Serangan Jantung 37 Tahun di Jakarta, Terjadi Saat Istirahat
Gambar atau konten salah?
Marcel Judodihardjo, seorang pria berusia 37 tahun, mengalami serangan jantung di Jakarta Barat pada 20 April 2026. Ia menjelaskan bahwa kejadian itu terjadi saat ia sedang beristirahat, bukan saat berlari atau bermain padel dengan intens. “Bulan lalu gue kena serangan jantung, umur gue 37, lagi aktif-aktifnya, dan kenanya tuh pas lagi main padel. Berasanya tuh waktu itu bukan pas lagi lari kenceng atau lagi intens, tapi berasanya tuh waktu itu pas lagi istirahat,” kata Marcel dalam rekaman video yang ia unggah di Instagram.
Setelah merasakan gejala, Marcel langsung menuju Unit Gawat Darurat (UGD). Ia mendapat pertolongan dari dokter, dan waktu antara munculnya gejala hingga tindakan medis berlangsung kurang lebih dua jam. “Merasa ada yang salah, Marcel langsung pergi ke Unit Gawat Darurat (UGD) dan mendapat pertolongan dari dokter. Jarak waktu dari gejala muncul sampai diberikan tindakan kurang lebih dua jam,” ia ungkap.
Marcel menekankan bahwa ia sudah rutin melakukan Medical Check Up (MCU). Seorang pasien yang cukup aktif, ia melakukan pemeriksaan lengkap sebulan sebelum kejadian. “Tiap kali kalau (pemeriksaan) kolesterolnya aman, waktu itu LDL gue tuh 75 ya. Gue tuh cenderung ngerasa aman,” ujarnya. Namun, setelah berbincang dengan dokter dan peneliti, ia menyadari bahwa kesehatan jantung lebih kompleks. “Tapi, ternyata setelah gue ngobrol sama dokter dan research-research, ternyata tuh kesehatan jantung jauh lebih kompleks,” tambahnya.
Dalam penjelasan dokter, serangan jantung Marcel dipicu oleh plak tidak stabil yang robek. Tidak selalu penyumbatan total akibat penebalan plak yang perlahan. Kadang plak tipis justru tidak stabil, kemudian robek atau pecah secara tiba-tiba. “Jadi, darahnya tuh nanti akan kumpul, menggumpal, jadi tuh menyumbat aliran darahnya,” jelas dokter tersebut.
Gejala yang dialami Marcel tidak disertai rasa nyeri. Ia merasakan detak jantung cepat, wajah pucat, keringat dingin, tekanan pada dada, dan napas pendek. “Gua waktu itu tuh nggak berasa nyeri sama sekali. Tapi, buat jaga-jaga langsung ke UGD dan ternyata untungnya itu adalah keputusan yang sangat tepat,” ia katakan.
Setelah pemulihan, Marcel tidak memerlukan perawatan khusus, namun dokter memberikan beberapa larangan. Selama satu bulan pertama, ia tidak boleh melakukan weight training, high intensity training atau olahraga berat lainnya. “Sebulan pertama belum boleh weight training, high intensity training/sport, dan beberapa aktivitas fisik berat lainnya,” jelas Marcel.
Selain itu, ia disarankan untuk memperhatikan pola makan. “Selain itu, secara diet lebih general seperti pengetahuan umum, yang pasti lebih membatasi makanan deep fried, minuman manis, dan lain-lain,” tambahnya. Marcel juga menekankan pentingnya kualitas tidur dan pengelolaan stres. Ia mengatur jadwal tidur, mengurangi stres, dan menambahkan meditasi ke rutinitas harian. “Saya pribadi strict diet dan maintain kualitas tidur, dan sekarang lagi fokus juga ke mental wellness termasuk meditasi,” tutupnya.
Marcel kini merasa kondisinya sudah jauh lebih baik dan ia diperbolehkan melakukan aktivitas normal. Ia tetap menjaga pola hidup sehat dan terus memantau kondisi jantungnya.
Kejadian ini menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan jantung secara rutin, bahkan bagi orang yang aktif. Plak tidak stabil dapat memicu serangan jantung tanpa gejala awal yang jelas. Menjaga pola makan, tidur, dan stres menjadi kunci dalam pencegahan dan pemulihan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Anak 7 Tahun di India Kembali Sehat Tanpa Dialisis Sudah
5 Sayuran Ringan Bantu Turunkan Lemak Viseral Hanya 30 Hari
Lalat Parasit Baru Menyerang Sapi di Texas, Dampak Ekonomi
Frisian Flag Indonesia Dorong Keluarga Minum Susu Sehari
Kejahatan Donor Sperma Ilegal Robert Albon Tertangkap
Singapura Jadi Blue Zone, Harapan Hidup 84 Tahun di Singapura
Berita Terbaru
