Risiko Kesehatan Jika Terlalu Sering Minum Milk Tea Berbahaya
Gambar atau konten salah?
Milk tea, minuman berbasis teh dan susu yang manis serta berisi topping seperti boba, kini menjadi favorit banyak orang. Rasa creamy dan segar membuatnya sulit ditolak, namun konsumsi berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Minuman ini biasanya mengandung teh, susu, dan gula dalam jumlah cukup tinggi. Meski mengandung nutrisi seperti kalsium dan antioksidan, tak terkontrolnya asupan dapat berdampak buruk bagi tubuh.
Berikut tujuh efek samping yang dilaporkan jika sering meminum milk tea:
- Gangguan Pola Tidur
Milk tea mengandung kafein dari teh. Jika diminum berlebihan, terutama di sore atau malam hari, kafein dapat membuat sulit tidur atau insomnia. Kurang tidur jangka panjang menurunkan produktivitas, memengaruhi kesehatan mental, dan meningkatkan risiko penyakit kronis seperti gangguan jantung dan depresi. - Memicu Obesitas
Kandungan gula dan lemak tinggi membuat satu cangkir milk tea mengandung kalori yang cukup. Konsumsi berlebihan dapat menambah berat badan, berujung pada obesitas, serta meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. - Gangguan Pencernaan
Bagi orang intoleran laktosa, susu dalam milk tea dapat menyebabkan kembung, gas, atau diare. Kafein juga dapat memicu iritasi lambung, sehingga minum saat perut kosong dapat menambah ketidaknyamanan pencernaan. - Memicu Asam Lambung
Milk tea yang dibuat dengan susu tinggi lemak atau dimasak terlalu lama dapat meningkatkan asam lambung. Hal ini dapat memicu sensasi terbakar di dada (heartburn) dan memperparah gejala asam lambung. Orang dengan riwayat maag atau GERD sebaiknya berhati-hati. - Risiko Dehidrasi
Kafein bersifat diuretik, sehingga tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Jika tidak diimbangi dengan air putih, kondisi ini dapat memicu sembelit dan gangguan pencernaan lainnya. Selalu minum banyak air setelah menikmati milk tea. - Gangguan Penyerapan Nutrisi
Susu dalam teh dapat mengikat antioksidan dan mengurangi manfaatnya bagi tubuh. Protein susu mengikat senyawa penting dalam teh, sehingga penyerapan menjadi kurang optimal. Tanin dalam teh juga dapat menghambat penyerapan zat besi, meningkatkan risiko anemia bila dikonsumsi secara intensif. - Meningkatkan Risiko Penyakit Kronis
Kandungan gula tinggi menjadi faktor utama peningkatan risiko penyakit kronis. Gula berlebih dapat memicu resistensi insulin, memulai jalur diabetes. Selain itu, lemak berlebih juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan metabolisme, serta memicu inflamasi dalam tubuh.
Milk tea memang menarik karena rasa dan toppingnya, namun penting untuk memperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsi. Mengurangi gula, memilih susu rendah lemak, atau mengganti topping dengan pilihan lebih sehat dapat membantu mengurangi dampak negatif.
Secara keseluruhan, menikmati milk tea secara moderat masih memungkinkan tanpa menimbulkan risiko besar. Namun, bila sering meminum dalam jumlah besar, tubuh dapat mengalami gangguan tidur, peningkatan berat badan, masalah pencernaan, dan risiko penyakit kronis. Menyesuaikan pola konsumsi dan memperhatikan bahan-bahan menjadi kunci menjaga kesehatan sambil tetap menikmati minuman favorit.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tendon Achilles Menjadi Penanda Kolesterol Tinggi Kesehatan
Anak 7 Tahun di India Berhasil Hindari Dialisis Dari CAKUT
Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting
Tantangan Menemukan Angka Tersembunyi dalam Foto 7 Soal
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Berita Terbaru
Ossy Dermawan: Solusi Lahan Sawah di Jawa Tengah 2026
Tendon Achilles Menjadi Penanda Kolesterol Tinggi Kesehatan
Buket Brokoli Prewedding Viral, Hemat dan Ramah Lingkungan
Venus & Jupiter Dekat di Langit pada 08–09 Juni 2026
DKI Alokasikan Rp253,6 Miliar untuk 103 Sekolah Swasta
Latihan Pra Operasi Patuh Agung 2026 Fokus ETLE Lalu Lintas
Indonesia Mulai Transisi Ekspor SDA Satu Pintu lewat DSI Pemerintah
