Rupiah Terendah, Harga Daging dan Tahu Naik di Pasar Senen

Ika P. · 3 min baca · 17 hari lalu · 58 dibaca
Bisik.id
Rupiah Terendah, Harga Daging dan Tahu Naik di Pasar Senen

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus melemah, bahkan mencatat rekor terendah sepanjang sejarah pada level Rp 17.600 per dolar. Pelemahan ini tidak hanya mempengaruhi kurs dan pasar keuangan, tetapi juga merembet ke harga komoditas pangan di pasar tradisional.

Di Pasar Senen, pedagang daging sapi segar menghadapi tantangan harga yang dipengaruhi nilai tukar dolar. Pasokan daging sapi lokal masih bergantung pada impor sapi potong, sehingga perubahan nilai tukar berdampak langsung pada biaya pembelian.

“Kalau sapinya mau lokal atau impor sama saja. Soalnya sapi potongnya kebanyakan dari Australia, digedein satu dua bulan di sini, cuma kita sudah sebutnya lokal. Daging baru lah, potong baru,” ujarnya saat ditemui detikcom, Senin (18/5/2026).

Fahmi menjelaskan bahwa kenaikan nilai dolar terhadap rupiah membuat harga daging sapi sering berubah secara mendadak. Pedagang di pasar hanya menyesuaikan harga berdasarkan biaya pembelian sapi dari pemasok.

“Jadi harga daging naik karena dari impornya naik kan, dolar naik katanya. Jadi mungkin pengaruhnya dari sana. Kalau dolar naik, harga ikut naik, soalnya beli sapinya juga sudah naik. Katanya sih begitu, saya kurang tahu detailnya, tapi dari rumah potong bilang begitu, dari impornya memang naik gara-gara itu,” jelas Fahmi.

Akibatnya, harga daging sapi di pasar saat ini masih cukup tinggi, yakni di kisaran Rp 150 ribu per kilogram, dibandingkan harga normal sekitar Rp 130 ribu per kilogram. Begitu juga dengan daging impor beku yang biasanya berada di kisaran Rp 110 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp 120.000–Rp 130.000 per kilogram.

“Kalau daging lokal rata-rata Rp 150 ribu per kilogram, tapi bisa Rp 145 ribu kalau lagi turun, sampai Rp 160 ribu kalau naik. Impor beku sekarang Rp 120 ribu, bisa Rp 130 ribu, tergantung jenis dagingnya juga,” paparnya.

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada daging. Di pasar, harga tahu juga naik karena kedelai, bahan baku utama, berasal dari impor. Perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar turut memengaruhi ongkos kirim kedelai.

“Harga kedelainya kan naik. Kalau tahu pakai kedelai impor. Jadi bisa jadi karena rupiah sama ongkos kirim kedelainya lagi naik. Mungkin rentetannya begitu, ongkos produksi jadi besar, harga di pasar ikut naik,” ujar Davi.

Davi menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai impor sudah terjadi beberapa bulan terakhir. Namun, produsen menahan kenaikan harga, sehingga harga jual tahu di tingkat pedagang dan konsumen belum berubah. Namun, sejak seminggu lalu, harga tahu mulai naik.

“Harga tahu sudah mulai naik sejak seminggu lalu. Tadinya dari pabrik belum dinaikkan, sekarang mungkin sudah mulai nggak kuat juga mereka. Jadi naik Rp 100–Rp 200 per potong. Di sini jual potongan sedang Rp 4.000, yang besar Rp 5.000. Itu pun harganya belum saya naikkan, kita tahan dulu, kurangi untung sedikit,” terangnya.

Selain daging dan tahu, Davi juga berjualan bawang putih dan menilai dampak kenaikan dolar terhadap harga bawang putih ke depan. Bawang putih sepenuhnya bergantung pada impor, biasanya dari China.

“Kalau bawang merah itu produksi lokal, tapi bawang putih pasti impor. Biasanya dari China, kebanyakan dari sana. Sekarang sih harga masih stabil, cuma nggak tahu ke depan bakal bagaimana,” ujarnya.

Dengan rupiah yang terus melemah, biaya impor meningkat. Pedagang di pasar tradisional harus menyesuaikan harga jual untuk menutupi biaya tambahan. Harga daging, tahu, dan bawang putih menjadi contoh nyata bagaimana nilai tukar memengaruhi harga barang konsumsi sehari‑harinya.

Perubahan harga ini memaksa konsumen menyesuaikan pola belanja. Peningkatan harga daging dan produk olahan kedelai dapat memicu perubahan preferensi konsumen terhadap produk lokal atau alternatif. Sementara itu, pedagang harus menimbang antara menyesuaikan harga dan menjaga daya tarik konsumen.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah menimbulkan dampak langsung pada harga komoditas pangan yang bergantung pada impor. Pedagang di pasar tradisional menghadapi tantangan menyesuaikan harga jual, sementara konsumen harus menyesuaikan pola belanja mereka. igo/fdl

rupiahdolarharga daging sapipasar tradisionalimporkedelaitahubawang putih

Komentar

Memuat komentar...