Rupiah Capai Rp17.698/US$, Pakar Beri Cara Kelola Keuangan

Tika M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 67 dibaca
Bisik.id
Rupiah Capai Rp17.698/US$, Pakar Beri Cara Kelola Keuangan

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah pada Minggu 24 Mei 2026 tercatat menyentuh angka Rp17.698 per dolar AS. Kondisi ini membuat banyak orang khawatir tentang dampaknya pada harga kebutuhan pokok dan biaya hidup sehari‑hari.

Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Budi Wahyu Mahardhika, memberikan beberapa saran tentang cara mengelola keuangan agar tidak terlalu terpengaruh oleh pelemahan mata uang. Ia menekankan pentingnya mengurangi utang konsumtif, menyiapkan dana darurat, meninjau kembali prioritas pengeluaran, mencari penghasilan tambahan, dan melakukan diversifikasi tabungan.

Kurangi Utang Konsumtif

Budi menyarankan agar masyarakat meminimalkan ketergantungan pada utang konsumtif. Ia menekankan pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan agar pengeluaran lebih terkontrol. "Hindari cicilan untuk barang yang tidak penting. Cicilan memang terasa ringan saat suku bunga rendah, tetapi akan menjadi beban ketika suku bunga naik dan akhirnya mengorbankan kebutuhan yang lebih penting. Lalu, menunda pembelian yang tidak terlalu diperlukan demi menjaga stabilitas keuangan jangka panjang," kata dosen manajemen tersebut.

Siapkan Dana Darurat

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, Budi menilai pentingnya membangun dana darurat secara konsisten. Ia menyarankan memulai dengan nominal kecil, misalnya Rp 100 ribu per minggu, dan menekankan bahwa dana darurat berfungsi melindungi keluarga dari kejadian tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendadak lainnya. "Fokus pada kebiasaan menabung rutin, meskipun kecil. Jangan menunggu krisis untuk mulai menyiapkan perlindungan finansial," ujarnya.

Pilah Kebutuhan Prioritas

Budi juga menilai bahwa masyarakat perlu meninjau ulang anggaran rumah tangga dan kebiasaan pengeluaran sehari‑hari. Ia menjelaskan bahwa kebocoran pengeluaran kecil sering tidak disadari, namun dapat menguras pendapatan bulanan. Ia menyarankan menyusun kembali prioritas pengeluaran dengan memilih alternatif yang lebih hemat. "Masyarakat dapat menyusun kembali prioritas pengeluaran dengan memilih alternatif yang lebih hemat, seperti memasak sendiri di rumah, dan mengurangi kebiasaan nongkrong atau membeli kopi di kafe," jelasnya.

Penting Memiliki Penghasilan Tambahan

Selain mengatur pengeluaran, Budi menekankan pentingnya memiliki sumber penghasilan tambahan. Ia mengatakan ketergantungan pada satu sumber pendapatan membuat masyarakat lebih rentan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) atau perlambatan ekonomi. Ia menyarankan langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar. "Masyarakat bisa mulai dari langkah sederhana seperti membuka usaha kecil, pekerjaan lepas, atau jasa tambahan sambil belajar menyusun anggaran, memahami bunga utang, dan investasi dasar," jelasnya.

Diversifikasi Tabungan dan Aset

Terakhir, Budi mengingatkan agar masyarakat tidak menyimpan seluruh tabungan hanya dalam bentuk uang tunai rupiah. Ia menyarankan mempertimbangkan instrumen investasi yang lebih aman dan likuid, seperti emas, deposito, atau obligasi. Ia menambahkan bahwa dukungan sosial dan komunitas juga penting sebagai penopang ketika menghadapi situasi ekonomi yang sulit. "Tetapi mulai mempertimbangkan instrumen yang lebih aman dan likuid seperti emas, deposito, atau obligasi. Dukungan sosial dan komunitas juga penting sebagai penopang ketika menghadapi situasi ekonomi yang sulit," pungkasnya.

Dengan langkah-langkah sederhana ini, masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan perubahan nilai tukar rupiah dan menjaga stabilitas keuangan keluarga.

Nilai tukar rupiahutang konsumtifdana daruratprioritas pengeluaranpenghasilan tambahandiversifikasi tabunganinvestasi emasdeposito

Komentar

Memuat komentar...