Rupiah Jatuh ke 14.000 per SGD, Pasar Saham Turun 5,2%

Eko P. · 2 min baca · 2 jam lalu · 37 dibaca
Bisik.id
Rupiah Jatuh ke 14.000 per SGD, Pasar Saham Turun 5,2%

Gambar atau konten salah?

Rupiah menembus batas 14.000 per dolar Singapura untuk pertama kalinya, menandai titik balik penting bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam, jatuh hingga 5,2 % sebelum akhirnya menutup turun 4,1 % pada perdagangan 3 Juni 2026.

Pergerakan ini menempatkan IHSG pada level terendah dalam lima tahun terakhir. Secara keseluruhan, nilai pasar modal Indonesia telah turun sekitar 32 % sepanjang tahun 2026. “Indeks ini sudah menjadi indeks dengan kinerja terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks ekuitas global yang dilacak oleh Bloomberg,” tulis The Straits Times.

Rupiah juga melemah sekitar 0,5 % terhadap dolar AS dan dolar Singapura. Pada 3 Juni 2026 pukul 17.24, rupiah diperdagangkan pada level 14.001 per dolar Singapura, turun sekitar 0,3 % dibandingkan penutupan harian sebelumnya. Nilai mata uang Indonesia telah jatuh 8,6 % terhadap dolar Singapura sejak awal 2026.

“Pergerakan mata uang dan pasar saham terjadi setelah data pada 2 Juni menunjukkan surplus perdagangan Indonesia hampir lenyap pada bulan April karena kenaikan harga minyak dan gas impor melampaui kenaikan ekspor,” jelas The Straits Times. Data ini menyoroti tekanan pada neraca perdagangan akibat kenaikan harga energi global.

Rupiah juga terdepresiasi sekitar 7 % terhadap dolar AS pada tahun 2026, menjadi kinerja terburuk di antara mata uang pasar berkembang global yang dipantau oleh Bloomberg. “Cadangan devisa negara turun pada bulan April ke level terendah dalam hampir dua tahun karena bank sentral meningkatkan intervensi untuk mempertahankan rupiah,” papar The Straits Times. Penurunan cadangan devisa menambah risiko penurunan peringkat kredit, dengan Fitch Ratings dan Moody's Ratings memangkas prospek mereka untuk Indonesia pada tahun 2026.

Selain dampak makro, artikel tersebut juga menyoroti isu-isu domestik yang memengaruhi persepsi investor. Salah satunya adalah kebijakan ekspor sumber daya alam (SDA) strategis satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Kasus penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertugas melaksanakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni makan bergizi gratis (MBG), juga menjadi sorotan.

Indeks Komposit Jakarta juga mengalami penurunan setiap bulan pada tahun 2026. “Indeks Komposit Jakarta telah turun setiap bulan pada tahun 2026 dan berada di jalur untuk mengalami kerugian tahunan terbesar sejak 2008. Aksi jual besar-besaran ini juga menyebabkan Indonesia kehilangan gelarnya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara kepada Singapura setelah lima tahun berkuasa,” tulis outlet media.

Pergerakan pasar ini menegaskan ketidakpastian ekonomi di tengah tekanan harga minyak global dan kebijakan moneter yang ketat. Investor domestik dan asing kini menilai kembali eksposur mereka terhadap pasar modal Indonesia, sementara bank sentral terus memantau cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.

Secara keseluruhan, kombinasi pelemahan rupiah, penurunan indeks saham, dan tekanan neraca perdagangan menciptakan lingkungan investasi yang menantang. Pemerintah dan otoritas keuangan harus menyesuaikan kebijakan untuk menstabilkan pasar dan memulihkan kepercayaan investor.

RupiahIHSGcadangan devisaharga minyakFitch RatingsPrabowo Subiantoindeks komposit Jakarta

Komentar

Memuat komentar...