Stasiun Medan: Jejak Rel Kolonial Mendukung Ekonomi Tembakau
Gambar atau konten salah?
Stasiun Kereta Api Medan berdiri tepat di depan Lapangan Merdeka, menjadi saksi bisu sejarah kolonial Belanda yang masih hidup di kota ini hingga kini.
Di era kolonial, Belanda membangun jalur kereta api khusus untuk mengangkut tembakau Deli, komoditas utama yang menjadi andalan ekspor. Jalur ini tidak hanya memudahkan distribusi, tetapi juga mempercepat pergerakan hasil perkebunan dari pedalaman menuju pelabuhan.
Transportasi kereta api di Medan itu pada dasarnya lahir dari kebutuhan ekonomi kolonial. Komoditas utama saat itu adalah tembakau Deli, sehingga diperlukan sarana distribusi yang cepat dan efisien dari perkebunan menuju pelabuhan. Dari situlah kemudian dibangun jalur rel yang menghubungkan titik-titik produksi, kata Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU), Kiki Maulana Affandi, pada 29 April 2026.
Menurutnya, pembangunan jalur dimulai pada 01 January 1883, seiring berkembangnya industri tembakau di wilayah Deli. Pada tahap awal, jalur menghubungkan Medan, Labuhan Deli, hingga Deli Tua dengan panjang sekitar 53 kilometer. Jalur ini menjadi fondasi awal jaringan rel di Sumatera Timur.
Perusahaan perkebunan besar turut berperan, melahirkan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM), sebuah perusahaan kereta api swasta yang menjadi salah satu yang terbesar di luar Pulau Jawa. Deli Spoorweg Maatschappij ini dikelola oleh para pengusaha perkebunan yang memiliki kepentingan langsung terhadap distribusi hasil produksi mereka. Jadi memang sejak awal orientasinya adalah ekonomi, bukan pelayanan publik seperti sekarang, ungkapnya.
Seiring pesatnya industri tembakau, jaringan rel terus diperluas. Pada 01 January 1937, panjang jalur mencapai sekitar 553 kilometer dan menghubungkan berbagai kota penting di Sumatera Utara. Kalau kita lihat perkembangannya, jalur ini tidak hanya menghubungkan Medan saja, tapi juga meluas ke Binjai, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Kisaran, sampai Rantau Prapat. Ini menunjukkan bagaimana kereta api menjadi tulang punggung distribusi ekonomi di kawasan pantai timur Sumatera, tambahnya.
Catatan sejarah menguatkan hal tersebut. Jurnal berjudul History of Railways Medan (1886-1942) (2018) oleh akademisi Universitas Riau—Haston Ranap Erwin, Ridwan Melay, dan Bunari—menyebut pembangunan jalur ini erat kaitannya dengan perusahaan perkebunan Deli Maatschappij yang berdiri sejak 01 January 1866. Dorongan pembangunan rel juga datang dari manajemen perusahaan yang melihat pesatnya pertumbuhan bisnis tembakau saat itu.
Proyek perkebunan Belanda dialihkan dari Deli Maatschappij ke DSM pada 01 January 1883. Pada tahun yang sama, pembangunan jalur rel mulai direalisasikan, termasuk jalur Medan-Labuhan yang resmi beroperasi pada 25 July 1886. Selanjutnya, pemerintah kolonial membuka cabang jalur ke berbagai wilayah seperti Serdang, Perbaungan, hingga Serdang Hulu, dengan total jaringan mencapai 63 mil yang selesai pada 01 January 1889.
Ketika perkebunan mulai dibuka ke arah selatan, maka jalur kereta api juga ikut mengikuti arah ekspansi tersebut. Artinya, rel kereta itu benar-benar mengikuti kebutuhan industri perkebunan, terang Kiki. Ia menegaskan bahwa keberadaan kereta api pada masa itu bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga simbol modernitas yang turut membentuk perkembangan Kota Medan.
Kereta api itu menjadi bagian dari modernisasi kota. Ia tidak hanya mengangkut barang, tapi juga menghubungkan wilayah, membentuk peta-peta ekonomi baru, dan secara tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan kota Medan hingga seperti sekarang, ujarnya.
Hingga kini, sebagian besar jalur rel dan stasiun yang masih aktif di Sumatera Utara tetap menjadi peninggalan masa Hindia Belanda dan masih dimanfaatkan sebagai sarana transportasi utama masyarakat. Sejarah kereta api di Medan tidak hanya tentang transportasi, tetapi juga tentang bagaimana infrastruktur kolonial membentuk wajah ekonomi dan tata ruang kota yang masih bertahan hingga saat ini.
Dengan demikian, jejak sejarah kereta api Medan tetap terasa, menandai peran pentingnya dalam perkembangan ekonomi dan modernisasi kota sejak masa kolonial hingga masa kini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
