Ribuan Warga Mexico City Tolak Pembangunan Stadion Banorte

Wahyu T. · 1 min baca · 2 bulan lalu · 42 dibaca
Bisik.id
Ribuan Warga Mexico City Tolak Pembangunan Stadion Banorte

Gambar atau konten salah?

29 Maret 2026, ribuan warga mengisi jalan‑jalan di Mexico City untuk menolak pembukaan kembali Stadion Azteca, yang kini bernama Stadion Banorte. Aksi ini terjadi di tengah persiapan Piala Dunia FIFA 2026, yang akan digelar bersama Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Keamanan di area tersebut dipertahankan oleh aparat kepolisian anti huru‑hara. Meskipun situasi memanas, tidak terjadi bentrokan besar. Namun, arus lalu lintas di beberapa titik dilaporkan terganggu, menambah kesibukan kota.

Para demonstran tidak hanya berorasi. Beberapa di antaranya menggelar aksi unik: bermain sepak bola di tengah jalan. Langkah ini menjadi simbol protes terhadap pembukaan stadion yang baru.

Pengunjuk rasa mengekspresikan kekhawatiran tentang dampak sosial dan ekonomi dari renovasi stadion. Mereka juga menilai perubahan nama mengabaikan nilai historis Stadion Azteca sebagai salah satu ikon sepak bola dunia.

Demonstrasi ini diinisiasi oleh berbagai organisasi sipil yang menolak peresmian stadion bersejarah. Massa memadati jalan raya utama di kawasan perkotaan sambil menyuarakan tuntutan mereka.

Protes ini bertepatan dengan laga persahabatan antara tim nasional Meksiko dan Portugal yang digelar untuk menandai peresmian kembali stadion. Di dalam arena, pertandingan tetap berlangsung, sementara di luar, suara penolakan terus bergema.

Peristiwa ini menarik perhatian internasional, mengingat Piala Dunia FIFA 2026 semakin dekat. Satu sisi, Meksiko berusaha menunjukkan kesiapan sebagai tuan rumah. Sisi lain, gelombang protes menandakan masih ada suara masyarakat yang merasa belum terakomodasi.

Protes ini menyoroti ketegangan antara kebutuhan modernisasi dan pelestarian warisan, sementara persiapan Piala Dunia menuntut kesiapan logistik dan keamanan.

Stadion AztecaPiala Dunia FIFA 2026Mexico Cityprotesrenovasi stadionkeamananwarisan budaya

Komentar

Memuat komentar...