Retakan Aspal KM 207+300 Tol Cisumdawu Diatasi Selama

Putri N. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 140 dibaca
Bisik.id
Retakan Aspal KM 207+300 Tol Cisumdawu Diatasi Selama

Gambar atau konten salah?

Jalan Tol CileunyiSumedang‑Dawuan, atau lebih singkatnya Cisumdawu, kini menjadi jalur penting bagi pejalan di Jawa Barat. Dengan panjang 61,6 kilometer, tol ini sudah beroperasi penuh setelah melewati proses pembangunan selama 12 tahun. Namun, di kilometer ke‑207+300, retakan aspal telah terdeteksi akibat pergerakan tanah yang sedang ditangani secara intensif.

Resmikan tol ini Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada acara yang diadakan di terowongan kembar, atau twin tunnel, di KM 169, Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Pada saat itu, Presiden menegaskan bahwa investasi sebesar Rp 18,3 triliun dibagi antara anggaran pemerintah sebesar Rp 9,07 triliun dan sisanya melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Berikut beberapa fakta penting mengenai Tol Cisumdawu:

  • Jalan tol pertama di Indonesia dengan terowongan kembar. Terowongan sepanjang 472 meter dan diameter 14 meter terletak di KM 169.
  • Pemandangan indah. Lembah yang diapit tiga gunung – Gunung Tampomas, Manglayang, dan Patuha – terlihat jelas dari jalur ini. Banyak overpass yang menghubungkan permukiman warga, meningkatkan aksesibilitas bagi masyarakat setempat.
  • Akses utama ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Sebelum tol, perjalanan dari Bandung memakan waktu sekitar 3 jam. Sekarang, hanya 1 jam saja.
  • Berjumlah tujuh simpang susun (SS) yang memudahkan aliran lalu lintas: SS Cileunyi, SS Rancakalong, SS Sumedang, SS Cimalaka, SS Legok, SS Ujung Jaya, dan SS Dawuan. Infrastruktur ini diproyeksikan menjadi penopang ekonomi utama bagi Sumedang dan sekitarnya.

Menurut informasi yang dihimpun, pergerakan tanah terjadi di arah Bandung menuju Cirebon. Tim teknis mengidentifikasi retakan aspal sepanjang 80 meter dengan kedalaman mencapai 2 meter di titik tersebut.

Direktur Teknik PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT), Agustinus, menjelaskan bahwa retakan dipicu oleh curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Sumedang serta kondisi geografis perbukitan. “Retakan ini kami identifikasi berakibat karena curah hujan dengan intensitas tinggi. Memang ada beberapa faktor, seperti hujan, atau memang di situ wilayah yang cukup tinggi,” ujar Agustinus, Selasa (07 April 2026).

Selain cuaca, potensi gangguan pada sistem drainase juga diduga menjadi penyebab pergeseran tanah. Agustinus menyampaikan, pihaknya segera mengecek fungsi drainase di area tersebut sebagai langkah mitigasi awal. “Langkah ini kami lakukan untuk memastikan fungsi drainase berjalan optimal. Dengan penanganan yang telah dilakukan, waktu 04 April Tol Cisumdawu atas diskresi Kepolisian, main road Kilometer 194 A dilakukan penutupan dan pengalihan kendaraan dari Bandung menuju Cirebon untuk dapat keluar di Gerbang Tol Paseh,” katanya.

Penanganan jangka pendek meliputi pemasangan rambu peringatan, pengurangan batas kecepatan, serta pengisian retakan dengan material aspal. Area retakan juga ditutup menggunakan terpal khusus agar air hujan tidak merembes dan menambah beban pada timbunan tanah.

Untuk jangka panjang, PT CKJT sedang melakukan langkah teknis komprehensif. Mulai dari pengukuran topografi, penyelidikan tanah, hingga pemasangan instrumentasi inklinometer guna memantau kedalaman bidang longsoran secara presisi. “Perbaikan permanen direncanakan menggunakan metode bore pile dengan kedalaman 30 meter di sepanjang 100 meter area terdampak. Seluruh proses evaluasi dan perbaikan dilakukan sesuai dengan standar teknis dan prosedur keselamatan yang berlaku,” jelas Agustinus.

Selama proses perbaikan berlangsung, pihak Kepolisian memberlakukan rekayasa lalu lintas berupa contraflow di jalur B (arah Bandung) mulai dari KM 206+125 hingga KM 208+200. Kanit PJR Tol Cisumdawu, Iptu Deny Ruchyat, menyatakan bahwa pelaksanaan contraflow ini diprediksi akan berlangsung selama tiga hingga empat bulan ke depan. Pelaksanaan rekayasa lalu lintas dengan skema contraflow tersebut mulai diberlakukan pada Rabu (08 April 2026) pagi pukul 10.30 WIB.

Meski demikian, Agustinus menegaskan bahwa ruas Tol Cisumdawu KM 207 A saat ini masih dalam kondisi aman dan laik dilalui, menyusul kejadian retak sliding pada KM 207+300 sampai dengan KM 207+400. Seluruh jenis kendaraan tetap diizinkan melintas. Pengguna jalan diimbau untuk tetap waspada, mematuhi rambu-rambu lalu lintas, dan menjaga kecepatan kendaraan saat memasuki titik perbaikan.

Retakan di KM 207+300 menandai pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap infrastruktur tol. Dengan kombinasi upaya jangka pendek dan jangka panjang, pihak terkait berharap dapat menjaga keamanan dan kelancaran perjalanan bagi ribuan pengguna tol setiap harinya. Keterlibatan teknisi, penegakan regulasi lalu lintas, serta perbaikan struktural menjadi kunci utama dalam mengatasi pergerakan tanah yang terus berlanjut di wilayah Sumedang.

Tol Cisumdawuretakan aspalpergerakan tanahkontraflowKPBUterowongan kembarBandara Internasional Jawa Barat

Komentar

Memuat komentar...