Rohyati Simpan Rp5K Sehari, Kini Siap Haji 14 Mei<|endoftext|>

Sinta R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 87 dibaca
Bisik.id
Rohyati Simpan Rp5K Sehari, Kini Siap Haji 14 Mei<|endoftext|>

Gambar atau konten salah?

Rohyati berkelana di jalan sempit RT 02 RW 09, Kelurahan Purwokerto Wetan, Kecamatan Purwokerto Timur, Banyumas. Jalan kecil itu hanya cukup bagi satu sepeda motor, namun menjadi saksi perjalanan panjang seorang perempuan sederhana yang menaruh mimpi besar pada hati. Dari dapur kecil di rumah, ia membuat rempeyek dan peyek, sambil menabung Rp 5.000 setiap hari demi satu tujuan: haji.

“Dulu itu prihatin banget, nabungnya sehari ya Rp 5.000,” kata Rohyati saat ditemui menjelang keberangkatannya pada Selasa (5 Mei 2026). Ia menegaskan tekadnya: setiap hari, sekecil apapun, ia menyisihkan uang itu.

Perjalanan haji Rohyati bermula pada tahun 2011. Saat itu, ia masih berjualan makanan rames di Pasar Wage. Di sela‑sela berdagang, ia sering mendengar rencana rekreasi ke Bali. Namun suaminya, Agus Waluyo (58), memiliki pandangan berbeda. “Daripada piknik ke mana‑mana, Bapak nyaranin buat nabung saja. Nabung buat haji,” tutur Rohyati menirukan ucapan suaminya.

Sejak saat itu, keduanya sepakat. Uang yang disisihkan bukan untuk liburan, melainkan untuk satu tujuan: Tanah Suci. Dengan tiga anak yang masih sekolah, kebutuhan rumah tangga sering menguras penghasilan. Namun Rohyati tetap konsisten. “Penghasilannya sedikit, anak tiga sekolah semua, ya bingung. Tapi nabung Rp 5.000 tiap hari itu yang penting jalan terus,” jelasnya.

Ia membagi penghasilannya secara ketat: kebutuhan harian, pendidikan anak, dan tabungan haji. “Pokoknya untuk haji itu nggak bisa diganggu gugat,” tegasnya. Dari penjualan rames, ia mencoba peruntungan lain dengan menitipkan snack ke kantor‑kantor. Seiring waktu, ada yang menyarankan membuat peyek. Awalnya ia ragu. “Aduh aku nggak bisa,” kenangnya. Namun rasa ingin mencoba mengalahkan keraguan. Ia belajar secara autodidak melalui YouTube, lalu memulai usaha peyek. “Saya sudah lama nggak jualan rames lagi. Karena tempatnya tidak memungkinkan di Pasar Wage. Jadi sekarang jualan peyek di sana. Kadang tapi juga terima pesanan,” jelasnya.

Di balik proses itu, suaminya juga mengambil peran penting. Agus membantu mengemas peyek setiap hari. Dari kerja sama sederhana itu, mimpi besar mereka semakin terasa dekat. “Yang ngepak peyek ini kan suami saya dulu. Dari situ jadi kepengin banget juga berhaji,” ujar Rohyati.

Tabungan yang dimulai sekitar 2012 akhirnya mengantarkan Rohyati masuk daftar calon haji. Meski pada kenyataannya tercatat pada 2013, ia tak mempermasalahkannya. Baginya, yang penting tetap berada dalam barisan menuju Baitullah. Namun perjalanan belum usai. Ia harus menunggu antrean panjang hingga 14 tahun. Selama itu pula, kebiasaan menabung Rp 5.000 per hari tak pernah berhenti. “Ya tetap nabung terus, lima ribu setiap hari,” katanya.

Hingga akhirnya, momen yang dinanti datang. Saat kabar pelunasan biaya haji tiba, Rohyati mengaku diliputi rasa haru dan bahagia. “Seneng banget. Karena pas harus bayar pelunasan, Alhamdulillah uangnya sudah ada. Senangnya di situ,” ucapnya dengan mata berbinar.

Kini, bayangan tentang Tanah Suci tak lagi sekadar angan. Rohyati dijadwalkan berangkat pada 14 Mei 2026 dari Purwokerto. “Perasaannya seneng banget, sudah membayangkan di sana,” pungkasnya.

Perjalanan ini menegaskan bahwa tekad, disiplin menabung, dan dukungan keluarga dapat mengubah mimpi sederhana menjadi kenyataan. Meskipun perjalanan panjang, Rohyati menunjukkan bahwa setiap langkah kecil, seperti menabung Rp 5.000 sehari, dapat membawa seseorang lebih dekat ke tujuan hidupnya.

Rohyatitabungan hajipenjualan peyekBanyumastekad menabungTanah Sucikeluarga

Komentar

Memuat komentar...