Rupiah Turun, Satelit Nasional Terpengaruh, Biaya Naik

Tika M. · 2 min baca · 22 hari lalu · 42 dibaca
Bisik.id
Rupiah Turun, Satelit Nasional Terpengaruh, Biaya Naik

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah melambat secara signifikan, menembus Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat. Dampaknya sudah terasa di sektor satelit nasional, yang sebagian besar pembiayaannya masih menggunakan mata uang asing.

Risdianto Yuli Hermansyah, Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), menegaskan bahwa pelemahan rupiah langsung menekan profitabilitas operator satelit. “Nilai tukar pasti yang pertama mempengaruhi, karena satelit maupun ground segment mayoritas menggunakan mata uang asing,” ujarnya di Asia Pacific Satellite Conference 2026, Jakarta, Selasa (12 Mei 2026).

Risdianto menjelaskan bahwa kenaikan dolar AS membuat beban operasional dan investasi semakin berat. Sebagian besar kebutuhan teknologi satelit masih bergantung pada impor, sehingga biaya produksi naik. “Selain menekan profitabilitas, pelemahan rupiah juga dapat memperlambat ekspansi operator lokal,” tambahnya. Ia menekankan bahwa “Peningkatan nilai tukar itu juga akan menekan ekspansi dari lokal operator.”

Di kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, mengomentari kondisi nilai rupiah yang terus melemah. “Pendanaan otomatis akan jadi makin sulit karena uang yang beredar di dalam negeri makin sedikit,” katanya. Meski demikian, Sigit melihat pelemahan rupiah tidak dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri lokal dan meningkatkan orientasi ekspor nasional. “Kalau dolar naik, yang paling bagus sebenarnya sektor ekspor. Karena biaya produksi kita rupiah, tapi pendapatannya dolar,” pungkasnya.

Menurut data, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus terpuruk dan kini menembus Rp 17.500-an hari ini. Kondisi ini menjadi nilai tukar dengan titik terendah sepanjang masa. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mulai besok akan membantu Bank Indonesia (BI) untuk mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Perubahan nilai tukar ini menimbulkan tekanan pada industri satelit yang masih sangat bergantung pada pembiayaan asing. Kenaikan biaya impor dan penurunan daya beli rupiah menambah beban operasional, sekaligus memperlambat rencana ekspansi operator lokal. Sementara itu, sektor ekspor tetap menjadi titik kuat yang dapat memanfaatkan nilai tukar dolar yang lebih tinggi.

Rupiah melemahNilai tukar dolarSatelit IndonesiaBiaya imporProfitabilitas operatorEkspansi lokalEkspor nasionalBank Indonesia

Komentar

Memuat komentar...