SBY: Pelajaran Krisis 2008, Kepercayaan dan Fiskal
Gambar atau konten salah?
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan Presiden Indonesia ke‑6, berbicara di sebuah konferensi internasional di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, pada 02 Juni 2026. Ia mengingat kembali masa kepemimpinannya ketika dunia dilanda krisis ekonomi global pada 2008.
Menurutnya, Indonesia pada saat itu tidak kebal dari dampak krisis keuangan global. Namun, negara mampu bertahan berkat kepercayaan pasar yang terjaga, kebijakan fiskal yang hati‑hati, serta koordinasi kebijakan yang baik. “Ketika krisis keuangan global melanda pada tahun 2008, Indonesia tidak kebal terhadap dampaknya. Namun kita mampu bertahan karena menjaga kepercayaan, menjaga kehati‑hatian fiskal, menjaga permintaan domestik, dan koordinasi kebijakan yang baik,” ujarnya.
SBY menambahkan bahwa dalam situasi ketidakpastian, pelaku pasar tidak hanya melihat angka‑angka indikator ekonomi. Mereka lebih memperhatikan arah kebijakan dan tata kelola pemerintahan. “Kita belajar bahwa kredibilitas sangat penting. Di masa ketidakpastian, pasar tidak hanya mendengarkan angka‑angka, tetapi juga kualitas tata kelola,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur sebagai bagian dari menjaga kredibilitas negara. Pengalaman menghadapi tsunami di Aceh pada 2004 menjadi contoh. “Ketika kita membangun kembali Aceh setelah tsunami, kita belajar bahwa rekonstruksi bukan hanya tentang bangunan, jalan, dan rumah. Rekonstruksi juga tentang memulihkan martabat, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan perdamaian,” jelasnya.
Selain tata kelola domestik, SBY menilai bahwa keterlibatan aktif Indonesia dalam aksi global juga dapat memperkuat kredibilitas. Ia mengingat partisipasi Indonesia dalam diplomasi iklim, termasuk Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada 2007. “Ketika Indonesia berpartisipasi dalam diplomasi iklim global, termasuk Konferensi Perubahan Iklim di Bali pada 2007, kita belajar bahwa negara berkembang harus menjadi bagian dari solusi,” ujar SBY.
Walaupun masa kepemimpinannya sudah berlalu dan pemerintahan kini dipimpin oleh orang lain, SBY percaya nilai‑nilai tersebut tetap relevan. “Menurutnya meski waktu sudah berlalu dan pemerintahan kini sudah berganti pemimpin, namun nilai‑nilai ini masih bisa diterapkan untuk menjaga kredibilitas Indonesia baik di mata asing maupun pelaku pasar domestik. Pelajaran‑pelajaran tersebut tetap relevan hingga saat ini,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, SBY menekankan bahwa kepercayaan, kebijakan fiskal yang hati‑hati, dan keterlibatan dalam isu‑isu global menjadi kunci bagi Indonesia untuk tetap stabil dan dipercaya di mata dunia. Dengan mengingat pelajaran masa lalu, negara dapat terus memperkuat posisi ekonominya di tengah ketidakpastian global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
