Rupiah Terendah vs Dolar Singapura, Dampak Ekspor Indonesia

Kartika D. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 108 dibaca
Bisik.id
Rupiah Terendah vs Dolar Singapura, Dampak Ekspor Indonesia

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah turun ke level terendah terhadap dolar Singapura pada 15 April 2026. Penurunan ini dipicu oleh kenaikan harga minyak yang disebabkan oleh konflik di Iran serta aliran keluar modal dari pasar obligasi dan saham Indonesia.

Menurut laporan yang dikutip, pelemahan rupiah menimbulkan kekhawatiran akan berkurangnya permintaan jasa Singapura di Indonesia, khususnya di sektor kesehatan. Selain itu, potensi melambatnya ekspor ke Indonesia menjadi isu penting bagi para pelaku bisnis.

Di pasar, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 13.500 per dolar Singapura pada 16 April 2026. Data Bloomberg menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025, rupiah melemah 9,3 % terhadap dolar Singapura, dan pada tahun 2026 kembali turun sekitar 4 %.

S&P Global Ratings menilai profil kredit Indonesia termasuk yang paling terdampak jika konflik di Timur Tengah berlangsung lama. Meskipun Indonesia adalah produsen minyak, negara ini masih menjadi importir. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya impor dan subsidi bahan bakar minyak.

Hal ini melemahkan neraca perdagangan dan posisi fiskal Indonesia. Ketidakpastian global juga mendorong investor menarik dana dari pasar Indonesia menuju aset yang lebih aman, sehingga menekan rupiah lebih lanjut.

Data resmi menunjukkan bahwa investor asing mencatat penjualan bersih sebesar US$ 202 juta di obligasi pemerintah Indonesia pada Januari 2026. Arus keluar ini terjadi bersamaan dengan koreksi pasar saham domestik yang menghapus sekitar US$ 80 miliar nilai pasar setelah MSCI menyoroti isu kepemilikan dan transparansi perdagangan.

Saxo Bank mengamati bahwa rupiah telah berada dalam tren pelemahan jangka panjang. Ketegangan di Timur Tengah memperburuk tekanan. Gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz turut mendorong kenaikan harga energi, sehingga dana global mengalir ke dolar AS dan menjauhi mata uang berisiko seperti rupiah.

Moody’s juga merevisi outlook Indonesia menjadi negatif, mengutip ketidakpastian politik dan melemahnya tata kelola. Sementara itu, MSCI menunda penyesuaian positif terhadap aset Indonesia, yang memicu aksi jual besar di pasar.

Ke depan, analis masih memperkirakan rupiah berpotensi pulih secara bertahap. DBS menilai rupiah saat ini sudah undervalued dan berpeluang menguat seiring upaya reformasi pasar untuk meningkatkan kepercayaan investor.

UOB menyebut Bank Indonesia diperkirakan terus menjaga stabilitas nilai tukar guna menahan pelemahan lebih lanjut. Bank Indonesia telah melakukan intervensi di pasar valas dengan menggunakan cadangan devisa yang turun US$ 3,7 miliar menjadi US$ 148,2 miliar pada Maret 2026, serta memperketat kebijakan moneter untuk mengelola volatilitas.

Jika konflik Iran terus mereda, perbaikan sentimen global dan posisi rupiah yang sudah melemah dapat menjadi peluang masuk yang menarik bagi investor obligasi asing,

kata UOB senior foreign exchange strategist, Peter Chia. Ia menambahkan, pergerakan rupiah ke depan sangat bergantung pada minat investor terhadap obligasi Indonesia.

Pergerakan nilai tukar rupiah mencerminkan ketidakpastian ekonomi global dan dinamika pasar modal. Kenaikan harga minyak, arus keluar modal, serta penilaian kredit internasional menjadi faktor utama yang memengaruhi nilai mata uang. Meskipun ada potensi pemulihan, ketergantungan pada faktor eksternal tetap menjadi risiko bagi stabilitas rupiah ke depan.

nilai tukar rupiahminyakkonflik Iranarus modalekspor Indonesiakredit internasionalkebijakan moneter

Komentar

Memuat komentar...