Rupiah melemah, Gaikindo tetap jaga harga mobil di pasar

Surya B. · 2 min baca · 7 hari lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Rupiah melemah, Gaikindo tetap jaga harga mobil di pasar

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus melemah, hampir mencapai angka Rp 18 ribu per satu dolar. Pertanyaan muncul: apakah penurunan ini sudah menimbulkan dampak serius bagi industri otomotif di Indonesia?

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) terus berupaya menstimulasi penjualan kendaraan roda empat. Salah satu inisiatifnya adalah Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, yang akan berlangsung pada Juli-Agustus 2026. Pameran ini menjadi ajang bagi produsen untuk memperkenalkan model baru dan menjalin kerja sama.

Namun, di balik upaya tersebut, industri otomotif juga menghadapi tantangan akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Seiring dengan fluktuasi mata uang, muncul pertanyaan: apakah harga mobil akan ikut naik dalam waktu dekat?

“Dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, tak otomatis harga mobil ikut naik,” kata Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, pada 26 Mei 2024. Ia menekankan bahwa industri memikirkan efek jangka panjang. “Biasanya pelaku industri otomotif itu nggak segampang itu 'oh ini naik, hari ini kita (naikkan harga mobil)'. Kan kita bukan kayak fast moving things, perlu penghitungan. Sebab kalau kemudian itu terlalu gegabah, itu yang terjadi malah sebaliknya, orang akan nahan beli. Begitu nahan beli, ini kan stoknya banyak. Stok barang jadi, yang belum jadi, komponen, dan sebagainya. Komitmen buat beli raw material. Panjang. Jadi kita jaga optimismenya,” jelas Kukuh kepada wartawan di Jakarta.

Berbagai agen merek di Indonesia belum memiliki rencana menaikkan harga mobil. Honda misalnya, masih mempertahankan harga mobil saat ini. Perusahaan ini diuntungkan dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi, sehingga tidak terlalu bergantung pada komponen impor. “Tentunya pelemahan rupiah sekarang ini memberi tekanan ya buat kami yang melakukan importasi, misalnya impor (CBU) ataupun komponen, juga kadang produksi buat bahan-bahan produksi kami juga ada yang masih (dibeli) menggunakan mata uang asing. Tapi sebagian besar produksi kami di pabrik Karawang itu sudah memiliki tingkat kandungan dalam negeri yang sangat tinggi, jadi bisa menahan dampak pelemahan rupiah,” ungkap Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan. Ia menyoroti dinamika politik, geopolitik, dan ekonomi yang memengaruhi fluktuasi ongkos produksi. “Kendati begitu, BYD belum berencana menaikkan harga jual mobil mereka.” Luther menambahkan, “BYD di Indonesia investasi jangka panjang dan kita telah memikirkan kondisi-kondisi ini dari masa-masa kita melakukan comprehensive study. Sampai saat ini kami masih tetap positif dan confident dengan strategi yang kami miliki, baik secara produk, pricing, juga promosi‑promosi yang kami akan lakukan. Sampai saat ini belum ada perubahan dengan adanya situasi‑situasi tersebut.”

Secara keseluruhan, meski nilai tukar rupiah melemah, produsen mobil di Indonesia cenderung menahan kenaikan harga. Mereka lebih memilih menyesuaikan strategi produksi, memanfaatkan komponen dalam negeri, dan menjaga optimisme pasar. Dengan demikian, dampak langsung pada harga mobil belum terlihat signifikan, meski tekanan impor tetap menjadi perhatian bagi industri otomotif.

Nilai tukar rupiahGaikindoGIIAS 2026harga mobilkomponen dalam negeriBYDHonda

Komentar

Memuat komentar...