Rita Pilih Taman Gratis di Bandung untuk Bermain Bersama Cucu
Gambar atau konten salah?
Rita, berusia 53 tahun, memulai hari pada 14 Mei 2026 dengan semangat yang tak terhalang oleh panas terik di Kota Bandung. Ia menempuh perjalanan dari Kopo menuju pusat kota, sambil memikirkan rencana bermain bersama cucunya yang sudah menunggu sejak kemarin.
Sudah lama, dua cucunya menuntut waktu bermain. Karena libur panjang telah dimulai, mereka menuntut lebih banyak aktivitas. Rita memilih Taman Monumen Perjuangan Jawa Barat, yang terletak tepat di seberang Lapang Gasibu, sebagai tempat yang paling praktis dan menyenangkan.
Di taman, cucu perempuan Rita, yang masih duduk di bangku TK dan SD, bebas memilih wahana permainan gratis. Sementara itu, Rita duduk bersantai, membuka aplikasi e‑commerce di ponselnya, namun tetap mengawasi anak-anak yang berlarian di sekitar area rumput sintetis.
"Kalau libur biasanya cucu nagih, ayo main. Biar ekonomis jadi pilih yang dekat-dekat saja, ke taman," ungkap Rita.
Ia juga pernah mengunjungi taman di Tegallega, yang lebih dekat dari rumah. Namun, ia merasa permainannya tidak lengkap dan tempatnya kurang bagus. “Sebenarnya di Tegallega juga ada taman sih, lebih dekat dari rumah. Tapi di sini permainannya lebih lengkap, tempatnya lebih bagus. Jadi tadi naik motor bertiga ke sini. Untung belum terlalu ramai,” paparnya.
Rita menekankan alasan memilih taman gratis: udara segar, ruang terbuka, dan kenyamanan bagi orang tua. “Ah ibu mah rada gimana ya, enggak tertarik sih ke yang begitu (kuliner viral). Lebih nyaman di tempat seperti ini saja,” ujarnya. “Lebih terbuka, ada udara segar, bisa duduk‑duduk, ada pohon‑pohon. Bisa sambil nunggu anak main,” lanjutnya.
Untuk menghindari kemacetan, Rita memilih berangkat pagi. “Kalau pagi mah belum macet, jadi mendingan dari pagi sudah berangkat. Kalau siang ke sore, apalagi kalau lewat Pasar Baru, Viaduct dan Balai Kota, aduh itu pasti ramai sekali,” ungkapnya.
Di Taman Monumen Perjuangan, suasana ramai. Anak-anak berlarian, bergantian menaiki wahana, sementara orang tua bersantai di area rumput sintetis. Beberapa membawa alas duduk, membeli jajanan dari pedagang kaki lima, dan membeli mainan seperti pesawat kertas atau balon sabun. Anak muda di kanopi taman berlatih pertunjukan drama.
Berjalan sedikit ke Jalan Diponegoro, suasana serupa terlihat di Taman Lansia. Meskipun tidak sepadat Taman Monumen, taman ini sering dimanfaatkan keluarga untuk duduk‑duduk, menikmati jajanan khas Bandung seperti cuankie, dan berjalan kaki menikmati udara segar. Bawa bekal sendiri dan nikmati di area kursi dan meja juga menjadi opsi hemat.
“Pengen lebih banyak ada tempat hiburan gratis. Banyakin lagi lah taman‑taman seperti ini di Bandung 'pasisian'. Jadi kalau mau main dengan cucu seperti sekarang, bisa pilih yang dekat rumah. Kan enak lebih leluasa,” harapnya.
Rita mengamati bagaimana taman-taman gratis di pusat kota menjadi tempat yang nyaman bagi keluarga. Ia berharap lebih banyak taman serupa dapat tersebar di berbagai titik kota, memberi ruang bagi warga untuk bermain, bersantai, dan menikmati udara segar tanpa harus mengeluarkan biaya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
