guriang juga muncul dalam cerita Carita Mundinglaya Dikusumah, sebuah carita pantun yang populer di kalangan pecinta Kesundaan. Cerita ini berkisah tentang pencarian Lalayang Salaka Domas, jimat yang dicari berdasarkan mimpi Nyimas Padmawati, istri Prabu Siliwangi. Dalam perjalanan, tokoh utama bertemu dengan Guriang Tujuh, makhluk yang awalnya tujuh dan dapat bersatu menjadi satu dengan kekuatan lebih besar, disebut Guriang Tunggal.

Guriang Tujuh digambarkan sebagai penjaga Lalayang Salaka Domas. Ketika bertarung, ia dapat menggabungkan diri menjadi satu, meningkatkan daya tembakannya. Meskipun cerita ini menambah warna budaya Sunda, tidak ada data empiris yang mendukung keberadaan makhluk ini.

Sehingga, kebenaran tentang Guriang masih perlu dibuktikan melalui pendekatan ilmiah. Tanpa bukti konkret, Guriang tetap menjadi bagian dari folklore dan kepercayaan lokal.

Kasus MR menambah ketegangan di sekitar Gunung Guntur. Meskipun belum ada konfirmasi tentang keterkaitan antara MR dan Guriang, kejadian ini menyoroti bagaimana kepercayaan tradisional dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap peristiwa sehari‑hari.

Keberadaan Gunung Guntur sebagai tempat yang dijaga oleh makhluk halus menunjukkan pentingnya menghormati warisan budaya. Namun, penting juga bagi pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan yang objektif dan berbasis fakta. Dengan cara ini, masyarakat dapat memahami peristiwa tersebut tanpa terjebak dalam spekulasi yang tidak berdasar.

Gunung GunturMR hilangGuriangGarutfolklore Sundakepercayaan tradisionalkarawitankesehatan fisik dan psikis

Komentar

Memuat komentar...