Rumah Kolonial Jalan Wastukencana, Pemilik Tolak Sewa

Agus P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Rumah Kolonial Jalan Wastukencana, Pemilik Tolak Sewa

Gambar atau konten salah?

Di Jalan Wastukencana, Kota Bandung, berdiri sebuah rumah tua yang kini tampak terbengkalai. Semak belukar menutupi dindingnya, dan di halaman masih terlihat satu mobil Honda Accord Prestige tahun 1986 berwarna coklat. Rumah ini sering menjadi bahan gosip di kalangan warganet, namun cerita yang beredar ternyata salah sasaran.

Beberapa orang menghubungkan rumah tersebut dengan nama dokter Johan Somali, seorang dermawan yang sudah lama meninggal dunia. Ia dikenal dengan julukan dokter cepek dan dokter seribu perak karena tidak pernah mematok tarif bagi pasiennya. Namun, selama hidupnya, Johan Somali tidak pernah menempati rumah di Jalan Wastukencana. Ia tinggal di Jalan Purnawarman nomor 1, tepat di depan Tugu Sister City di ujung pertigaan setelah Bandung Elektronik Center (BEC).

Rumah yang kini kosong dulunya dihuni oleh Yasin Halim, sosok yang juga sudah meninggal. Satu rumah lain yang sama-sama terbengkalai ternyata milik adik mendiang Yasin Halim. Keduanya pernah menjadi tempat tinggal keluarga tersebut.

Seiring berjalannya waktu, rumah ini menjadi objek perhatian karena bangunan bergaya kolonialnya. Meskipun begitu, ia tetap terabaikan. Banyak pihak yang mencoba mengontrak rumah ini, namun pemiliknya tidak membuka pintu lebar-lebar.

Hari Saputra, warga sekitar, mengaku bahwa sejak awal 2026, dua rekannya tertarik untuk menyewa rumah tersebut. Rekannya pertama berniat mengubahnya menjadi kantor partai politik. Hari kemudian menyampaikan niat tersebut kepada salah satu keluarga Yasin Halim bernama Rudi. Rudi langsung menolak ide tersebut.

“Karena Pak Rudi itu udah bilang ke saya, sok kalau mau mah itu kontrakin aja. Terus kan ada yang berminat mau dibikin kantor partai, saya udah bilangin harus renovasi total. Karena enggak bisa dipake, cuma depannya doang yang dikit renovasi, kalau dalemnya mah enggak bisa dipake,” kata Hari belum lama ini.

Hari menjelaskan bahwa ia menghubungi Pak Rudi lagi, namun tidak mendapat jawaban. Ia menambahkan:

“Saya kontak lah si Pak Rudi-nya, kalau oke, saya ketemuin. Pak Rudi nanya, mau dibikin apa, saya bilang mau dipake kantor partai, ulah lah. Awal tahun itu yang mau ngontraknya, yaudah, akhirnya cancel,” ucapnya menambahkan.

Rekan Hari berikutnya datang dengan ide lain: mengubah rumah menjadi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, komunikasi dengan Rudi tetap tidak membuahkan hasil. Hari mengungkapkan keputusasaan:

“Terus enggak lama, dateng lagi ada yang mau dibikin SPPG. Luas banget soalnya, strategis juga tempatnya. Eh not responding akhirnya. Saya juga bingung ini orang maunya gimana,” kelakar Hari.

Walaupun rumah ini sering dipantau, ia tetap menjadi titik perhatian di Jalan Wastukencana. Bentuk kolonialnya membuatnya menonjol di antara bangunan lain. Namun, Hari merasa sedih melihat bangunan itu ditinggalkan begitu saja.

“Kan sayang terbengkalai, dari pada dipake aktivitas yang aneh-aneh, kan pernah di situ ada yang uji nyali gitu, kang. Padahal rekanan saya beberapa kali ada yang nawar mau ngontrak, tapi belum dikasih sama orangnya,” pungkasnya.

Rumah ini, yang dulu menjadi rumah keluarga Yasin Halim dan adiknya, kini masih menjadi objek penasaran. Meskipun banyak pihak berminat, pemiliknya tetap menolak. Rumah berarsitektur kolonial ini tetap menjadi landmark di Jalan Wastukencana, namun tetap terabaikan. Hari Saputra berharap suatu hari nanti rumah ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Jalan Wastukencanarumah tua terbengkalaiYasin HalimJohan Somaliarsitektur kolonialSPPGHari Saputra

Komentar

Memuat komentar...