Sate Maranggi Purwakarta Hadir di Cempaka Putih, Jakarta

Guntur P. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 121 dibaca
Bisik.id
Sate Maranggi Purwakarta Hadir di Cempaka Putih, Jakarta

Gambar atau konten salah?

Sate maranggi legendaris dari Purwakarta kini hadir di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Di gerai ini, kamu bisa mencicipi sate maranggi daging sapi yang empuk dan juicy, membuat lidah bergoyang. Rasa khasnya tetap sama, meski sudah dibawa ke ibu kota. Sate Maranggi menjadi pilihan tepat bagi yang mau menikmati hidangan tradisional tanpa harus pergi jauh.

Khususnya saat Idul Adha, warung ini menjadi tempat berkumpul keluarga. Tidak perlu menempuh perjalanan ke Purwakarta, karena Haji Yetty sudah membuka cabang di Jakarta. Gerai ini cocok bagi siapa saja yang ingin meluangkan waktu libur, menikmati sate lezat, dan merayakan Idul Adha bersama.

Gerai pusatnya masih ramai, terutama di Purwakarta, karena banyak pelancong yang lewat menuju Bandung. Namun, cabang Cempaka Putih tak kalah padat, terutama pada jam makan siang, hari libur nasional, dan akhir pekan. Kunjungan di kedua gerai menunjukkan popularitas sate maranggi yang tak lekang oleh waktu.

Menurut Anggi, manajer restoran cabang Cempaka Putih, “Kalau ramai‑nya itu udah pasti di weekend ya. Di Sabtu‑Minggu, di hari libur nasional itu hari‑hari yang paling ramenya kita di sini.” Kalimat ini menegaskan bahwa pelanggan paling banyak datang pada akhir pekan dan hari libur.

Area makan di gerai ini luas dan lengkap. Ada parkiran, musala, dan toilet. Dapur terbuka atau open kitchen, sehingga pelanggan dapat melihat proses pembakaran sate. Meski bakarannya berada di luar area makan, asap tidak mengganggu karena terpisah jauh dari meja pengunjung.

Sate maranggi sendiri merupakan makanan khas Purwakarta yang sudah menjadi legenda. Menurut sumber disipusda.purwakartakab.go.id, hidangan ini awalnya diciptakan oleh para pekerja di peternakan domba di Kecamatan Plered. Mereka hanya bisa menikmati daging domba pada waktu tertentu, sehingga seringkali tersisa potongan daging.

Dari sisa daging tersebut, para pekerja menciptakan resep baru. Daging domba dipotong kecil, direndam dalam rempah dan gula aren, lalu dimasak secara berkala. Proses ini menghasilkan cita rasa unik yang kemudian dikenal sebagai sate maranggi. Awalnya tidak ada nama khusus, namun seiring waktu, warung Mak Anggi di Plered menjadi pusatnya.

Nama sate Mak Anggi kemudian berubah menjadi sate Makanggi, dan akhirnya dikenal sebagai sate maranggi. Di Purwakarta, setiap kecamatan memiliki kreasi sate maranggi yang berbeda. Beberapa daerah menyajikan dengan sambal tomat, sambal oncom, atau bahkan ketan bakar sebagai pelengkap.

Sementara itu, Haji Yetty sudah berdiri sejak era 1990‑an. Warung ini dikenal karena cita rasa autentik khas Purwakarta. Anggi menjelaskan, “Kalau untuk yang di Purwakarta sendiri itu sudah ada sejak tahun 1990‑an, Tapi kalau untuk cabang Cempaka Putih yang di sini khususnya dari tanggal 5 Mei 2023,” menandai tanggal resmi pembukaan cabang.

Menu andalan di Haji Yetty tetap sate maranggi. Gerai ini menyajikan sate dengan gaya Cibungur, lengkap dengan sambal tomat. Meskipun cabang di Jakarta, cita rasanya tetap sama karena semua bumbu dan potongan daging dikirim langsung dari gerai pusat.

Tersedia tiga pilihan daging: sapi, ayam, dan kambing. Harga berbeda sesuai jenisnya: ayam Rp 5.000 per tusuk, sapi Rp 5.500 per tusuk, dan kambing Rp 6.000 per tusuk. Menurut Anggi, sate maranggi sapi menjadi yang paling banyak dipesan.

Sate yang sudah dibumbui dibakar dengan arang panas selama 3‑5 menit sampai matang, warnanya berubah menjadi cokelat gelap. Setelah dibakar, sate disajikan bersama sambal tomat. Sate Maranggi Sapi 10 tusuk dapat dipesan seharga Rp 55.000. Setiap tusuk berisi potongan daging sapi ukuran sedang, tekstur empuk, tidak berserat, dan masih juicy.

Rasa sate cenderung manis dengan aroma smokey, menambah kenikmatan. Hidangan ini bisa dinikmati langsung atau dipadukan dengan kecap khusus dan sambal tomat. Kombinasi daging, sambal, dan kecap menghasilkan rasa manis, pedas, dan asam segar dari sambal tomat.

Sambal tomat di Haji Yetty sangat segar, karena diracik secara dadakan. Potongan tomat melimpah dan cabe rawit diiris kasar berpadu menjadi satu, menciptakan rasa segar dan pedas.

Selain sate, gerai ini juga menawarkan gulai sapi. Semangkuk gulai dibanderol Rp 40.000. Gulai terdiri dari potongan daging sapi empuk, kuah santan kaya rasa, sedikit manis dan gurih. Tambahan potongan iga juga hadir, meski tidak banyak, tetap empuk.

Soto sapi juga menjadi menu andalan. Soto daging sapi santan dijual seharga Rp 40.000. Semangkuk soto mirip gulai tapi lebih lengkap dan berwarna. Isiannya terdiri dari potongan daging sapi bertekstur empuk, tulangan iga, irisan tomat, daun bawang, dan emping.

Rasa kuah soto cenderung gurih asin, kemudian muncul jejak pedas. Pedasnya berasal dari campuran cabe dan merica, terasa kuat di tenggorokan namun tidak terlalu tajam.

Sebagai pencuci mulut, pelanggan dapat memesan buah potong yang dikemas dalam cup plastik. Pilihan mulai dari melon hingga semangka, harganya Rp 15.000 per cup.

Alamat gerai Sate Maranggi Haji Yetty di Cempaka Putih: Jl. Letjen Suprapto No.Kav. 3, RT.10/RW.7, Cemp. Putih Tim., Kec. Cemp. Putih, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10510. Gerai buka pukul 09.00 – 21.00 (Senin – Jumat) dan pukul 22.00 (Sabtu – Minggu).

Sate Maranggi Haji Yetty di Cempaka Putih menjadi pilihan tepat bagi yang ingin merasakan olahan daging berkualitas dengan cita rasa autentik Purwakarta. Tanpa harus pergi jauh, pelanggan dapat menikmati sate legendaris ini di ibu kota, terutama selama libur Idul Adha.

Sate MaranggiPurwakartaCempaka PutihIdul AdhaHaji YettyDaging SapiSambal Tomat

Komentar

Memuat komentar...