Staf IGD Faridah Utami Mati Akibat Kecelakaan Kereta Bekasi

Guntur P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 225 dibaca
Bisik.id
Staf IGD Faridah Utami Mati Akibat Kecelakaan Kereta Bekasi

Gambar atau konten salah?

Faridah Utami (50), staf IGD Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, meninggal dunia akibat kecelakaan kereta api Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Jenazahnya kemudian dibawa ke kampung halamannya di Boyolali dan dimakamkan pada 29 April 2026.

Ruang duka di Dukuh Beji RT 01 RW 01, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali menjadi tempat berkumpulnya ratusan warga. Mereka menaruh karangan bunga di tepi jalan Randusari‑Jatinom, termasuk bunga dari Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kemenkes RI. Almarhumah meninggalkan suami, tiga anak, dan dua cucu.

Ketika peti jenazah dimasukkan ke mobil ambulans, tangis histeris pecah. Jenazah dibawa ke tempat pemakaman di Astonoloyo Dukuh Kopen, pukul 11.00 WIB. Tempat pemakaman berjarak beberapa ratus meter dari rumah duka. Keluarga, tetangga, dan rekan kerja ikut mengantar jenazah ke makam.

Di sela pemakaman, Farid Rojab, kakak kandung korban, mengungkapkan: “Farida Hutami itu meninggal karena memang kecelakaan yang terjadi pada tanggal 27 April 2026 ya. Kecelakaan (KA) Argo (Bromo Anggrek) dengan KRL,” pada hari Rabu (29 April 2026). Ia menambahkan bahwa Faridah adalah anak keempat dari enam bersaudara.

Jenazah Faridah ditempatkan di samping makam ayahnya, Abdul Chajj, dan makam adiknya. Ia pernah menulis catatan bahwa adiknya sedang pulang setelah mudik menengok ibunya di Kopen, Teras, Boyolali saat kejadian.

Farid Rojab menceritakan perjalanan hari itu. Ia berada di KRL berbeda, pulang kerja. Saat sampai di daerah Tambun, ia mendapat pengumuman bahwa KRL Cikarang berikutnya akan di daerah Jatinegara. Pada pukul 21.00 WIB, ia mendengar kabar kecelakaan KRL. Ia memeriksa berita online, namun pada malam itu belum menemukan nama adiknya dalam daftar korban. Pagi berikutnya, sekitar pukul 03.30 WIB, ia bangun, menelpon adiknya berulang kali, namun tidak diangkat. Ia kemudian pergi ke RSCM untuk memeriksa keberadaan Faridah. Ketika tidak menemukan, ia menghubungi anak Faridah untuk memeriksa di Rumah Sakit Polri. Akhirnya, media massa menayangkan nama-nama korban KRL, termasuk nama Faridah Utami.

Setelah diberitahukan, jenazah Faridah dibawa ke RSCM, lalu diserahkan ke Boyolali untuk dimakamkan. Kegiatan pemakaman berlangsung pada 29 April 2026, sementara laporan media juga muncul pada 29 Juni 2026.

Insiden ini menegaskan kembali risiko kecelakaan kereta api di jalur utama. Keluarga dan rekan kerja menyalurkan dukungan emosional, sementara petugas medis memproses jenazah dengan prosedur standar. Momen ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak yang terlibat.

Keseluruhan peristiwa ini menyoroti bagaimana keluarga, masyarakat, dan tenaga medis bersatu dalam menghadapi tragedi. Kematian Faridah Utami menjadi contoh nyata betapa pentingnya keselamatan di jalur kereta api, sekaligus mengingatkan semua pihak akan tanggung jawab bersama untuk menjaga keselamatan publik.

Faridah Utamikecelakaan kereta apiArgo Bromo AnggrekKRL Bekasi TimurRumah Sakit Cipto MangunkusumoBoyolalipemakaman

Komentar

Memuat komentar...