Smartwatch AI Mengubah Identitas Generasi Indonesia 2026

Guntur P. · 2 min baca · 7 hari lalu · 33 dibaca
Bisik.id
Smartwatch AI Mengubah Identitas Generasi Indonesia 2026

Gambar atau konten salah?

Wearable seperti smartwatch kini sudah menjadi bagian rutin dalam aktivitas sehari‑hari. Banyak orang memakai jam tangan pintar tanpa sadar, dan gadget ini ternyata dapat memengaruhi cara mereka berperilaku.

Pasar perangkat wearable di Indonesia masih terus tumbuh. Setiap tahun muncul smartwatch baru yang dirancang khusus untuk mendukung gaya hidup sehat. Namun, belum semua orang menyadari bahwa smartwatch berbasis kecerdasan buatan (AI smartwatch) yang dipakai jutaan warga Indonesia lebih dari sekadar alat pemantau kesehatan.

“Ia telah menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan yang memengaruhi penggunanya,” kata Dr. Ressa Uli Patrissia dalam pernyataan yang diterima pada 27 Mei 2026. Ia baru saja dipromosikan sebagai Doktor Komunikasi di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid.

Disertasinya berjudul AI‑Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations. Dalam karya tersebut, Ressa menyimpulkan bahwa pengguna AI smartwatch di Indonesia sedang mengalami pergeseran menuju identitas yang lebih dipengaruhi oleh algoritma.

Untuk mendukung temuan itu, ia melakukan wawancara mendalam dengan 30 partisipan dari tiga generasi: Gen X, Milenial, dan Gen Z. Pemilihan ketiga generasi ini didasarkan pada data tahun 2024, di mana pengguna smartwatch di Indonesia didominasi oleh Gen Z (51%) dan Milenial (49%).

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota‑kota tier‑1 lainnya, AI smartwatch sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital sehari‑hari. Banyak orang menggunakannya untuk memonitor detak jantung, pola tidur, bahkan emosi.

Ressa menekankan manfaat teknologi ini, namun ia juga mengingatkan agar pengguna tetap menjadi pengendali diri. “Jangan tergantung sepenuhnya pada teknologi, apalagi diarahkan oleh teknologi,” tegasnya.

Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid, Dr. Prasetya Yoga Santosa, memuji riset ini. Ia mengatakan, “Temuan disertasi Ressa Uli Patrissia memperlihatkan bahwa ilmu komunikasi hari ini tidak lagi cukup hanya membaca relasi antarmanusia atau relasi manusia dengan media.”

Menurut Yoga, manusia kini memasuki era baru di mana komunikasi berlangsung dalam hubungan yang semakin kompleks antara manusia, data, algoritma, kecerdasan buatan, perangkat digital, dan struktur sosial masyarakat. Ia menegaskan bahwa bidang ilmu komunikasi harus menanggapi tantangan ini.

Secara keseluruhan, penelitian Ressa menyoroti bahwa AI smartwatch tidak hanya memonitor kesehatan, tetapi juga membentuk cara orang berinteraksi dan memandang diri mereka sendiri. Dengan pertumbuhan pengguna yang terus meningkat, penting bagi pendidik, peneliti, dan pembuat kebijakan untuk memahami dampak jangka panjang dari teknologi ini pada identitas dan komunikasi generasi muda Indonesia.

WearableSmartwatchKecerdasan BuatanIdentitasGenerasiKomunikasiKesehatan

Komentar

Memuat komentar...