Rupiah Terpuruk, Dolar Mencapai Rp17.596, Target 16.500
Gambar atau konten salah?
Nilai tukar dolar Amerika Serikat terus memaksa rupiah melemah. Pada Jumat, dolar AS menembus kisaran Rp 17.600-an dan di sore hari mencapai Rp 17.596. Situasi ini menjauh dari target nilai tukar yang diharapkan dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Di dalam APBN 2026, nilai tukar dolar AS diharapkan tidak lebih tinggi dari Rp 16.500. Namun, realitas pasar menunjukkan pergerakan yang lebih lemah, menandakan ketidaksesuaian antara ekspektasi fiskal dan kondisi ekonomi riil.
Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menilai bahwa dolar AS sulit turun di bawah Rp 17.000. Ia menyatakan, “Saya melihat memang kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka kesimbangan baru begitu ya. Ada angka kesimbangan baru Rp 17.000 ya,” menegaskan bahwa kisaran tersebut telah menjadi level keseimbangan baru.
Menurut Tauhid, operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan nilai tukar sebesar Rp 500 memerlukan waktu lebih panjang dan lebih sulit dibandingkan yang sebelumnya. Ia menambahkan bahwa penguatan rupiah minimal akan berada di kisaran Rp 17.000-17.200 per dolar AS.
Ia juga mengungkapkan, “Tapi saya yakin ya masih bisa mendekati angka Rp 17.000 itu memungkinkan apakah Rp 17.100 atau Rp 17.200 begitu, tapi ini lagi-lagi butuh dukungan, 7 langkah yang dilakukan bank sentral itu harus benar-benar efektif,” menekankan perlunya kebijakan yang konsisten.
Untuk menjaga kepercayaan investor, Tauhid menegaskan, “Paling tidak pemerintah menyampaikan kerangka fiskal sampai akhir tahun, sehingga para investor, pelaku bisnis dan sebagainya bisa membaca arah penjelasan fiskal dan lebih yakin ya,” mengajak pemerintah agar transparan dalam kebijakan fiskal.
Analisis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa kondisi saat ini menempatkan rupiah pada posisi sulit menguat. Ia mengaitkan kelemahan rupiah dengan faktor eksternal, khususnya dinamika geopolitik dunia dan kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan antara AS dan Iran.
Lukman menyatakan, “Semua bisa terjadi (penguatan signifikan rupiah terhadap dolar AS) apabila perang Iran-AS berakhir atau selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun kembali ke level semula,” menunjukkan bahwa stabilitas geopolitik dapat memengaruhi nilai tukar.
Di dalam negeri, Lukman menyoroti sentimen negatif yang membuat investor ragu dan mengalihkan modal ke luar negeri. Ia menekankan bahwa pengelolaan APBN yang terlalu ekstrem, dengan defisit mendekati 3%, serta polemik di pasar modal, turut memicu pelemahan rupiah.
Ia menegaskan, “Pemerintah perlu mengurangi anggaran non-esensial dan BI perlu menaikkan suku bunga,” sebagai langkah korektif untuk menstabilkan nilai tukar.
Ekonom Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P Sasmita, mengusulkan tiga langkah utama bagi pemerintah. Pertama, menjaga kredibilitas fiskal dan APBN agar pasar yakin defisit tetap terkendali. Kedua, memperkuat ekspor dan memperbesar devisa hasil ekspor. Ketiga, mempercepat hilirisasi dan substitusi impor untuk mengurangi ketergantungan pada barang impor.
Ronny menekankan pentingnya kepercayaan pasar, menambahkan, “Pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi. Kadang satu pernyataan pejabat saja bisa membuat rupiah masuk angin lebih cepat dari yang dibayangkan,” menyoroti kebutuhan komunikasi yang jelas.
Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menekankan peran BI dalam menjaga pasar valas agar tidak terlalu tajam. Ia menegaskan, “Tapi yang paling penting sebenarnya bukan sekadar intervensi, melainkan menjaga kepercayaan pasar. Investor ingin melihat pemerintah, BI, dan otoritas keuangan bicara dalam arah yang sama. Kalau komunikasinya terlihat tidak sinkron atau kebijakannya berubah-ubah, tekanan ke rupiah biasanya cepat membesar,” menekankan pentingnya koordinasi kebijakan.
Rendy juga menyoroti struktur ekonomi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing. Ia mengatakan, “Karena itu pemerintah perlu serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini membuat impor kita besar, seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri,” menekankan perlunya diversifikasi ekonomi.
Ia menutup dengan menekankan pentingnya kepastian kebijakan, menambahkan, “Selain itu, kepastian kebijakan juga penting sekali untuk dihadirkan pemerintah. Investor sebenarnya bisa menerima aturan yang ketat, asal jelas dan konsisten. Yang paling membuat mereka menahan diri biasanya bukan aturannya, tetapi perubahan yang terlalu mendadak dan sulit diprediksi.”
Situasi ini menandakan bahwa rupiah berada di persimpangan antara tekanan eksternal dan kebijakan fiskal internal. Untuk mengembalikan nilai tukar ke target APBN, diperlukan koordinasi yang kuat antara pemerintah, BI, dan otoritas keuangan, serta kebijakan fiskal yang jelas dan konsisten. Kepastian dan kepercayaan pasar menjadi kunci utama dalam menstabilkan mata uang nasional di tengah ketidakpastian global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Kimia Farma Balikkan Kerugian, Capai Laba Rp123,63 Miliar
Prabowo Ganti Pimpinan BGN, Tegaskan Tanpa Toleransi Korupsi
Asuransi Astra Tumbuh Meski Tekanan Nilai Tukar & Suku Bunga
Menteri Keuangan: Rupiah Terkena Rumor, Bank Indonesia Fokus
Berita Terbaru
Italia 1-0 Luksemburg, Baldini Raih Kemenangan Muda
Belanda Kalah 0-1 dari Aljazair, Persiapan Piala Dunia 2026
Zodiak Cancer 4 Juni 2026: Hari Ramai Air dan Keberuntungan
Zodiak Virgo 4 Juni 2026: Hari Bintang, Peluang Romantis & Karier
Zodiak Aries 4 Juni 2026: Energi Baru dan Peluang Cinta
Zodiak Libra 4 Juni 2026: Keseimbangan Hari, Cinta, Karier & Kesehatan
Zodiak Scorpio 4 Juni 2026: Panduan Hari Terbaik Hari
Zodiak Leo 4 Juni 2026: Energi Matahari Menuntun Hari Anda
Zodiak Gemini: 4 Juni 2026, Hari Dinamika Kencan dan Karier
Zodiak Sagittarius 4 Juni 2026: Energi Positif dan Keputusan
