Rosidawati 53: hilang kerja, jual kopi di pinggir jalan
Gambar atau konten salah?
COVID‑19 menimbulkan krisis ekonomi di Indonesia, menurunkan produktivitas banyak perusahaan dan memaksa banyak karyawan untuk menganggur. Dampaknya masih dirasakan, terutama bagi mereka yang sudah tidak berada di usia produktif.
Di antara korban pengangguran adalah Rosidawati (53) yang tinggal di Cirebon. Sebelum pandemi, ia bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu. Ia bergabung dengan perusahaan tersebut sejak 1995 dan menjadi bagian penting dari proses produksi.
Ketika pandemi melanda, perusahaan menutup sebagian operasi dan Rosidawati kehilangan pekerjaannya. Sejak saat itu, ia tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. “Mulai jualan itu tahun 2023. Sejak COVID‑19 saya menganggur. Saya sempat menunggu panggilan dari perusahaan, tapi sampai sekarang belum ada. Teman‑teman saya sebagian sudah dipanggil kembali, tapi saya belum,” ujarnya.
Dengan tidak ada penghasilan tetap, ia memutuskan untuk berjualan di pinggir jalan. Ia memilih menjual kopi dan rokok karena ia tidak memiliki kemampuan memasak dan risiko kerugian lebih kecil dibandingkan menjual makanan. “Kalau jual makanan risikonya besar. Kalau tidak habis, besok sudah tidak segar. Modalnya juga lebih besar. Kalau saya jualan seperti ini, kalau tidak habis hari ini masih bisa dijual lagi besok,” ujarnya.
Rosidawati juga mencoba melamar pekerjaan lain, khususnya di bidang pendidikan. Ia memiliki latar belakang Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan berharap bisa mengajar di sekolah dasar. Namun, ia belum berhasil. “Ia pernah coba melamar ke sekolah dasar, tapi tidak diterima. Katanya harus yang sudah mengabdi lama atau pernah jadi guru honorer, sementara saya hanya punya pengalaman praktik,” katanya.
Selain pekerjaan, Rosidawati harus mendukung tiga anaknya. Anak pertama sudah bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah sekolah. Anak kedua sedang menjalani program magang di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Anak ketiga baru memulai kuliah. “Biaya kuliah cukup berat, apalagi uang pangkal. Jadi saya bantu cari penghasilan. Suami saya juga bekerja sebagai ojek online,” ia menjelaskan.
Suaminya, yang juga bekerja sebagai ojek online, tidak dapat bekerja sampai larut malam karena diabetes. Kondisi kesehatan suami menjadi tantangan tambahan bagi keluarga.
Meski begitu, Rosidawati tetap berusaha. Ia berjualan setiap pagi hingga menjelang siang. Ia berharap pendidikan anak-anaknya segera selesai agar beban ekonomi keluarga dapat berkurang. “Kita harus terus berusaha. Rezeki sudah ada yang mengatur, bisa datang dari mana saja. Harapannya, saya bisa dipanggil kerja lagi dan anak‑anak bisa segera lulus,” tuturnya.
Selain anak pertama yang baru saja menikah secara sederhana bersama keluarga inti, Rosidawati menekankan pentingnya pendidikan bagi masa depan anak-anaknya. Ia percaya bahwa kerja keras dan ketekunan akan membawa hasil.
Perjalanan Rosidawati mencerminkan dampak jangka panjang pandemi terhadap pekerja usia menengah ke atas. Ia menunjukkan bahwa diversifikasi penghasilan menjadi strategi penting ketika pekerjaan tetap tidak tersedia. Kisahnya menyoroti betapa pentingnya dukungan sosial dan ekonomi bagi keluarga yang terdampak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Jadwal Sholat Bandung 04 Juni 2026: Subuh 04:35, Zuhur 11:51
Jawa Barat Raih Opini WTP ke-15 Berturut‑turut 2025
624 Pendaftar Sekolah Maung Tampil Meski Sosialisasi Singkat
Sukabumi Bentuk Pokja BSAN, Fokus Kurangi Kekerasan Sekolah
Berita Terbaru
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
