SPPG Karangharjo Dihentikan, Keracunan MBG Diteliti
Gambar atau konten salah?
SPPG Karangharjo di Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, dihentikan sementara setelah muncul dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keputusan ini tercatat dalam surat BGN bernomor 1845/D.TWS/04/2026 tanggal 22 April 2026.
Surat tersebut menjelaskan bahwa hasil tinjauan lapangan menunjukkan SPPG Karangharjo belum memenuhi standar kelayakan. Temuan tersebut mencakup infrastruktur, sarana prasarana, hingga tata letak (layout) yang tidak sesuai petunjuk teknis BGN. BGN menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap kualitas produksi, mutu gizi, dan keamanan pangan.
Karena itu, operasional SPPG Karangharjo dihentikan sementara sejak surat diterbitkan. Penyaluran dana bantuan pemerintah untuk program tersebut juga direkomendasikan dihentikan sementara. BGN menegaskan bahwa penghentian operasional hanya dapat dicabut setelah pihak SPPG memenuhi seluruh persyaratan dan lolos verifikasi dari otoritas terkait.
Camat Kragan Nasaton Rofiq membenarkan penghentian sementara operasional SPPG Karangharjo. Ia menyebut pihak pengelola membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk memperbaiki sejumlah kekurangan.
"Iya benar, berhenti operasional sementara. Sampai 2 mingguan. Ada standar kelayakan dalam SPPG itu yang kurang pas. Apakah itu syarat kelayakan higienis atau IPAL-nya. Saya komunikasi sama SPPG tadi bilang butuh waktu dua minggu untuk memperbaiki apa yang dipersyratkan oleh BGN itu," terang Rofiq saat dimintai konfirmasi detikJateng hari ini.
Ia menambahkan, penghentian operasional kemungkinan berdampak pada penerima manfaat MBG di wilayah tersebut.
"Iya kemungkinan penerima manfaat juga ikut berhenti. Karena masing-masing SPPG tidak boleh melayani lebih dari tiga ribu. Dan rata-rata SPPG di Kragan sudah melayani hampir tiga ribu," sambungnya.
Di sisi lain, kondisi para siswa yang diduga terdampak keracunan mulai membaik. Kepala Puskesmas Kragan II dr. Arif Rahman Hakim mengatakan saat ini hanya tersisa satu pasien yang masih menjalani perawatan.
"Masih ada satu pasien yang dirawat karena demam, namanya Adhifa. Kondisinya sudah stabil, tanda-tanda vitalnya baik, hanya suhu tubuh yang masih kami pantau," jawab Arif saat ditanya detikJateng hari ini.
Ia menambahkan, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium.
"Hasil pemeriksaan sampel sisa makanan MBG dan muntahan pasien masih kami tunggu dari laboratorium. Perkiraan dua sampai tiga hari hasilnya keluar," pungkasnya.
Penghentian sementara ini menandai langkah tegas pemerintah daerah untuk menjaga keamanan dan kualitas gizi bagi masyarakat. Perbaikan yang dijanjikan dalam dua minggu diharapkan dapat memulihkan layanan SPPG dan melanjutkan distribusi MBG tanpa risiko keracunan lagi. Sementara itu, pasien yang masih dirawat terus dipantau ketat, menandakan proses penyelidikan masih berlangsung.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
