Rupiah Jatuh 14.000, Pasar Saham Turun 4.1%, Risiko Kredit
Gambar atau konten salah?
Pasar keuangan Indonesia kembali menjadi sorotan media internasional. Kelemahan nilai tukar rupiah yang terus menurun, sekaligus penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menjadi fokus utama laporan media Singapura, The Straits Times.
Artikel berjudul “Rupiah Crosses 14,000 per Singapore Dollar for First Time” dipublikasikan pada Rabu, 03 Juni 2024. Dalam laporan tersebut, media tersebut menggambarkan tekanan yang sedang dihadapi pasar keuangan Indonesia.
Rupiah tidak hanya melemah, pasar saham domestik juga berada dalam fase koreksi yang cukup dalam. IHSG sempat turun 5,2 % pada perdagangan Rabu, sebelum akhirnya ditutup turun 4,1 %. Selama tahun 2026, kapitalisasi pasar saham Indonesia disebut telah menyusut sekitar 32 %.
“Indeks ini sudah menjadi indeks dengan kinerja terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks ekuitas global yang dilacak oleh Bloomberg,” tulis The Straits Times.
Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah masih berlanjut. Mata uang Indonesia tercatat melemah sekitar 0,5 % terhadap dolar Amerika Serikat maupun dolar Singapura. Kondisi tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan Asia pada tahun ini. Data perdagangan pada Rabu, 03 Juni 2024 pukul 17.24 menunjukkan rupiah berada di level 14.001 per dolar Singapura. Posisi tersebut sekaligus menandai pelemahan sekitar 8,6 % terhadap mata uang Negeri Singa sejak awal 2026.
“Pergerakan mata uang dan pasar saham terjadi setelah data pada 2 Juni menunjukkan surplus perdagangan Indonesia hampir lenyap pada bulan April karena kenaikan harga minyak dan gas impor melampaui kenaikan ekspor,” jelas media asal Singapura itu.
Lebih lanjut, The Straits Times turut melaporkan nilai rupiah telah terdepresiasi sekitar 7 % terhadap dolar AS pada tahun 2026. Ini merupakan kinerja terburuk di antara mata uang pasar berkembang global yang dipantau oleh Bloomberg.
“Cadangan devisa negara turun pada bulan April ke level terendah dalam hampir dua tahun karena bank sentral meningkatkan intervensi untuk mempertahankan rupiah,” papar The Straits Times.
Penurunan cadangan devisa meningkatkan risiko penurunan peringkat kredit. Fitch Ratings dan Moody’s Ratings telah memangkas prospek mereka untuk Indonesia tahun 2026 ini.
Selain faktor makro, media ini juga menyoroti isu nasional yang menjadi perhatian investor dalam negeri maupun asing. Salah satunya adalah kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA) strategis satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI. Ada juga kasus penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertugas melaksanakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto yakni makan bergizi gratis (MBG).
“Indeks Komposit Jakarta telah turun setiap bulan pada tahun 2026 dan berada di jalur untuk mengalami kerugian tahunan terbesar sejak 2008. Aksi jual besar-besaran ini juga menyebabkan Indonesia kehilangan gelarnya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara kepada Singapura setelah lima tahun berkuasa,” tulis outlet media itu.
Situasi ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika pasar Indonesia. Kelemahan rupiah, penurunan IHSG, serta penurunan cadangan devisa menambah ketidakpastian bagi investor. Perubahan status pasar saham terbesar di Asia Tenggara juga menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih stabil dan transparan di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ayi Solehudin Ditemukan di Gunung Salak setelah 2,5 Tahun
Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ternyata Miliki Aset Berlimpah
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
