Rumah Jalan Wastukencana Bukan milik Dokter Somali, Yasin Halim
Gambar atau konten salah?
Di Jalan Wastukencana, Bandung, sebuah rumah yang kini terbelenggu semak belukar menjadi pusat perbincangan di media sosial. Banyak yang mengira rumah itu milik almarhum Dr. Johan Somali, seorang dokter dermawan yang dikenal sebagai “dokter cepek” dan “dokter seribu perak”. Namun, fakta menunjukkan bahwa rumah tersebut sebenarnya dimiliki oleh Yasin Halim, orang tua dari dua saudara bersaudara yang pernah tinggal di sana.
Rumah itu berdiri di bilangan Jalan Wastukencana, sebuah bangunan yang dulu menonjol karena gaya kolonialnya. Sekarang, pintu dan jendela sudah rapuh, dindingnya dipenuhi lumut, dan di depan rumah terparkir sebuah mobil Honda Accord Prestige tahun 01 Januari 1986 berwarna coklat. Mobil tersebut menjadi ikon yang sering muncul di foto-foto viral yang menuduh rumah itu milik Dr. Somali.
Menurut Hari Saputra, seorang warga sekitar yang mengenal sejarah rumah itu, pemilik asli rumah tersebut adalah Yasin Halim. “Jadi, itu teh bukan rumah punyanya dokter Somali, beda. Itu mah rumahnya Pak Yasin Halim. Makanya, di TikTok itu sering ada yang bilang kalau itu rumahnya dokter Somali. Sotoy saya bilang,” ujar Hari, sambil menegaskan ketidaksesuaian antara rumor dan kenyataan.
Hari mengingat bahwa rumah itu mulai ditinggalkan sejak 01 Januari 2009. Sebelumnya, rumah tersebut menjadi sorotan karena arsitekurnya yang menyerupai bangunan zaman kolonial. “Kalau rumah yang satunya, yang punya adiknya Pak Yasin, itu asalnya ada bengkel sama toko bunga. Dan itu salah satu anaknya jadi temen saya, temen nongkrong di sini, umurnya jauh di atas saya. Orangnya udah meninggal juga, dan sampe sekarang rumahnya jadi terbengkalai,” tambahnya.
Rumah yang kini terbengkalai bukan satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Ada dua rumah, keduanya milik kakak-beradik. Yasin Halim, kakak tertua, memiliki rumah yang kini terparkirnya mobil Honda. Adiknya memiliki rumah yang dulunya berfungsi sebagai bengkel dan toko bunga. Kedua rumah tersebut kini ditinggalkan, dan keluarga merasa terlalu sensitif untuk membuka rumah tersebut kepada publik.
Hari juga menyoroti bahwa Yasin Halim dan Dr. Johan Somali adalah dua individu yang berbeda. Meskipun keduanya memiliki keturunan Tionghoa, tidak ada hubungan keluarga antara keduanya. “Sering banget dihubung-hubungkan kalau rumah yang ada mobil itu punya dokter Somali, padahal bukan. Itu keluarganya memang sama-sama keturunan Tionghoa, tapi enggak ada sangkut pautnya. Cuma sama keturunan Tionghoa aja kayaknya,” tegas Hari.
Dr. Johan Somali dikenal sebagai dokter yang tak pernah mematok tarif kepada pasien. Ia mempraktekkan di Jalan Purnawarman nomor 1, tepat di depan Tugu Sister City dan Bandung Elektronik Center (BEC). Setelah wafat, kliniknya diambil alih oleh anaknya, Dr. Susan. Namun, klinik tersebut tidak bertahan lama; ia kemudian dijual dan diubah menjadi kafe serta ruang billiard. “Saya mah malahan kalau berobat ke sini enggak pernah bayar dulu mah. Dan dibilangnya, dokter Somali itu dokter pribadinya orang-orang Purnawarman karena memang orangnya sebaik itu pas masih ada,” ungkap Hari, menekankan betapa dihargainya jasa Dr. Somali di komunitas Purnawarman.
Rumah di Jalan Wastukencana masih rutin dikontrol oleh salah satu anak Yasin Halim, Rudi. Ia biasanya datang di sore hari, memeriksa bagian-bagian yang perlu dibersihkan setelah semak belukar menutupi rumah. Meskipun demikian, Hari merasa prihatin karena rumah itu ditinggalkan begitu saja. Ia menyebut bahwa banyak pihak sudah menawar untuk mengontrakan rumah tersebut, namun pemiliknya tidak membuka pintu lebar-lebar. “Kan sayang terbengkalai, dari pada dipake aktivitas yang aneh-aneh, kan pernah di situ ada yang uji nyali gitu, kang. Padahal rekanan saya beberapa kali ada yang nawar mau ngontrak, tapi belum dikasih sama orangnya,” ungkap Hari.
Untuk menelusuri keluarga pemilik rumah, Hari hanya mengetahui bahwa anak Yasin Halim, Rudi, tinggal di wilayah Buahbatu atau Ciwastra. Penelusuran selanjutnya menemukan sebuah spanduk hijau di rumah sebelah kediaman Yasin Halim yang mengumumkan bahwa rumah tersebut mau dikontrakan, lengkap dengan nomor telepon. Nomor tersebut akhirnya terhubung dengan seorang pria bernama Kurnia, yang mengaku sebagai bagian dari keluarga pemilik rumah.
Dalam percakapan singkat dengan Kurnia, ia mengungkapkan rasa kesal karena rumah tersebut sering menjadi bahan viral di media sosial. “Gini kang, saya juga ingin tahu nih apa kepentingan orang memviralkan di media sosial untuk hal yang privasinya orang,” tanya Kurnia. Ia menekankan pentingnya menghormati privasi. “Intinya, untuk apa kan memviralkan miliknya orang, enggak pas lah harusnya soal privasi orang. Jadi tolong diluruskan itunya dulu, jangan mengurus miliknya orang lah. Gitu aja dulu yah, maaf saya sedang di jalan lagi jalur padat,” tutup Kurnia, sebelum memutuskan untuk menutup teleponnya.
Rumah di Jalan Wastukencana, yang kini dipenuhi semak belukar, tetap menjadi simbol kesalahpahaman di media sosial. Meskipun rumah tersebut dimiliki oleh Yasin Halim, banyak orang masih mengaitkannya dengan Dr. Johan Somali karena kesamaan latar belakang keturunan Tionghoa. Namun, fakta menunjukkan bahwa kedua keluarga tersebut tidak memiliki hubungan keluarga dan memiliki rumah yang berbeda lokasi. Sementara Dr. Somali dikenal sebagai dokter dermawan yang tak pernah mematok tarif, rumah di Jalan Wastukencana tidak pernah berhubungan dengan praktik medisnya.
Rumah yang kini terbengkalai masih menunggu keputusan dari keluarga pemiliknya. Meskipun ada minat untuk mengontrakan, pemiliknya belum membuka pintu lebar-lebar. Sementara itu, rumor yang beredar di media sosial tentang kepemilikan rumah tersebut tetap menjadi topik perbincangan. Keluarga Yasin Halim, melalui Rudi dan Kurnia, menegaskan bahwa rumah tersebut tidak pernah menjadi milik Dr. Somali dan menuntut klarifikasi agar privasi mereka dihormati. Sementara Dr. Somali, yang telah wafat, tetap dikenang sebagai dokter dermawan yang tak pernah mematok tarif kepada pasiennya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
