Sekolah Rakyat Target 47 Ribu Siswa, Masih Kekurangan Guru
Gambar atau konten salah?
Program Sekolah Rakyat sedang mengalami ekspansi besar-besaran, namun Kementerian Sosial mengakui masih ada tantangan serius dalam menyediakan tenaga pendidik dan fasilitas pendukung. Jumlah siswa Sekolah Rakyat terus bertambah seiring program meluas, dan pemerintah menargetkan sekitar 32 ribu siswa baru pada tahun ajaran 2026-2027.
Jika ditambahkan dengan siswa angkatan sebelumnya, diperkirakan lebih dari 47 ribu orang akan belajar di sekolah ini pada tahun ajaran tersebut. Namun, di balik angka besar ini, masih banyak kendala sumber daya.
“Untuk tenaga kependidikan, kami masih kurang guru, masih kurang wali asrama dan tenaga pendukung lainnya,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, di Sekolah Rakyat 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (03 Juni 2026).
Model pendidikan Sekolah Rakyat menggunakan sistem berasrama, yang memerlukan lebih banyak tenaga pendamping dibanding sekolah reguler. Karena itu, kekurangan guru dan wali asrama menjadi masalah utama.
“Kemudian juga masih ada kekurangan asrama, apalagi nanti ada transisi dari sekolah rintisan yang jumlahnya 166 titik. Sementara gedung permanen baru mencapai sekitar 100 titik. Jadi ini masih menjadi tantangan yang cukup serius,” tambah Gus Ipul.
Hingga saat ini, gedung permanen telah dibangun di 93 titik, tujuh titik masih dalam proses pembangunan, dan empat lainnya dalam tahap persiapan. Pemerintah menargetkan 104 titik gedung permanen pada tahun ini, dan 200 titik pada tahun 2027.
Untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar, Kemensos bekerja sama dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN), Kementerian PAN-RB, dan kementerian terkait membuka proses rekrutmen khusus. Seluruh guru yang diterima wajib melalui seleksi ketat dan sudah memiliki sertifikasi pendidikan profesi guru (PPG).
“Tahun ini kita sudah merekrut lebih dari 5 ribu guru, insyaallah. Lebih dari 5 ribu guru untuk tahun ini,” ungkap Gus Ipul. Meskipun begitu, sebagian kecil guru yang lolos seleksi memilih mengundurkan diri setelah diterima.
“Sudah diterima lalu mengundurkan diri, tentu kami menyayangkan. Karena sebelum ditetapkan menjadi PPPK di lingkungan Sekolah Rakyat, mereka sudah menyatakan kesediaannya,” sampaikan Gus Ipul.
Di sisi lain, Kemensos memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan normal meski terdapat kekurangan tenaga pendidik di beberapa lokasi. “Ada mekanisme yang kami buat untuk saling membackup. Jadi sampai sekarang, jika ada kekurangan-kekurangan, masih bisa ditangani,” kata Gus Ipul.
Dengan upaya rekrutmen dan pembangunan infrastruktur, pemerintah berharap dapat menutup celah tenaga dan fasilitas. Namun, tantangan masih ada, terutama dalam menyesuaikan jumlah asrama dan gedung permanen dengan jumlah siswa yang terus bertambah.
Secara keseluruhan, program Sekolah Rakyat menunjukkan pertumbuhan signifikan, namun masih perlu dukungan lebih lanjut dalam penyediaan guru, asrama, dan fasilitas permanen agar dapat memenuhi kebutuhan pendidikan bagi ribuan siswa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
