SPMB SD Tanpa Tes Calistung, Fokus Asesmen Psikolog

Putri N. · 3 min baca · 9 hari lalu · 39 dibaca
Bisik.id
SPMB SD Tanpa Tes Calistung, Fokus Asesmen Psikolog

Gambar atau konten salah?

SPMB sedang berlangsung di Jakarta. Menurut Permendikdasmen Nomor 3 Tahun 2025, proses penerimaan murid baru SD tidak boleh mengandung tes calistung atau tes lain.

"Pakar pendidikan Bukik Setiawan menilai, sekolah memang tidak seharusnya melakukan tes seleksi apa pun dalam penerimaan siswa SD. Namun, yang lebih tepat adalah adanya asesmen kesiapan belajar oleh psikolog."

Asesmen psikolog bukan untuk menilai siapa yang lolos atau tidak, melainkan untuk memahami profil perkembangan anak. "Asesmen oleh psikolog juga bukan untuk melakukan filter yang lolos dan tidak lolos, tetapi memahami profil perkembangan anak supaya sekolah bisa mendukung secara tepat sejak hari pertama."

Fokus asesmen mencakup regulasi diri, perkembangan sosial‑emosional, bahasa dan komunikasi, serta kematangan motorik. Kemampuan membaca, menulis, berhitung tidak menjadi prasyarat masuk; itu akan diajarkan di SD. "Yang diukur mencakup kemampuan regulasi diri, perkembangan sosial‑emosional, kemampuan bahasa dan komunikasi, serta kematangan motorik. Kemampuan membaca, menulis, berhitung bukan prasyarat masuk‑itu justru yang akan dipelajari di SD," jelasnya saat dihubungi, ditulis Senin (25/5/2026).

Menurut Bukik, persiapan terpenting bukan les calistung, melainkan pengasuhan yang sensitif terhadap perkembangan anak secara menyeluruh—fisik, sosial, emosional, dan kognitif. "Bukik memaparkan, persiapan terpenting untuk masuk SD bukanlah les calistung, tetapi lebih kepada pengasuhan yang peka dengan perkembangan anak secara menyeluruh, baik dari aspek fisik, sosial, emosional, maupun kognitifnya."

Lingkungan yang memberi ruang bermain bebas sekaligus belajar bertanggung jawab sangat penting. Anak harus terbiasa berinteraksi, menghadapi konflik kecil, mendengar cerita, bercakap‑cakap, bertanya, dan mendapatkan jawaban serius. Gerak fisik dan tidur berkualitas juga menjadi bagian dari kesiapan. "Artinya, anak tumbuh dalam lingkungan yang memberinya ruang bermain bebas sekaligus belajar bertanggung jawab. Ia terbiasa berinteraksi dengan anak lain, menghadapi konflik kecil dan menyelesaikannya. Ia terbiasa mendengar cerita, bercakap‑cakap, bertanya dan dijawab dengan sungguh‑sungguh. Ia punya cukup gerak fisik dan tidur yang berkualitas," terang mantan Konsultan Teknis Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan era Kemendikbudristek itu.

Percepatan kognitif sering mengabaikan fondasi sosial‑emosional yang kuat. "Orang tua yang tergoda melakukan percepatan kognitif sering melewatkan hal yang justru lebih menentukan, (yakni) fondasi sosial‑emosional yang kuat adalah yang akan menentukan apakah anak tumbuh menjadi pelajar yang berdaya," lanjutnya.

Menurut Bukik, penerimaan murid baru seharusnya diurus oleh pemerintah daerah melalui dinas pendidikan, bukan oleh sekolah secara mandiri. "Orang Tua Perlu Menanyakan Ini Menurut Bukik, penerimaan murid baru untuk tingkat pendidikan dasar semestinya memang dilakukan pemerintah daerah melalui dinas pendidikan, bukan oleh sekolah secara mandiri."

Dengan urusan daerah, potensi diskriminasi dan seleksi berbasis kemampuan dapat diminimalkan. Sekolah tidak memiliki kewenangan mempertimbangkan kesiapan sebagai syarat masuk; pemda menyediakan asesmen psikolog. "Bukik menyebut, ketika penerimaan murid baru jadi urusan daerah, maka potensi diskriminasi dan seleksi berbasis kemampuan bisa diminimalkan. Sehingga, sekolah tidak punya kewenangan mempertimbangkan kesiapan sebagai syarat masuk, melainkan pemda menyediakan asesmen psikolog. Asesmen ini juga bukan sebagai alat seleksi, tetapi peta awal untuk menyesuaikan pendampingan."

Para orang tua harus bertanya: “Apakah anak saya sudah siap dengan tuntutan lingkungan yang terstruktur?” Kesiapan bukan soal pintar atau tidak, melainkan kematangan perkembangan secara menyeluruh. "Untuk orang tua, pertanyaan utamanya bukan, 'Apakah sekolah mau menerima?', tapi, 'Apakah anak saya sudah siap dengan tuntutan lingkungan yang terstruktur?', Kesiapan bukan soal pintar atau tidak. Ini soal kematangan perkembangan secara menyeluruh," tegasnya.

Proses penerimaan SD kini menekankan pengembangan anak secara holistik, mengurangi peran tes, dan memanfaatkan asesmen psikolog sebagai panduan pendampingan. Dengan pendekatan ini, diharapkan setiap anak mendapatkan ruang belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan mereka.

SPMBtes calistungasesmen psikologpengasuhan sensitifperkembangan sosial‑emosionalpemerintah daerahpendidikan dasar

Komentar

Memuat komentar...