Siloam Lippo Village Raih Sertifikasi JCI Stroke Iskemik
Gambar atau konten salah?
Stroke tetap menjadi penyebab utama kematian dan disabilitas di Indonesia. Setiap tahun, ratusan ribu orang mengalami serangan, dan banyak yang akhirnya mengalami kecacatan permanen karena penanganan terlambat.
Di kondisi stroke, setiap menit sangat krusial. Sel otak dapat rusak dalam hitungan menit ketika aliran darah terganggu. Karena itu, kecepatan respon medis menjadi faktor penentu.
Menjawab kebutuhan akan penanganan stroke yang cepat dan tepat, Siloam Hospitals Lippo Village (SHLV) menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang memperoleh Clinical Care Program Certification (CCPC) untuk Acute Ischemic Stroke dari Joint Commission International (JCI). Sertifikasi ini juga menegaskan bahwa SHLV telah mempertahankan akreditasi JCI selama 7 tahun berturut‑turut. Pengakuan resmi diterima pada 11 Maret 2026.
Menurut Direktur Rumah Sakit, dr. Erick Prawira Suhardhi, MARS, “Standar ini tidak hanya menilai fasilitas, tetapi juga konsistensi tim medis dalam menjalankan protokol berbasis bukti (evidence‑based) untuk menghasilkan outcome yang optimal,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada 7 Mei 2026.
Keikutsertaan SHLV dalam proses sertifikasi didorong oleh tekad memastikan pasien stroke dapat menerima layanan dengan standar global tanpa harus pergi ke luar negeri. Dengan sistem stroke yang terstruktur, SHLV memenuhi kriteria ketat JCI, termasuk kecepatan respon, koordinasi multidisiplin, dan pemantauan hasil klinis berkelanjutan.
Dr. Erick menegaskan, “Dalam penanganan stroke, kecepatan dan ketepatan sangat krusial. Sertifikasi ini menunjukkan bahwa sistem kami mampu memberikan respon yang cepat, terkoordinasi, dan sesuai standar internasional, sehingga dapat meningkatkan peluang pemulihan pasien secara signifikan.”
Penanganan stroke iskemik akut memerlukan tindakan segera untuk membuka kembali aliran darah ke otak. Tanpa intervensi cepat, kerusakan sel otak dapat terjadi dalam hitungan menit, mengakibatkan fungsi tubuh permanen. Oleh karena itu, memilih rumah sakit dengan sistem stroke teruji menjadi faktor penting.
Sebagai pusat layanan neuroscience unggulan, SHLV didukung oleh tim multidisiplin: dokter spesialis saraf, bedah saraf, radiologi, ICU, hingga rehabilitasi medik. Dr. Erick menjelaskan bahwa dukungan teknologi medis terkini dan protokol klinis terstandardisasi memungkinkan penanganan stroke dilakukan secara cepat, tepat, dan berkesinambungan.
“Kolaborasi tim dan kesiapan teknologi menjadi kunci utama. Kami memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang optimal sejak fase akut hingga pemulihan,” tutup dr. Erick.
Dengan pencapaian ini, SHLV menegaskan komitmennya untuk menyediakan layanan stroke yang cepat, terkoordinasi, dan memenuhi standar internasional. Hal ini diharapkan dapat memperbaiki peluang pemulihan pasien stroke di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Singapura Target Kurangi Konsumsi Garam Mulai 2026
Teka-teki Lingkaran: Cari 7 Hewan Tersembunyi di Dalamnya
Stunting di Sanggau Naik, Menkes Sorot Prioritas MBG
Bayi Keracunan Nitrit Usai Susu Formula Dicampur Jus Sayuran
Rhabdomyolysis Mengintai Pelari Maraton, Bisa Sebabkan Gagal Ginjal
Makan Lambat: Kunci Psikologis yang Jarang Disadari
Berita Terbaru
Sesar Kendeng Segmen Pandan Aktif, Nganjuk Waspada
Bank Mega Syariah Optimis Pembiayaan Tembus Rp5,7 Triliun
Tanjung Verde Kejutkan Piala Dunia, Imbang Lawan Uruguay
Prabowo Kirim Anggrek Ungu ke Rumah Jokowi di Solo
Banjir Rob Pati Sebulan, Tanggul 450 Meter Jebol
160 Rumah di Madiun Keluhkan Air PDAM Sering Mati
Singapura Target Kurangi Konsumsi Garam Mulai 2026
Pria 70 Tahun Tanpa Jari Tangan Kiri Tetap Setia Buat Sachima
