Selat Hormuz Sidokare: Jalan Tertutup Viral Sidoarjo

Tika M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Selat Hormuz Sidokare: Jalan Tertutup Viral Sidoarjo

Gambar atau konten salah?

Di Sidoarjo, warga kembali terguncang oleh konflik tetangga yang berujung pada penutupan akses jalan di Perumahan Sidokare Asri. Netizen menyebutnya “Selat Hormuz Sidokare” setelah aksi penutupan jalan alternatif menggunakan jemuran dan plang besi menjadi viral.

Rekaman CCTV yang memperlihatkan kendaraan kesulitan melintas—beberapa bahkan mengalami lecet—membuat video tersebut menyebar luas di platform TikTok. Video tersebut menunjukkan seorang pria lanjut usia (lansia) menjaga ketat akses jalan depan rumahnya dengan tongkat, seolah menjadi penjaga perbatasan yang sangat selektif.

Dalam video, muncul tulisan: “Penjagaan Selat Hormuz ✖ Jalan Akses Perum ✔,” yang menjadi bahan perbandingan dengan jalur laut strategis di Iran. Julukan ini pertama kali muncul melalui unggahan akun TikTok @Brilliant_Prayoga, yang mengaitkan penutupan jalan perumahan dengan ketegangan di Selat Hormuz.

Ketua RT setempat, Abdul Rofik, mengungkapkan bahwa aksi tersebut dilakukan secara spontan dan tanpa koordinasi maupun izin resmi dari pengurus lingkungan. Ia menegaskan bahwa portal yang dipasang bukan fasilitas umum, melainkan konstruksi pribadi yang sengaja dibuat oleh pelaku untuk menghalau akses kendaraan yang dianggap mengganggu kenyamanan rumahnya. “Kalau portal resmi dari RT itu ada, tapi ini penutup jalan pribadi, yang bikin sendiri,” tegasnya.

Pelaku, yang berinisial MH dan berusia 66 tahun, akhirnya membuka suara. Ia mengklaim bahwa tindakan tersebut dilakukan secara sadar untuk membenahi lingkungan perumahan yang sering semrawut oleh kendaraan luar. Ia juga mengekspresikan kekhawatirannya terhadap keselamatan anak-anak kecil di sekitarnya, mengingat jalan alternatif tersebut sering dilalui kendaraan dengan kecepatan tidak terkontrol. “Saya itu tujuannya penertiban, banyak mobil parkir seenaknya dan tidak memikirkan lingkungan,” ujar MH.

Warganet kemudian membawa isu ini ke level lebih tinggi dengan mendaftarkan alamat rumah MH sebagai titik koordinat baru di Google Maps dengan nama “Selat Hormuz Sidokare”. Hingga kini, lokasi tersebut telah dibanjiri ulasan dari para pemandu lokal, mayoritas berisi sindiran serta nada kekecewaan terhadap penutupan akses jalan umum tersebut. Salah satu ulasan Google Maps menulis: “Njauk tulung gruduk en ae (minta tolong digeruduk saja)”.

MH merasa dirugikan oleh viralnya video CCTV tersebut, yang menurutnya telah menyudutkan dirinya tanpa adanya proses klarifikasi terlebih dahulu secara langsung. Ia pun menegaskan akan mengambil langkah hukum dengan melaporkan penyebar video tersebut ke Polresta Sidoarjo. “Rencana hari Senin saya akan laporkan ke Polresta Sidoarjo, bagian IT,” tandasnya.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana sebuah tindakan sederhana di lingkungan lokal dapat dengan cepat menjadi fenomena viral, menciptakan titik baru di peta digital, dan memicu tindakan hukum. Keputusan untuk menutup jalan tanpa izin, serta reaksi warga dan media sosial, menyoroti ketegangan antara hak pribadi dan kepentingan publik di era digital. Situasi ini juga menegaskan pentingnya koordinasi dan izin resmi dalam mengelola infrastruktur publik, sekaligus memperlihatkan bagaimana media sosial dapat memperluas dampak konflik kecil menjadi isu yang lebih luas.

Selat Hormuz Sidokarepenutupan jalanTikTokCCTVSidoarjohak pribadikepentingan publik

Komentar

Memuat komentar...