Rumah Bilik Bambu Cikeruh Diberi Rutilahu, Warga Tunggu

Bima J. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Rumah Bilik Bambu Cikeruh Diberi Rutilahu, Warga Tunggu

Gambar atau konten salah?

Di tengah Kampung Babakan Cikeruh, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, berdiri sebuah rumah kecil yang terbuat dari bilik bambu. Atapnya berlubang, dindingnya miring, dan tiang kayunya sudah mulai keropos. Rumah ini tampak menunggu waktu untuk tumbang, lantainya hanya beralaskan tanah dan dilapisi karpet serta kasur di bagian kamar.

Rumah berukuran 3×6 meter ini dihuni oleh 12 orang, terdiri dari tiga kepala keluarga. Semua ruang selain kamar dipakai untuk tidur berdempetan. Keluarga ini tinggal di rumah tersebut sejak tahun 2000. Rumah tersebut merupakan warisan dari ibu Saparudin, Anih, yang telah meninggal dunia.

“Saya tinggal dari tahun 2000 di sini. Terus mengalami kerusakan dan sudah didata dari pemerintah sejak tahun 2013 lalu, dan belum ada realisasi (perbaikan),” ujar Saparudin, 56 tahun, saat ditemui di rumahnya, Jumat, 03 April 2026.

Rumah ini masih menggunakan anyaman bilik bambu yang sederhana, karena bangunan tersebut adalah peninggalan orang tua. Kondisi rumah sangat rapuh. “Ini kebetulan kondisinya kan bilik semua, dan ini kan udah mau runtuh, di dalam itu udah keropos semua. Jadi takut lah kalau untuk tempat tinggal, takut kalau kena hujan kadang malam sama angin, jadi kurang tenang lah,” jelasnya.

Setiap kali hujan deras, air menetes dari segala arah. Lantai kayu menjadi lembap, dan suara angin menembus sela-sela dinding rapuh. Rumah sering bocor, membuat penghuni tidak nyaman. “Kalau hujan begadang, gantian tidurnya, kaya shift-shift, kalau enggak ke saudara dulu pindah kalau hujannya besar, apalagi kalau sama angin karena khawatir,” tambahnya.

Di malam hari, kondisi tidur harus berdempetan. “Namanya juga bertumpuk ya, bisa dibayangkan lah gimana rasanya. Jadi tidur kayak pindang lah. Terus kalau hujan iya separuh ada yang bocor. Mau dibetulin kadang takut, pas naik takutnya roboh,” ucapnya.

Dalam kesehariannya, Saparudin bekerja sebagai buruh serabutan. Ia harus menghidupi keluarganya dengan hidup sederhana. “Kalau ada yang nyuruh, baru kerja serabutan. Jadi iya begitu lah, enak nggak enaknya, pahit dan manisnya, udah kemakan. Cuma kesabaran yang jadi obatnya,” jelasnya.

Selama hidup di rumah tersebut, pemerintah telah melakukan pendataan sejak 2013, namun belum ada realisasi pembangunan Rumah Tidak Layak (Rutilahu). “Iya, banyak yang ke sini cuma begitu, belum ada realisasi,” bebernya.

Aktivitas kehidupan keluarga ini sempat viral di media sosial. Setelah itu, pemerintah sekitar langsung mendatangi keluarga tersebut dan akan dilakukan pembangunan rutilahu. “Kebetulan dari kemarin udah clear lah. Mungkin mulai hari Minggu pembongkaran terus hari Senin berjalan pembangunan,” kata Saparudin.

Kepala Desa Cimekar, Iwan Darmawan, menjelaskan bahwa ia telah menjadi kepala desa di wilayah tersebut sejak tahun 2020. Ia mencatat sebanyak 471 unit rumah dalam kondisi mengkhawatirkan dan harus diperbaiki. “Alhamdulillah sekarang sisanya tinggal 180-an lagi dan salah satunya rumah ini (Saparudin),” ucap Iwan, saat ditemui di Kantor Desa Cimekar, Jumat, 03 April 2026.

Pihaknya mengungkapkan, rumah Saparudin telah masuk dalam list pembangunan Kabupaten Bandung pada tahap dua. Namun rumah tersebut belum diperbaiki hingga akhirnya viral di media sosial. “Tapi dengan viralnya kasus ini pihak Pemerintah Kabupaten Bandung, sudah beberapa kali berkunjung ke sana dan berkomunikasi dibantu dengan dewan, supaya dipercepat pembangunannya dan Alhamdulillah tadi sudah disurvei dan diukur, mungkin mulai Senin akan segera kita bangun,” kata Iwan.

Ia menyebutkan, saat ini menargetkan sebanyak 40 unit rutilahu pada tahun 2026. Pembangunan tersebut dikerjasamakan dengan pihak swasta dan anggota dewan. “Target untuk rutilahu 40-an. Dari dinas ada 6, dari dewan ada, jadi ditarget tahun ini 40 unit,” bebernya.

Rumah kecil ini menjadi contoh nyata bagaimana kondisi hunian yang tidak layak dapat memengaruhi kehidupan sehari‑hari. Keluarga harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan ruang, cuaca, dan keamanan. Meskipun situasi sulit, mereka tetap bersabar dan berharap pemerintah dapat segera menindaklanjuti rencana pembangunan rutilahu.

Rumah BambuRutilahuKabupaten BandungDesa CimekarKeluarga SaparudinPembangunan Rumah Tidak LayakMedia Sosial ViralKepala Desa Iwan Darmawan

Komentar

Memuat komentar...