Rupiah Pelemah, Pariwisata Indonesia Menarik Wisatawan
Gambar atau konten salah?
Pada 04 Juni 2026, laporan menyoroti bahwa melemahnya nilai tukar rupiah tidak selalu menjadi masalah bagi sektor pariwisata. Sebaliknya, banyak pihak menganggapnya sebagai peluang untuk menarik lebih banyak wisatawan asing, khususnya dari negara tetangga.
Ketika rupiah turun, mata uang asing menjadi lebih kuat. Akibatnya, wisatawan mancanegara dapat menukar lebih banyak mata uang mereka menjadi rupiah, sehingga biaya penginapan, makan, transportasi, dan aktivitas wisata di Indonesia menjadi lebih terjangkau.
"Kita harus mengurai persoalan ini. Dari sisi wisatawan mancanegara, kondisi rupiah yang tertekan tentu membuat daya beli mereka menjadi lebih kuat saat berada di Indonesia," ujar Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal PHRI.
Peningkatan daya beli ini tidak hanya menurunkan biaya bagi para pengunjung, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk menghabiskan lebih banyak uang di berbagai layanan wisata.
"Dari sisi spending tentu menguntungkan. Mereka memegang mata uang yang lebih kuat sehingga pengeluaran mereka di Indonesia menjadi lebih besar dibanding sebelumnya," tambah Maulana.
Menurutnya, negara-negara ASEAN, terutama Singapura dan Malaysia, menjadi sasaran utama. Jarak geografis yang dekat dan mata uang yang kuat membuat mereka lebih cenderung memilih Indonesia sebagai tujuan liburan.
"Mungkin yang akan diuntungkan adalah wisatawan dari negara-negara terdekat seperti Singapura, Malaysia dan negara ASEAN lainnya. Mereka bisa memilih Indonesia sebagai tujuan perjalanan karena lebih dekat," jelas Maulana.
Destinasi populer seperti Bali, Batam, Bintan, Jakarta, Yogyakarta, serta wilayah di Sumatera dan Kalimantan telah lama menjadi favorit bagi wisatawan dari kedua negara tersebut. Dengan kurs yang menguntungkan, peluang peningkatan kunjungan diharapkan semakin terbuka.
Selain jumlah kunjungan, pelemahan rupiah juga diperkirakan akan meningkatkan pengeluaran wisatawan. Mereka yang datang dengan mata uang yang lebih kuat cenderung mengalokasikan anggaran lebih besar untuk menikmati layanan pariwisata dan membeli produk lokal.
Pengeluaran yang meningkat ini dapat menimbulkan efek berantai bagi ekonomi daerah, memengaruhi sektor perhotelan, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pariwisata.
Namun, PHRI menegaskan bahwa peningkatan jumlah wisatawan tidak otomatis meningkatkan tingkat hunian hotel. Faktor lain, seperti maraknya akomodasi tidak resmi atau akomodasi liar, masih menjadi kendala di beberapa destinasi.
"Bisa saja ada dampak ke okupansi hotel jika wisatawan meningkat. Tetapi kita juga harus melihat persoalan akomodasi liar yang sampai sekarang masih menjadi isu di berbagai daerah tujuan wisata," sampaikan Maulana.
Dengan kondisi ini, para pelaku industri pariwisata diharapkan dapat menyesuaikan strategi, memperkuat jaringan akomodasi resmi, dan memanfaatkan peluang peningkatan pengeluaran wisatawan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Orang Tua Kritik Menu MBG Cibodas: Nugget, Anggur, Kedelai
Ika Sartika 50, Ditolak Lowongan Rumah Tangga di Ciamis
Bandung Siapkan Mesin Insinerator 5 Ton/Jam untuk TPS Ciwastra
SPPG Pananjung 2 Pangandaran Terbatas Kendaraan Operasional
Trans7 Bimbing Santri & Mahasiswa Cipta Konten Digital
Job Fair Ciamis 2026: Ribuan Peserta Berharap Pekerjaan
Berita Terbaru
Putri Wardani Kalahkan Michelle Li di Indonesia Open 2026
Beasiswa Denmark di Aarhus: Persyaratan dan Batas Waktu
IHSG Turun 4,11% ke 5.941,06, Investor Fokus Rebalancing
Alfamidi Laba Kuartal 2026 Naik 39,5% dengan Ekspansi Gerai
Kebakaran Hutan Musi Rawas Utara Terus, Muba Terkendali
Wakil Menteri Kunjungi SMP Tabanan, Cek Revitalisasi, MBG
Wakil Menteri Kunjungi SDN 3 Sembung Gede, Minta Revitalisasi
Hujan Lebat dan Petir Diprediksi Menyerang Medan Malam Ini
