Rupiah Mati, Mall Jakarta Turun 15‑20% di Hari Kerja
Gambar atau konten salah?
Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menegaskan bahwa pelemahan rupiah telah memicu kenaikan harga komoditas secara signifikan. Ia mengamati bahwa nilai tukar dolar AS kini berada di sekitar Rp 17.000 per unit, dan sudah hampir mendekati Rp 18.000.
“Semua juga sudah mengetahui bahwa dolar AS per hari ini sudah Rp 17.000, nyangkut, sudah hampir Rp 18.000 ya. Aduh, mudah-mudahan tidak lewat dari angka Rp 18.000 itu. Nah memang boleh dikatakan terjadi kenaikan‑kenaikan harga di masyarakat,” ujar Ellen di Lippo Mall Nusantara, Jakarta Selatan, Rabu kemarin.
Menurutnya, kondisi ini melemahkan daya beli masyarakat, termasuk pekerja dengan gaji tetap. Tanpa perubahan pendapatan, kenaikan harga membuat konsumen mulai menahan belanja. Akibatnya, jumlah pengunjung atau trafik pusat perbelanjaan di Jakarta pada hari kerja turun sekitar 15‑20%. Namun, pada akhir pekan, trafik tetap stabil dan bahkan cenderung meningkat.
“Memang terjadi penurunan trafik di pusat belanja, sebagian besar itu kurang lebih antara 15‑20% pada saat weekdays, saya katakan weekdays. Tapi untuk weekend itu bisa tinggi sekali, lebih tinggi dari biasanya. Terjadi suatu keanehan sedikit, tetapi dibilang aneh juga tidak,” terangnya.
Di tengah pelemahan daya beli, banyak karyawan kantor yang biasa makan siang di mal kini lebih memilih membawa bekal dari rumah. Hal ini membuat kunjungan ke pusat perbelanjaan menurun hanya pada hari kerja.
“Kita sudah mempelajari apa penyebabnya. Ya mungkin semua karyawan‑karyawan juga menahan diri, yang biasanya kalau bekerja lima hari, lima hari makan di pusat belanja, sekarang mungkin cuma dua hari, yang lainnya mungkin bawa dari rumah. Itu yang saya dengar,” jelas Ellen.
Di sisi lain, kunjungan akhir pekan masih didorong oleh keluarga, terutama yang membawa anak. Mal‑mal di Jakarta tidak hanya tempat belanja, tetapi juga menyediakan ruang rekreasi anak, sehingga berfungsi sebagai pusat hiburan.
“Pusat belanja itu mempunyai daya tarik tersendiri, terutama kita perkuat kepada anak‑anak. Sekali anak‑anak cinta ke pusat belanja itu, dia akan minta orangtuanya untuk datang ke sana lagi, ke sana lagi. Jadi anak‑anak itu juga perlu di‑entertain,” ujarnya.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah menurunkan daya beli dan mengubah pola kunjungan ke pusat perbelanjaan. Meskipun trafik pada akhir pekan masih kuat, pengunjung pada hari kerja menurun karena konsumen menahan belanja dan membawa bekal. Kegiatan ini menyoroti bagaimana fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi perilaku konsumen dan arus kunjungan di pusat perbelanjaan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Rupiah Jatuh ke 14.000 per SGD, Pasar Saham Turun 5,2%
IHSG Menurun ke Zona Merah, Turun 1,46% ke 5.854 di Bursa
KAI-INKA Merger Selesai Tahun Ini, Menjadi Holding Subholding
Trump Menandatangani Perintah Pemutusan Pegawai Tinggi
IHSG menutup di zona negatif, turun 4,11%; global merosot
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Berita Terbaru
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
Indonesia Open 2026: 16 Besar di Istora Senayan, Menang
Prabowo Buka Penerbangan Bandara Bandung & Yogyakarta
Messi Terima Penghargaan Putri Asturias di Kansas City
Garuda Muda vs Timor Leste: Piala AFF 2026 di Sumut
Safari Apple: Kecepatan, Baterai, dan Privasi Unggul
