Smartwatch AI Di Indonesia: Mengubah Identitas Generasi

Sari D. · 2 min baca · 7 hari lalu · 49 dibaca
Bisik.id
Smartwatch AI Di Indonesia: Mengubah Identitas Generasi

Gambar atau konten salah?

Wearable, seperti smartwatch, sudah jadi bagian dari rutinitas harian. Tanpa disadari, gadget ini dapat memengaruhi cara hidup penggunanya. Pasar perangkat wearable di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Setiap bulan, munculnya smartwatch baru yang menyesuaikan dengan gaya hidup sehat memberi warna tersendiri.

Namun, belum semua orang menyadari bahwa jam tangan pintar berbasis kecerdasan buatan—yang dipakai jutaan warga Indonesia—tidak sekadar alat pemantau kesehatan. "Ia telah menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan yang memengaruhi penggunanya," ujar Dr. Ressa Uli Patrissia pada 27 Mei 2026. Ia baru saja dipromosikan sebagai Doktor Komunikasi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid.

Dalam disertasinya berjudul “AI‑Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations,” Ressa menyimpulkan bahwa pengguna AI smartwatch di Indonesia sedang mengalami pergeseran identitas yang dipengaruhi oleh algoritma. Kesimpulan ini didapat setelah ia melakukan wawancara mendalam dengan 30 partisipan dari tiga generasi: Gen X, Milenial, dan Gen Z.

Data tahun 2024 menunjukkan bahwa pengguna smartwatch di Indonesia didominasi oleh Gen Z (51 %) dan Milenial (49 %). Tren pertumbuhan ini terus meningkat. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota tier‑1 lainnya, AI smartwatch telah menjadi bagian dari gaya hidup digital sehari‑hari.

Ressa mengakui banyak manfaat teknologi, apalagi yang berbasis kecerdasan buatan, yang memfasilitasi komunikasi antara manusia dan mesin. Meskipun AI smartwatch dapat mengakses data tubuh—detak jantung, frekuensi tidur, bahkan emosi—ia menyarankan agar manusia tetap menjadi pengendali. "Jangan tergantung sepenuhnya pada teknologi, apalagi diarahkan oleh teknologi," tegas Ressa.

Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Dr. Prasetya Yoga Santosa, mengapresiasi riset ini. Ia mengatakan, "Temuan disertasi Ressa Uli Patrissia memperlihatkan bahwa ilmu komunikasi hari ini tidak lagi cukup hanya membaca relasi antarmanusia atau relasi manusia dengan media," menambahkan bahwa manusia kini memasuki era baru. Komunikasi berlangsung dalam hubungan yang semakin kompleks antara manusia, data, algoritma, kecerdasan buatan, perangkat digital, dan struktur sosial masyarakat.

Menurutnya, wilayah penting ini harus dijawab oleh ilmu komunikasi masa depan. Penelitian Ressa menandai langkah awal dalam memahami bagaimana teknologi AI memengaruhi identitas dan interaksi sosial di Indonesia.

Secara keseluruhan, artikel ini menyoroti bahwa AI smartwatch tidak hanya memantau kesehatan, melainkan juga memengaruhi cara kita beridentitas dan berkomunikasi. Penelitian ini membuka ruang bagi para akademisi untuk mengeksplorasi dampak teknologi pada hubungan manusia di era digital.

smartwatchkecerdasan buatanidentitaskomunikasigenerasi Zdata tubuhalgoritma

Komentar

Memuat komentar...