Siswa Nabire Tegak di Hardiknas 2026, Tidak Menghalangi
Gambar atau konten salah?
Di kota Nabire, di provinsi Papua Tengah, seorang siswa dengan keterbatasan fisik menorehkan prestasi luar biasa pada Hari Pendidikan Nasional 2026. Deki Degei memimpin upacara di Lapangan Mepa Boarding School, menampilkan tekad yang tak tergoyahkan meski harus berdiri pada satu kaki.
Acara berlangsung pada Sabtu, 02 Mei 2026, di lapangan sekolah. Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa hadir sebagai pembina, menandai pentingnya peran siswa dalam memperingati hari pendidikan. Hardiknas 2026 menjadi ajang bagi para pelajar untuk menunjukkan semangat belajar.
"Dia (Deki Degei) cukup percaya diri dan tegas saya lihat itu," ungkap Ketua Yayasan Mepa Boarding School, Jon Fallo kepada detikcom, Rabu, 06 Mei 2026.
Deki, siswa kelas XI di Mepa Boarding School, berdiri tegak tanpa tongkat. Setiap kali hendak memberi instruksi, ia melompat satu kaki menghadap pembina. Upacara berlangsung sekitar 40 menit, dan ia menyelesaikannya dengan lancar.
"Kalau berdirinya itu lumayan lama, namanya upacara kan sekitar 40-an menit pasti lewat itu dan dia selesaikan sampai selesai. Saya nggak ragu sama sekali karena dia punya kemampuan lebih dari cukup," tuturnya.
Sejak terpilih, Deki harus menempuh perjalanan berat, termasuk menyeberangi danau dari rumah ke sekolah. Ia menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi rintangan.
"Itu kan menyeberang danau itu (untuk ke tempat seleksi), saya nggak tahu caranya bagaimana kok dia besoknya datang pagi bawa persyaratannya lengkap semua," ungkapnya.
Deki menolak menggunakan tongkat, memilih berlatih sendiri. Ia tidak meminta belas kasihan, melainkan bertindak seperti orang normal dalam setiap aktivitas.
"Dia dengan kondisi begitu tidak pernah minta dikasihani, apa-apa dilakukan dan dia lakukan persis seperti orang normal. Kerja praktis di sekolah bahkan di asrama semua dia lakukan seperti orang normal," tutur Jon.
Jon menegaskan bahwa siswa tersebut sudah terbiasa beraktivitas tanpa bantuan. Sekolah mendukungnya dengan memberi motivasi.
"Kita memang prihatin tapi kalau dia sendiri mengatakan dia bisa, masa kita ragu sama dia. Dan kelihatannya itu dengan kami memotivasi dia, kami dukung dia melakukan apa saja," jelasnya.
Gubernur Papua Tengah mengekspresikan kekaguman atas keberhasilan Deki. Ia menekankan bahwa keterbatasan tidak menghentikan mimpi.
"Sampai beliau (Gubernur Papua Tengah) mengungkapkan kalimat bahwa, 'Keterbatasan itu tidak bisa menghentikan mimpi anak-anak itu, jadi tetaplah bermimpi berjuang setinggi Gunung Cartenz, jadilah pemimpin dengan kondisi apapun, karena semua bisa'," terangnya.
"Jadi saya pikir memang beliau cukup bangga kalau Deki bisa menyelesaikannya. Kalau kita bicara konteksnya dia sanggup melakukan itu dan kelihatan itu beliau senang lihat Deki berhasil gitu," tambah Jon.
"Semua tugas yang harus dilakukan oleh siswa di asrama maupun di sekolah, dia lakukan persis seperti orang yang normal," ujarnya.
"Karakternya kelihatan nggak ada bikin masalah. Saya sih yakin dia ke depan jadi itu, asal kami dukung dia terus dia begitu, jadi (sukses) itu," tegas Jon.
Kesuksesan Deki menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi tekad dan kemampuan seseorang untuk memimpin. Peran aktifnya di upacara Hardiknas 2026 memberi contoh bagi teman-teman sekelas dan masyarakat luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mortir Perang Dunia II Ditemukan di Jayapura, Papua, Risiko
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Weton Tulang Wangi: Tradisi Penanggalan Jawa Tetap Ada
