Stevia Lebih Baik daripada Sirup Agave untuk Gula Darah
Gambar atau konten salah?
Menjaga kadar gula darah tetap stabil menjadi kunci bagi kesehatan tubuh. Gula yang masuk ke dalam darah berasal dari makanan dan minuman yang kita konsumsi, terutama karbohidrat. Selama proses pencernaan, karbohidrat dipecah menjadi glukosa, lalu diserap dan dibawa ke seluruh sel tubuh melalui aliran darah.
Selain berasal dari luar, tubuh manusia juga dapat memproduksi gula darah sendiri. Hati, misalnya, menyimpan glikogen dan melepaskannya ke dalam aliran darah ketika tubuh membutuhkan energi, seperti saat puasa atau tidak makan dalam waktu lama. Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menimbulkan komplikasi serius, sehingga penting untuk menjaga agar tetap berada dalam batas normal.
Para ahli menekankan pentingnya menghindari gula pasir dan menggantinya dengan pemanis alami. Mereka menyarankan dua pilihan utama: sirup agave dan stevia. Informasi ini didapatkan dari prevention.com pada 27 Maret 2024.
Sirup agave berasal dari tanaman sukulen agave yang tumbuh di Meksiko. Nektar ini populer sebagai pengganti gula atau madu karena rasanya 1,5 kali lebih manis dan teksturnya lebih encer. Selain itu, sirup agave sering dipakai sebagai pemanis vegan dalam berbagai makanan dan minuman.
Menurut Courtnet Pelitera, MS, RDN, sirup agave memiliki indeks glikemik (IG) sangat rendah, rata-rata hanya sekitar 20. Artinya, tubuh memprosesnya lebih lambat dibandingkan gula pasir, sehingga dampaknya terhadap kadar gula darah lebih kecil. Sebaliknya, gula pasir memiliki IG sekitar 80, yang berarti tubuh memprosesnya lebih cepat.
Perbedaan utama terletak pada komposisi. Sirup agave mengandung sekitar 80 % fruktosa dan 20 % glukosa, sedangkan gula pasir memiliki perbandingan 50 % fruktosa dan 50 % glukosa. Molekul fruktosa harus dimetabolisme terlebih dahulu di hati, yang mengurangi lonjakan kadar gula darah, jelas Antik Shahm, MD.
Stevia, di sisi lain, diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana. Pemanis ini memiliki kalori nol dan tidak mengandung karbohidrat, sehingga cocok bagi penderita diabetes. Penelitian juga menunjukkan bahwa stevia dapat menurunkan kadar glukosa darah dan tekanan darah tinggi pada penderita diabetes.
Namun, rasanya cenderung berbeda dari gula biasa. Jika tidak diolah dengan baik, stevia dapat menimbulkan rasa pahit yang mungkin tidak disukai oleh sebagian orang. Meskipun dianggap aman sebagai pengganti gula bagi penderita diabetes, asupan stevia tetap perlu dibatasi. Food and Drug Administration (FDA) menetapkan batas maksimal penggunaan harian stevia sebesar 4 mg per kilogram berat badan.
Menurut Dr. Shah, pemanis alami seperti madu, sirup agave, atau stevia tidak lebih sehat secara inheren. Namun, jika digunakan dalam jumlah sedang, mereka dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Stevia memiliki indeks glikemik nol, tidak meningkatkan kadar gula darah, serta bebas kalori dan karbohidrat. Sementara sirup agave tetap memiliki indeks glikemik, meskipun rendah, sehingga dapat menyebabkan kenaikan gula darah jika dikonsumsi berlebihan.
Untuk menjaga gula darah tetap stabil, lebih baik menggunakan stevia. Sirup agave tetap dapat dipakai, tetapi jumlahnya harus sangat terbatas agar tidak mengganggu kontrol gula darah.
Dengan memahami perbedaan antara pemanis alami ini, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam memilih pemanis yang sesuai dengan kondisi kesehatan mereka. Pilihan yang bijak, terutama bagi penderita diabetes, dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap dalam batas normal dan mencegah komplikasi jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
