Sairah: Memilih Jurusan Berdasarkan Minat dan Bakat
Gambar atau konten salah?
Di Medan, saat memasuki bulan April, banyak calon mahasiswa yang sudah mulai memikirkan jurusan dan mendaftar kuliah. Pilihan jurusan menjadi keputusan penting, namun seringkali terasa rumit bagi para remaja.
Psikolog Klinis, Sairah, memberikan beberapa saran tentang cara memilih jurusan yang tepat. Ia menekankan bahwa keputusan tersebut seharusnya didasarkan pada kombinasi minat, bakat, dan pengaruh eksternal yang seimbang.
Minat menjadi faktor pertama yang harus dipertimbangkan. Sairah menjelaskan bahwa minat biasanya muncul sejak kecil dan menjadi lebih terfokus ketika remaja memasuki masa SMP dan SMA.
“Pertama dari minat. Minat awalnya itu seperti apa, itu biasanya sudah eksploratif gitu semenjak dari kecil sesuai dengan cita‑citanya atau mungkin dari role model‑nya. Kemudian beranjak lah dia ke SMP, SMA semakin mengerucut, karena ada minat awal, interest pada satu bidang begitu, atau di profesi tertentu begitu,” ujarnya.
Selanjutnya, bakat akademik juga penting. Sairah menambahkan bahwa bakat ini dapat dilihat dari nilai yang dicapai di sekolah, yang nantinya membantu menentukan jurusan yang cocok.
“Kemudian yang kedua, adanya kemampuan akademik, ini lebih kepada bakat. Kalau minat itu kan kemauan tuh apa yang dia inginkan begitu, kemudian sejalan juga dengan kemampuan akademiknya seperti di nilai‑nilai pelajaran tertentu gitu misalkan. Maka dia nilai‑nilai mana yang lebih tinggi, itu yang bisa menjuruskan dia juga kepada jurusan sekolah. Kalau di SMA kan ada jurusan IPA, IPS, yang itu sebenarnya nanti akan mengerucut juga dan berkesinambungan di jurusan‑jurusan kuliah saat kuliah begitu,” tuturnya.
Selain faktor internal, pengaruh eksternal juga memengaruhi keputusan. Teman, orang tua, dan guru sering menjadi sumber rekomendasi atau tekanan.
“Kemudian bisa juga berdasarkan dari pengaruh eksternal. Pengaruh eksternal ini apa? Bisa dari teman, dipengaruhi oleh orang tua atau bahkan disuruh oleh orang tua atau diarahkan oleh guru. Itu sebenarnya merupakan pengaruh‑pengaruh eksternal. Ya nggak apa‑apa selama tidak ada paksaan di situ dan anaknya pun juga minat di situ,” ujarnya.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah persepsi sosial. Banyak orang menganggap jurusan tertentu lebih bergengsi, tanpa mempertimbangkan minat atau bakat.
“Kemudian apa namanya ada juga tentang persepsi sosial. Terkait biasanya, ‘Oh kalau yang lebih bergengsi itu jurusan ini’ tanpa mempertimbangkan minat atau bakatnya. Bergengsi seperti kayak IPA lebih bergengsi daripada IPS, atau jurusan kedokteran itu lebih bergengsi daripada jurusan yang lain dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Untuk membantu remaja membuat keputusan yang lebih rasional, Sairah menyarankan agar mereka mempertimbangkan minat dan bakat, bukan hanya ikut‑ikutan. Banyak sekolah sekarang sudah menyediakan tes minat dan bakat.
“Ketika seorang remaja ini untuk memilih jurusan kuliah maupun di jurusan di SMA‑nya, mohon juga banyak dipertimbangkan tidak hanya sekedar ikut‑ikutan tapi juga mempertimbangkan bakat dan minat. Maka nggak jarang juga sekarang untuk di SMA‑SMA itu sudah ada tes secara psikologi, tes bakat minat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tes minat bakat tidak menjamin 100% akurasi, namun dapat memberi arah yang lebih jelas. Tes tersebut harus dilakukan oleh profesional, seperti psikolog, dan diikuti dengan konseling atau pendampingan.
“Itu sebenarnya juga bisa membantu walaupun tidak bisa mengklaim 100%, tapi membantu untuk lebih mengarahkan. Jadi ada tes bakat minat yang dilakukan oleh profesional, oleh psikolog, kemudian juga nanti dilakukan juga pendampingan atau adanya konseling bakat minat tersebut. Dari hasil tes tersebut, maka bisa diklasifikasikan si anak lebih cocok di jurusan apa,” tutupnya.
Dengan memperhatikan minat, bakat, pengaruh eksternal, dan persepsi sosial, serta memanfaatkan tes minat bakat yang profesional, remaja dapat membuat pilihan jurusan yang lebih sesuai dengan diri mereka. Hal ini membantu menghindari keputusan yang hanya didorong oleh tekanan atau anggapan populer, sehingga masa depan akademik dan karier menjadi lebih terarah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Thailand Malaysia Seri 6 Poin, Persaingan Ketat Grup B AFF
PHR Tegaskan Komitmen Lestari di Hari Lingkungan 2026
Angkat Betis Sederhana, Turunkan Gula Pasca-Makan 52%
Fenomena Orang Tidak Ingat Masa Kecil: Penjelasan Psikolog
Tanda Awal Rayap Menyerang Kayu Rumah Anda: Deteksi Cepat
Dara The Virgin Rencanakan Pertunangan dengan Awan Reyhan Tahun Ini
Berita Terbaru
Timnas 3-0 Oman: Hubner, Romeny, Oratmangoen Pemenang
Knicks Menutup Babak Kedua Final 2026 105-104 melawan Spurs
Koordinasi Fiskal‑Moneter BI dan Kemenkeu Fokus Stabil Rupiah
Thailand Malaysia Seri 6 Poin, Persaingan Ketat Grup B AFF
Influencer Minum 11 Suplemen Sekali, Media Sosial Geger
Pizza Teflon Ringan: Resep Praktis dan Lezat, Cocok Anak
Riquelme Janji Bawa Klopp ke Real Madrid Segera Terpilih
