RS Gigi Sumsel Laksanakan Operasi Bibir Sumbing 22 Mei

Ayu W. · 2 min baca · 21 hari lalu · 48 dibaca
Bisik.id
RS Gigi Sumsel Laksanakan Operasi Bibir Sumbing 22 Mei

Gambar atau konten salah?

Pada 22 Mei 2026, kegiatan bakti sosial operasi bibir sumbing dan celah langit-langit mulut berlangsung di Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut Provinsi Sumsel. Kegiatan ini dihadiri oleh pejabat kesehatan dan masyarakat yang ingin membantu menanggulangi masalah bibir sumbing di wilayah Sumatera Selatan.

Dalam sambutannya, Deru menegaskan bahwa bibir sumbing di Sumsel masih cukup tinggi. Ia berkata, “Saya mendapat laporan kasus bibir sumbing di Sumsel masih cukup tinggi. Karena itu harus disisir lagi dan diinventarisir supaya masyarakat yang membutuhkan bisa segera ditangani.” Deru menuntut agar dinas kesehatan segera mengirim surat kepada semua bupati, wakil bupati, dan wali kota di Sumsel agar mereka aktif melakukan pendataan sampai ke daerah-daerah. Ia menambahkan, “Dinas kesehatan harus aktif menyisir dan mendata masyarakat yang membutuhkan operasi bibir sumbing.

Menurut Trisnawarman, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, kasus bibir sumbing di provinsi ini masuk peringkat kedua tertinggi di Indonesia. Ia menyatakan, “Kasus bibir sumbing di Sumsel cukup tinggi. Dari data riset kesehatan, sekitar satu dari seribu kelahiran mengalami kelainan bibir sumbing.

Data menunjukkan bahwa wilayah dengan jumlah kasus terbanyak adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Hal ini menandakan perlunya upaya penyaringan yang lebih intensif di daerah tersebut.

Trisnawarman menjelaskan bahwa penyebab bibir sumbing bersifat multifaktorial. Sebagian besar kasus dipengaruhi faktor kongenital atau keturunan. Ia menambahkan, “Banyak yang memang dipengaruhi faktor genetik atau keturunan. Ada juga yang disebabkan faktor obat-obatan saat kehamilan dan paparan radiasi.

Selain masalah estetika, bibir sumbing juga dapat mengganggu fungsi tubuh, terutama pada bayi yang mengalami celah hingga langit-langit mulut. Trisnawarman mengingatkan, “Kalau sampai mengenai langit-langit mulut, bayi bisa kesulitan minum karena susu dapat masuk ke paru-paru dan membahayakan.

Operasi minimal dapat dilakukan pada bayi berusia lima bulan, tergantung kondisi kesehatan pasien. Kegiatan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan tindakan medis tepat waktu untuk mengurangi dampak jangka panjang bagi anak-anak yang terkena bibir sumbing.

Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah untuk mengatasi masalah kesehatan yang masih tinggi di Sumsel, sekaligus menekankan peran aktif dinas kesehatan dalam penyaringan dan penanganan kasus bibir sumbing.

bibir sumbingSumatera Selatanoperasipenyaringangenetikradiasideteksi dini

Komentar

Memuat komentar...