SMF Dorong Pabrik Singapura Buka Cabang di BBK Fokus Listrik
Gambar atau konten salah?
Federasi Manufaktur Singapura (SMF) mengajak lebih banyak produsen alat kesehatan dan elektronik untuk membuka cabang di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK), Provinsi Kepulauan Riau. Langkah ini sejalan dengan kebijakan Indonesia memfokuskan pembangunan kawasan industri baru guna memperkuat sektor manufaktur dan meningkatkan konektivitas pelabuhan antar kedua negara.
Menurut data, pada semester pertama tahun lalu, investasi asal Singapura di Batam mencapai S$ 617,3 juta atau Rp 8,08 triliun (kurs Rp 13.100). Angka tersebut mewakili 69 % dari total penanaman modal asing di kota tersebut. Investasi ini menegaskan posisi Singapura sebagai investor asing terbesar di Batam sejak 2023.
Selama seminar investasi kawasan yang diselenggarakan pada 24 Maret 2026, Wakil Presiden SMF Melvin Tan menekankan pentingnya memahami kondisi listrik di setiap wilayah. Ia mengatakan bahwa keandalan listrik berbeda di tiap daerah, sehingga pelaku usaha perlu mengevaluasi keterbatasan dan kebutuhan energi sebelum memulai investasi. Nasihat ini menyoroti faktor infrastruktur yang seringkali menjadi penghalang bagi ekspansi bisnis.
BBK terletak sekitar 40 hingga 90 menit perjalanan feri dari Singapura. Kawasan ini merupakan bagian dari Kepulauan Riau dan terikat dalam kerjasama ekonomi segitiga pertumbuhan Singapura‑Johor‑Riau, yang pertama kali diusulkan pada 1989 oleh mantan Wakil Perdana Menteri Singapura, Goh Chok Tong. Inisiatif tersebut menggabungkan keunggulan Singapura dalam manajemen, teknologi, dan infrastruktur dengan tenaga kerja, lahan, serta sumber daya alam dari Johor dan Kepulauan Riau. Konsep ini masih relevan, terutama dengan hadirnya Kawasan Ekonomi Khusus Johor‑Singapura.
BBK kini memiliki setidaknya lima kawasan ekonomi khusus yang menargetkan industri kesehatan, elektronik, dan penerbangan. Kawasan-kawasan ini menawarkan insentif pajak, kemudahan perizinan, serta infrastruktur lengkap untuk menarik investor asing. Perusahaan yang beroperasi di sana mencakup sektor manufaktur, logistik, teknologi informasi, dan pusat data.
Strategi “twinning” menjadi ciri khas kemitraan Singapura‑BBK. Dalam pendekatan ini, kantor pusat dan fasilitas riset ditempatkan di Singapura, sementara produksi skala besar dan operasi digital berlokasi di BBK. Keputusan ini didorong oleh biaya lahan, tenaga kerja, dan utilitas yang lebih efisien di wilayah tersebut.
Dengan kombinasi kebijakan fiskal, infrastruktur yang mendukung, dan kerjasama lintas negara, BBK menempatkan diri sebagai destinasi menarik bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan potensi pasar Indonesia sambil mengurangi biaya operasional. Keberhasilan investasi Singapura menunjukkan bahwa sinergi antara teknologi tinggi dan sumber daya lokal dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di kawasan ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nasabah Maybank: Reksa Dana Jatuh Tempo 2023 Belum Cair
IHSG Sentuh 6.300, Saham Konglomerat Jadi Motor
China Beri Peringkat Utang Tertinggi ke Indonesia
Sandwich Generation: 82,96% Rumah Tangga Masih Bergantung pada Lansia
Bank Mandiri Perkuat Keamanan Siber Digital
Menkeu Bantah Rumor S&P Turunkan Peringkat Indonesia
