Siloam Capai 98,8% Keberhasilan CABG lewat MICS di Siloam

Sigit W. · 3 min baca · 15 hari lalu · 46 dibaca
Bisik.id
Siloam Capai 98,8% Keberhasilan CABG lewat MICS di Siloam

Gambar atau konten salah?

Operasi bypass jantung dulu dianggap sebagai tindakan besar. Dada dibuka lebar, luka besar, pemulihan lama. Kini, teknologi medis memberi pendekatan yang lebih ramah bagi pasien. Melalui teknik Minimally Invasive Cardiac Surgery (MICS), prosedur bypass atau Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) dapat dilakukan dengan sayatan yang jauh lebih kecil.

Bypass jantung atau CABG adalah prosedur untuk mengatasi penyumbatan pada pembuluh darah koroner. Dokter membuat “jalur baru” menggunakan pembuluh darah dari bagian tubuh lain agar aliran darah ke jantung kembali lancar. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh penumpukan plak (aterosklerosis) yang meningkatkan risiko serangan jantung.

Menurut dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular dr Heston G B Napitupulu, Sp.BTKV (K) MARS dari Siloam Heart Hospital, tindakan ini adalah salah satu “golden standard” untuk pasien‑pasien yang mengidap penyakit jantung kompleks. “Jadi nanti kami mengambil pembuluh darah bisa dari kaki, bisa dari dinding dada dan kami sambungkan di jantung melewati pembuluh darah yang tersumbat,” ujarnya di Siloam Cardiac Summit 2026, di Jakarta Selatan, Sabtu (25 April 2026).

Dr Heston menjelaskan bahwa untuk CABG ada dua teknik yang dapat dilakukan tim dokter: pertama dengan membuka dinding dada atau sternotomi, dan kedua dengan MICS yang bersifat minimal invasif. Teknik sternotomi memungkinkan dua penyakit, seperti penyakit jantung koroner dan katup, diobati sekaligus.

Untuk memilih MICS, pasien harus memenuhi beberapa kondisi. “Jika pasien itu hanya menderita penyakit jantung koroner, tidak ada penyakit lain. Misalnya penyakit jantung koroner dan katup. Kami melakukan tindakan sternotomi, sehingga dua penyakit tersebut bisa kami obati secara bersama-sama,” jelas dr Heston. “Kedua, misalnya pada pasien yang memiliki kelainan bentuk tulang dada, sehingga sulit dilakukan sternotomi, kami bisa melakukannya dengan tindakan dari samping,” tambahnya. MICS juga menjadi opsi bagi pasien yang mengutamakan estetika, karena sayatan berada di samping tubuh. Selain itu, prosedur ini dipilih untuk pasien dengan kelainan atau penyakit pembuluh darah yang tidak terlalu kompleks, sehingga hasilnya sama baiknya dengan sternotomi.

Keunggulan MICS di Siloam Heart Hospital terlihat dari tingkat keberhasilan CABG mencapai 98,8%. Dr Heston menekankan bahwa operasi minim invasif memberikan bekas luka yang lebih kecil. Lama perawatannya mungkin bisa 4 hari, 5 hari. Kemudian juga lebih sedikit kami melakukan tindakan intervensi. Jadi hanya sedikit yang dibuka, sehingga kami harapkan risiko pasca operasi jadi lebih minimal,” katanya.

Siloam Heart Hospitals telah menjadi Chest Pain Ready Hospital (CPRH), rumah sakit yang siap menangani kegawatdaruratan jantung secara cepat, tepat, dan terintegrasi. Kesiapan ini didukung oleh sistem end‑to‑end mulai dari IGD, pemeriksaan EKG dalam waktu kurang dari 10 menit, hingga kesiapan Cath Lab untuk tindakan kateterisasi dan tim medis jantung multi disiplin 24/7. Prinsip “time is muscle” menjadi landasan, karena setiap menit sangat krusial dalam menyelamatkan otot jantung dan meningkatkan peluang hidup pasien.

Jika mengalami gejala nyeri dada, masyarakat diimbau untuk segera menghubungi call center darurat Siloam di 1500911 untuk mendapatkan penanganan cepat dan tepat.

Dengan tingkat keberhasilan 98,8% dan kesiapan darurat yang komprehensif, Siloam Heart Hospital menunjukkan komitmen terhadap perawatan jantung. MICS menawarkan alternatif yang lebih kecil luka, pemulihan lebih cepat, dan risiko lebih rendah, sementara sistem CPRH memastikan respons cepat saat jantung berperang. Pasien dapat memilih metode yang sesuai kebutuhan medis dan estetika, dengan dukungan tim ahli dan fasilitas modern.

Bypass JantungCABGMICSSiloam Heart HospitalMinim InvasifTingkat Keberhasilan 98,8%Chest Pain Ready Hospital

Komentar

Memuat komentar...