Solo Rayakan Jumat Agung: Passio Menyentuh Hati Umat

Ayu W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Solo Rayakan Jumat Agung: Passio Menyentuh Hati Umat

Gambar atau konten salah?

Di kota Solo, persiapan menuju Paskah menandai Jumat Agung sebagai momen penting bagi umat Kristiani. Hari ini diperingati sebagai waktu untuk mengenang penderitaan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib.

Suasana ibadah pada Jumat Agung biasanya tenang, penuh penghayatan. Salah satu elemen utama adalah Passio, yaitu pembacaan khusus Injil yang menjadi bagian dari Liturgi Sabda. Menurut artikel jurnal Gending-gending Laras Slendro dalam Ibadah Jumat Agung di Gereja Pugeran yang ditulis oleh Veronica Vera Febrianti, Passio disampaikan melalui lantunan nyanyian sesuai ketentuan liturgi.

Peneliti Eramartina Saragih, dalam karya berjudul Membangun pastoral persaudaraan kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia seturut Fratelli Tutti, menjelaskan bahwa kata Passio berasal dari bahasa Latin yang memiliki dua arti: “cinta” dan “penderitaan”. Passio merujuk pada kisah perjalanan Yesus Kristus, mencakup penangkapan, pengadilan, hingga penyaliban. Di balik penderitaan itu, kisah ini mengajarkan tentang cinta dan kasih Yesus terhadap umat manusia.

Biasanya, Passio dibacakan dengan cara yang sangat emosional. Melalui nyanyian, umat dapat merasakan suasana hening dan reflektif. Tujuannya agar setiap orang lebih menghayati penderitaan dan memaknai pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus.

Tradisi Passio pada Jumat Agung melibatkan pembagian peran. Ada narrator yang memandu cerita, tokoh Yesus, serta karakter lain yang muncul dalam kisah tersebut. Di beberapa gereja, pembacaan ini dilantunkan untuk menambah kekhidmatan. Peran-peran ini membantu menciptakan suasana yang mendalam dan terfokus.

Passio telah dilangsungkan sejak lama dan menjadi bagian penting dalam Liturgi Sabda Jumat Agung. Setiap tahunnya, umat Kristiani mengikuti pembacaan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap kisah sengsara Yesus. Selain pembacaan Passio, ibadah Jumat Agung umumnya berjalan dalam suasana hening tanpa musik yang meriah. Hal ini memberi kesempatan bagi umat agar dapat lebih fokus memaknai ibadah.

Dengan demikian, Passio bukan sekadar bacaan, melainkan pengalaman spiritual yang mengajak umat untuk merenungkan penderitaan dan cinta Yesus. Tradisi ini tetap hidup, menjaga nilai-nilai refleksi dan penghormatan dalam perayaan Jumat Agung di Solo dan di banyak gereja lainnya.

Jumat AgungPassioLiturgi SabdaSoloPaskahGereja PugeranPenderitaan Yesus

Komentar

Memuat komentar...