Restorasi Gedung Grahadi, Surabaya, Mulai 1 April 2026
Gambar atau konten salah?
Surabaya – Bangunan Gedung Negara Grahadi, bagian dari cagar budaya yang terletak di sisi sayap barat, mulai dibangun kembali hari ini setelah sempat terbakar pada Agustus 2025. Pekerjaan ini dijadwalkan memakan waktu tujuh bulan, sehingga selesai pada 25 Oktober 2026.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengumumkan hal tersebut di depan gedung pada 1 April 2026. Ia menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari pelestarian cagar budaya yang didasarkan pada kajian ilmiah. “Target penyelesaian pada 25 Oktober 2026. Saat ini tahapan awal sudah dimulai sesuai perencanaan,” ujarnya.
Khofifah menekankan bahwa pemugaran tidak sekadar memperbaiki struktur, melainkan juga menanamkan nilai edukasi sejarah kepada masyarakat. “Proses ini tidak hanya bertujuan memperbaiki bangunan, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi sejarah kepada masyarakat,” tambahnya.
Salah satu konsep utama pemugaran adalah mengungkap elevasi asli bangunan yang dibangun sejak 1810. Tim melakukan ekskavasi lantai untuk menampilkan perbedaan ketinggian dari masa ke masa. Dari hasil identifikasi, terjadi kenaikan elevasi sekitar 50 sentimeter sejak awal dibangun hingga sekarang. Khofifah menjelaskan, “Ini akan kami tampilkan dengan lantai kaca, sehingga masyarakat bisa melihat langsung perkembangan struktur bangunan dari waktu ke waktu.”
Ia menyoroti bahwa pendekatan ini jarang diterapkan di Indonesia, bahkan di Jawa Timur disebut sebagai yang pertama. Konsep ini diharapkan menjadi media narasi sejarah sekaligus edukasi teknologi konstruksi masa lalu.
Dari sisi teknis, pemugaran dilakukan dengan sangat hati‑hati untuk menjaga keaslian material dan struktur. Salah satu tantangan utama adalah penggunaan bahan bangunan yang sesuai dengan karakter bangunan lama. Plester dinding, misalnya, tidak menggunakan semen modern, melainkan material berbasis kapur dengan pori‑pori yang memungkinkan proses penguapan alami. Khofifah menegaskan, “Hal ini sangat penting karena bangunan lama menggunakan bata tanpa sistem beton modern, sehingga kelembapan dari tanah dapat merambat melalui kapilaritas.”
Ia melanjutkan, “Kalau menggunakan semen modern yang lebih rapat, justru akan menimbulkan retakan atau pengelupasan pada dinding. Karena itu kami gunakan material khusus yang mendekati karakter bahan lama.”
Beberapa material harus didatangkan dari luar negeri, termasuk Jerman, karena di Indonesia belum tersedia dengan spesifikasi yang sesuai untuk pelestarian cagar budaya. Karakter bahan ini mirip dengan teknik lama yang dikenal sebagai campuran kapur dan tumbukan bata merah (bligon).
Pemugaran juga mencakup penguatan struktur bangunan. Rangka atap yang sebelumnya berbahan kayu akan diganti dengan baja ringan untuk mengurangi beban struktur, tanpa mengubah bentuk visual bangunan. “Yang tidak terlihat boleh menyesuaikan teknologi modern, tetapi tampilan luar harus tetap sama seperti aslinya, sesuai rekomendasi tim cagar budaya,” imbuh Khofifah.
Lantai bangunan nantinya akan menggunakan material marmer yang disesuaikan dengan desain asli Grahadi. Pemerintah memastikan seluruh material utama telah dipersiapkan sejak tahap perencanaan, sehingga tidak menghambat proses konstruksi.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, melaporkan bahwa proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp12.763.527.600 yang bersumber dari APBD Provinsi Jawa Timur. Pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh kontraktor pelaksana dengan durasi 210 hari kalender, terhitung mulai 30 Maret 2026 hingga 25 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, sebelum tahap konstruksi dimulai, telah dilakukan serangkaian proses sejak 2025, antara lain pengamanan bangunan pasca‑kebakaran, pembersihan dan pemilahan material bernilai penting, serta kajian teknis oleh berbagai pihak. Kajian tersebut melibatkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, serta tim ahli cagar budaya dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur.
Perencanaan teknis juga melibatkan tenaga ahli struktur, mekanikal elektrikal plumbing (MEP), hingga keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Seluruh tahapan dilakukan sesuai regulasi pelestarian bangunan cagar budaya. Bangunan sayap barat Grahadi sendiri merupakan bagian dari cagar budaya yang telah ditetapkan melalui keputusan Wali Kota Surabaya. Karena itu, setiap intervensi wajib melalui kajian dan rekomendasi tim ahli pelestarian.
Nyoman menegaskan, pemugaran ini merupakan tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan sejarah. Ia berharap proses berjalan lancar dan tidak ada gangguan yang dapat merusak nilai historis bangunan. “Ini bukan sekadar pemugaran, tetapi bagian dari menjaga identitas sejarah kita. Mari kita kawal bersama agar hasilnya sesuai harapan dan bisa dimanfaatkan sebagai sarana edukasi masyarakat,” pungkasnya.
Proyek ini menandai upaya serius pemerintah daerah dalam melestarikan situs bersejarah. Dengan pendekatan ilmiah dan penggunaan material yang akurat, pemugaran Gedung Negara Grahadi diharapkan dapat menjadi contoh bagi pelestarian bangunan sejenis di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
Pemprov Jatim Dorong Nobar Piala Dunia 2026 Daftar TVRI
Kunjungi Koperasi Merah Putih Sidoarjo, Tinjau Implementasi
Beasiswa Garuda 2026: Kesempatan Sukses Studi Luar Negeri
Puasa Sunah Muharram: Jadwal Lengkap & Keutamaan 2026
Berita Terbaru
Alfin Setyo Tunggal Pemaafkan Pelaku Pencuri Uang Toko
Indonesia vs Kamboja di Piala AFF U-19 2026, Sabtu 13 Juni
Cucurella Tegaskan Tidak Pindah Chelsea, Bahagia di London
Elon Musk Jadi Miliarder Pertama Dunia Setelah IPO SpaceX
OKU Kirim Paket Sembako ke Korban Kebakaran Pasar Baru
Indonesia Raih Final Ganda Putri Australian Open 2026
Jember Pimpin 6,35% Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I
