Rupiah Turun, Pemerintah Jatim Fokus Stabilitas Pangan
Gambar atau konten salah?
Surabaya, 01 Juni 2026 – Nilai tukar Rupiah terus menurun, menembus kisaran 17.800 per dolar AS. Kondisi ini menekan mata uang asing lainnya, termasuk dolar, dan berdampak pada perekonomian Jawa Timur.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengakui bahwa melemahnya Rupiah memengaruhi berbagai sektor. “Jadi contohnya ya kemarin peternak ayam petelur mengeluhkan harga pakan meskipun jagung itu memang banyak didapat dari dalam negeri, tapi kan efisiensi logistik dalam negeri penting untuk memitigasi kondisi global, jangan dua-duanya ini terjadi goncangan,” kata Emil di Surabaya, Senin (01 Juni 2026).
Menurutnya, banyak industri yang merasakan dampak negatif. Barang-barang impor, seperti suku cadang elektronik dan kendaraan, mengalami kenaikan harga. Meski begitu, Emil menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan tetap fokus pada sektor pangan.
“Sebab, pangan menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu,” jelasnya. “Tentu sekali lagi banyak variabel dan yang punya kendali terhadap masing-masing variabel itu juga beda‑beda. Jadi fokus kami tentu adalah bagaimana yang ada di wilayah kita ini kita optimalkan, jadi pangan adalah prioritas, nah bagaimana yang di pangan ini masih harus bisa dijaga seoptimal mungkin,” tambahnya.
Untuk menjaga harga bahan pokok tetap stabil, Pemerintah Provinsi melakukan pengawasan langsung di pasar tradisional. Jika terjadi kenaikan, intervensi akan dilakukan agar harga tetap normal dan sesuai patokan pemerintah. “Harga‑harga di pasar harus dijaga baik itu beras dan lain‑sebagainya,” ujarnya. “Beberapa waktu lalu juga ada aturan yang diberlakukan untuk kendaraan‑kendaraan yang mengangkut logistik dijamin mendapat BBM dengan harga normal di SPBU. Langkah ini bagian dari komponen yang sangat menentukan harga di level konsumen,” tambah Emil.
Emil juga menegaskan komitmen pemerintah untuk mengawasi proses masa tanam berbagai komoditas, terutama padi. “Jadi menjaga inflasi terkendali ada TPID dan Bank Indonesia kita terus fokus untuk terutama sektor pangan tadi Jawa Timur kebetulan produsen pangan. Jangan sampai sektor pertanian ini produksi terganggu, jadi memastikan bahwa masa tanam berjalan dengan lancar jangan sampai tertunda karena hal‑hal yang sebenarnya bisa kita cegah,” jelasnya.
Ia menutup dengan menyoroti pentingnya menjaga pasokan agar tekanan inflasi tidak meluas. “Jadi itu juga menjadi fokus dari sisi suplai side, bagaimana dari sisi pasokan ini bisa kita jaga agar tekanan terhadap inflasi tidak mengepung dari semua sisi gitu,” tandasnya.
Dengan Rupiah yang terus melemah, pemerintah Jawa Timur menekankan perlunya pengawasan harga pangan dan logistik agar dampak inflasi dapat dikendalikan. Fokus pada stabilitas pasar tradisional, harga bahan pokok, dan kelancaran masa tanam menjadi strategi utama untuk menahan tekanan ekonomi yang diakibatkan oleh fluktuasi nilai tukar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
