Semburan Lumpur Lapindo Berkurang: Data Tetap Misteri

Rizki W. · 3 min baca · 5 hari lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Semburan Lumpur Lapindo Berkurang: Data Tetap Misteri

Gambar atau konten salah?

Genap dua dekade sejak semburan pertama kali terjadi, kondisi Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo masih menjadi misteri bagi publik. Informasi tentang volume semburan harian dan fluktuasi suhunya semakin samar, sementara aliran air dan lumpur yang biasanya dibuang ke Sungai Porong tidak lagi terlihat.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas pembuangan material terlarut ke badan sungai telah menurun drastis dalam seminggu terakhir. Pipa‑pipa raksasa yang biasanya menyemburkan air hasil olahan kini mendadak kering tanpa aktivitas visual.

Di area tanggul penahan lumpur, mulai titik 25 hingga titik 35, terlihat tiga kapal keruk yang masih berada di area penampungan. Di kanan dan kiri tanggul terdapat sejumlah pipa yang diduga digunakan untuk mengalirkan air dari kolam penampungan menuju Sungai Porong. Namun, dalam seminggu terakhir, aliran air dan lumpur dari pipa‑pipa tersebut tidak lagi terlihat. Terdapat enam pipa utama dan empat pipa di area spillway yang tampak tidak mengeluarkan aliran air maupun lumpur.

Ketertutupan akses informasi mengenai volume semburan aktual menjadi tanda tanya besar bagi para pengamat lingkungan dan masyarakat terdampak. Sejak kendali penanganan beralih di bawah Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Kementerian PUPR, pembaruan data berkala yang bisa diakses publik justru kian minim. Meskipun demikian, hingga genap 20 tahun, informasi terbaru terkait volume semburan maupun suhu lumpur sulit diperoleh.

Sebagai gambaran historis, berdasarkan data PPLS tahun lalu, pada awal kemunculannya semburan lumpur mencapai sekitar 100 ribu hingga 120 ribu meter kubik per hari dengan kandungan padatan 35 persen dan temperatur mencapai 100 derajat Celsius. Pada pengukuran tahun 2017, volume semburan tercatat masih mencapai 86.270 meter kubik per hari dengan sifat semburan yang fluktuatif. Setelah periode tersebut, kepastian angka luapan Lumpur Lapindo ini sulit diakses publik.

Volume ini sangat krusial mengingat semburan Lumpur Lapindo diikuti deformasi geologi aktif di sekitar lokasi semburan. Sejumlah ahli geologi juga berpendapat fenomena Lusi merupakan gunung lumpur yang berkaitan dengan aktivitas vulkanisme dan belum dapat diprediksi kapan akan berhenti.

Selama ini, air dan lumpur dari semburan Lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo dialirkan dan ditampung di area tanggul penampungan. Sebagian air yang sudah diproses dipompa dan dibuang ke Sungai Porong. Di muara sungai, endapan lumpur itu terus menumpuk menjadi sedimen hingga membentuk daratan baru yang dikenal sebagai Pulau Lusi. Pengaliran lumpur ke Kali Porong dilakukan secara mekanis karena kondisi lumpur yang sangat kental membuat aliran tidak bisa bergerak secara gravitasi akibat keterbatasan beda ketinggian antara permukaan lumpur dengan Kali Porong.

Berbagai upaya dilakukan, di antaranya mengoperasikan kapal keruk dan pompa untuk mengarahkan aliran lumpur ke selatan melalui saluran spillway sebelum dipompa keluar menuju Kali Porong. Hilangnya aliran pembuangan mekanis secara mendadak dalam beberapa hari terakhir dibenarkan oleh warga sekitar tanggul yang rutin mengamati pergerakan pipa pembuangan tersebut.

Puji (58), mantan warga Kelurahan Siring, mengaku dua minggu lalu pipa pembuangan masih terlihat mengalirkan air dan lumpur menuju Sungai Porong. “Masih keluar air sama lumpur. Tapi sekitar satu minggu ini sudah tidak kelihatan mengalir lagi,” kata Puji. Ia mengaku tidak mengetahui penyebab berhentinya aliran tersebut maupun alasan teknis penghentian pembuangan air dan lumpur ke Sungai Porong. Mandeknya aliran ini kian menebalkan dinding misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi di pusat semburan Lumpur Lapindo saat ini.

Situasi ini menegaskan perlunya transparansi data dan pemantauan berkelanjutan. Tanpa informasi yang akurat, masyarakat tidak dapat menilai dampak lingkungan dan risiko geologis yang masih berlangsung. Keberadaan Lumpur Lapindo tetap menjadi peringatan bahwa aktivitas industri dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang yang sulit diprediksi. Dengan data yang terbatas, upaya mitigasi dan penanggulangan masih berada di ambang ketidakpastian.

Lumpur LapindoSidoarjoSungai PorongPPLSLusipipa pembuangandeformasi geologiPulau Lusi

Komentar

Memuat komentar...