Rhabdomyolysis Mengintai Pelari Maraton, Bisa Sebabkan Gagal Ginjal

Dani L. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Rhabdomyolysis Mengintai Pelari Maraton, Bisa Sebabkan Gagal Ginjal

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Lari, dari sekadar fun run 5 kilometer sampai maraton dan ultra-maraton lintas alam, makin banyak peminatnya. Olahraga ini memang bagus buat jantung dan daya tahan tubuh. Tapi di balik euforia garis finis, ada kondisi medis serius yang mengintai kalau kita terlalu memaksakan diri: rhabdomyolysis.

Menurut Cleveland Clinic, rhabdomyolysis adalah kondisi medis serius akibat kerusakan atau kematian jaringan otot rangka secara cepat. Zat dalam sel otot, seperti protein mioglobin dan elektrolit, bocor ke aliran darah. Ini bisa memicu kerusakan organ, terutama ginjal. Kondisi ini biasanya terjadi karena aktivitas berlebihan, trauma, atau efek obat tertentu. Artinya, aktivitas fisik berat seperti maraton juga berisiko.

Gejala rhabdomyolysis bervariasi, dari ringan sampai berat. Biasanya muncul satu sampai tiga hari setelah cedera otot. Beberapa orang bahkan tidak merasakan nyeri otot sama sekali. Tanda-tanda lain termasuk dehidrasi, frekuensi buang air kecil menurun, mual, dan penurunan kesadaran.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan ada tanda alami lain. "Dia kelelahan (akut). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," katanya saat dihubungi pada Sabtu, 20 Juni 2026. Kalau terlambat ditangani, kondisi ini bisa menjadi Acute Kidney Injury (AKI) atau cedera ginjal akut. Tandanya bisa dilihat dari warna urine. "Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," ujarnya. Mioglobin, pecahan protein dari otot, jadi penyebabnya. "Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," tambahnya.

Salah satu pemicu utama rhabdomyolysis, menurut dr. Tunggul, adalah kurang persiapan. "Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," katanya. Pemula adalah kelompok paling rentan. "Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu (rhabdo) terutama pada pemula," jelasnya. Tapi atlet elit juga tidak kebal. "Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," katanya.

Kerusakan sel otot yang mengancam ginjal tidak cuma terjadi di lari. Aktivitas fisik intensitas tinggi seperti hyrox juga berisiko. "Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," kata dr. Tunggul.

Meski mengejutkan, rhabdomyolysis yang menyerang ginjal bisa pulih kalau ditangani cepat. "Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," kata dr. Tunggul. "Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," sambungnya.

Intinya, kerusakan sel otot akibat aktivitas fisik ekstrem bisa dialami siapa saja, termasuk pelari marathon yang memaksakan tubuh. Dokter mengingatkan risikonya bisa bikin ginjal kolaps. Kuncinya ada pada pemanasan bertahap dan mendengarkan sinyal tubuh.

rhabdomyolysisginjalmaratonpemanasanaktivitas fisikkelelahandehidrasi

Komentar

Memuat komentar...